Di Tengah Krisis Regenerasi Petani, Sumpah Pemuda Harus Dimaknai Ulang

Selasa, 28 Oktober 2025 - 15:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Abd Halim, Ketua Petani Millenial Sumenep

Foto. Abd Halim, Ketua Petani Millenial Sumenep

SUMENEP, nusainsider.com — Di tengah semangat peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Ketua Petani Milenial, Abd Halim, mengingatkan pentingnya menegakkan kembali kedaulatan pangan sebagai amanat kebangsaan yang tak boleh dilupakan generasi muda Indonesia.

Menurutnya, bangsa ini kini menghadapi tantangan serius di sektor pangan. Krisis regenerasi petani yang kian dalam, minimnya minat generasi muda terhadap pertanian, serta derasnya arus urbanisasi menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan pangan nasional.

“Banyak pemuda desa memilih meninggalkan sawah dan kebun, lalu merantau ke kota. Mereka mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan, sementara lahan-lahan pertanian dibiarkan terbengkalai,” ujar Abd Halim.

Ia menegaskan, fenomena tersebut bukan lagi sekadar persoalan sosial ekonomi, tetapi ancaman nyata terhadap kedaulatan pangan, yakni kemampuan bangsa untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dari hasil produksi sendiri.

“Kedaulatan pangan bukan hanya soal memenuhi perut, tetapi juga soal kekuatan dan martabat bangsa,” tegasnya.

Abd Halim menilai, isu kedaulatan pangan sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda 1928 yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Baca Juga :  Dukung Program Swasembada Pangan, Kapolres Sumenep Hadiri Panen Raya Padi Musim Tanam Ke-3

Bagi dia, semangat itu mengandung makna kemandirian dan kesatuan dalam menjaga kehormatan bangsa melalui kemandirian pangan.

“Bung Karno pernah berpesan, soal pangan adalah soal hidup dan matinya bangsa. Maka menjaga pangan sama halnya dengan menjaga masa depan Indonesia,” tuturnya.

Menurut Halim, krisis regenerasi petani kini mencapai titik mengkhawatirkan. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa usia rata-rata petani di Indonesia telah melewati 50 tahun, sementara minat anak muda untuk menjadi petani terus menurun drastis.

Baca Juga :  Pemusnahan Rokok Ilegal oleh Bea Cukai Sidoarjo Dipuji, Tapi ALARM Minta Langkah Nyata

Ia mengingatkan, jika situasi ini dibiarkan, Indonesia akan semakin bergantung pada impor bahan pangan. Padahal, ketergantungan tersebut dapat melemahkan kedaulatan ekonomi dan politik bangsa.

“Pemuda hari ini adalah pewaris sah cita-cita Sumpah Pemuda. Tetapi kalau mereka terus meninggalkan desa dan pertanian, siapa yang akan menjamin ketersediaan pangan bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia?” ujarnya retoris.

Abd Halim menekankan, sudah saatnya generasi muda memaknai ulang semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar melalui simbol dan seremoni, tetapi melalui tindakan konkret untuk kembali menghidupkan pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai tulang punggung bangsa.

“Bangsa yang besar bukan hanya yang bisa memproduksi teknologi atau karya seni, tapi juga yang mampu menghasilkan pangan sendiri tanpa bergantung pada negara lain,” tandasnya.

Ia juga menyerukan agar pemerintah memberikan ruang dan dukungan lebih besar bagi petani muda melalui akses lahan, teknologi pertanian modern, dan pembiayaan usaha tani yang ramah milenial.

“Pemuda harus melihat pertanian sebagai sektor strategis yang menjanjikan, bukan sebagai pekerjaan kuno. Kita bisa membangun pertanian cerdas dengan teknologi digital, Internet of Things, dan inovasi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Abd Halim mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk meneguhkan kembali semangat Sumpah Pemuda dengan menanam, merawat, dan menjaga bumi pertiwi melalui pangan yang mandiri dan berdaulat.

“Menanam hari ini adalah bentuk nyata mencintai tanah air. Sebab tanpa pangan, tidak ada masa depan bangsa,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Menyapa Madrasah dari Hal Sederhana, Jurnalis Sapudi Salurkan Bantuan AMDK
Pemulihan BBM di Bali Dipercepat, 108 Mobil Tangki dan 465 Awak Disiagakan
LUKW Unitomo dan IJTI Dorong Profesionalisme Wartawan Lewat Uji Kompetensi di Surabaya
Mukernas TDA 9.0 di Surabaya, Himpun 500 Pengurus dari 119 Daerah
Hadapi Era Digital, Ning Lia Dorong Mahasiswa Miliki Karakter dan Integritas
Kementan RI Apresiasi Sumenep atas Keberhasilan Program Pertanian UPLAND
Santri dan Mahasiswa Belajar Jurnalistik, LensaMadura.com Buka Ruang Literasi
Dinkes P2KB Sumenep dan Puskesmas Dasuk Bersinergi Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Desa

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:14 WIB

Menyapa Madrasah dari Hal Sederhana, Jurnalis Sapudi Salurkan Bantuan AMDK

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Pemulihan BBM di Bali Dipercepat, 108 Mobil Tangki dan 465 Awak Disiagakan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:07 WIB

LUKW Unitomo dan IJTI Dorong Profesionalisme Wartawan Lewat Uji Kompetensi di Surabaya

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Mukernas TDA 9.0 di Surabaya, Himpun 500 Pengurus dari 119 Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:34 WIB

Hadapi Era Digital, Ning Lia Dorong Mahasiswa Miliki Karakter dan Integritas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 02:37 WIB

Santri dan Mahasiswa Belajar Jurnalistik, LensaMadura.com Buka Ruang Literasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Dinkes P2KB Sumenep dan Puskesmas Dasuk Bersinergi Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Desa

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Dari Pantai Slopeng, Khofifah Indar Parawansa Dorong Potensi Maritim Sumenep dan Kesejahteraan Nelayan

Berita Terbaru