SUMENEP, nusainsider.com — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dilaporkan mengalami penurunan sekitar 70 persen hingga akhir September 2026.
Penurunan tersebut dinilai tidak lepas dari penguatan edukasi kesehatan, sosialisasi pencegahan, serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep terus mengintensifkan upaya pencegahan dan penanganan ISPA dengan melibatkan petugas Puskesmas, kader kesehatan, pemerintah desa, hingga masyarakat.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, Ellya Fardasyah, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Samsuri, mengatakan penurunan kasus ISPA merupakan hasil dari berbagai langkah pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Kasus ISPA saat ini dapat ditekan hingga menurun sekitar 70 persen,” kata Samsuri, Selasa (13/10/2026).
Menurut Samsuri, salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kewaspadaan melalui surat edaran kepada seluruh Puskesmas.
Petugas kesehatan kemudian menindaklanjuti kebijakan tersebut dengan memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya ISPA, gejala yang perlu diwaspadai, serta langkah-langkah penanggulangannya.
Penyuluhan dilakukan melalui berbagai saluran agar informasi kesehatan dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat desa. Petugas kesehatan dan bidan desa memanfaatkan kegiatan Posyandu, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), serta pelayanan Puskesmas keliling untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan.
Selain penyuluhan secara langsung, pemasangan poster dan stiker turut dilakukan sebagai sarana penyebaran informasi. Sejumlah Puskesmas juga mengembangkan inovasi edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah kerja masing-masing.
Salah satu program yang dijalankan adalah Sempol, singkatan dari Petugas Kesehatan Hadir dalam Setiap Kumpulan. Melalui program ini, tenaga kesehatan mendatangi kegiatan atau perkumpulan warga untuk memberikan penjelasan mengenai pencegahan penyakit dan pentingnya mengenali gejala ISPA sejak dini.
Pemanfaatan media sosial oleh masing-masing Puskesmas juga menjadi strategi untuk memperluas jangkauan informasi kesehatan. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat memperoleh edukasi tanpa harus menunggu kegiatan penyuluhan tatap muka.
Samsuri menambahkan, upaya menekan kasus ISPA tidak hanya dilakukan melalui edukasi, tetapi juga melalui pelayanan dan perawatan terhadap penderita. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga didukung oleh kesadaran masyarakat.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kondisi cuaca panas dan angin kencang yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Meski demikian, ISPA merupakan kelompok penyakit dengan penyebab yang beragam sehingga pencegahan dan penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing penderita.
Dinkes P2KB Sumenep berharap penyuluhan yang dilakukan secara masif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan pernapasan, mendorong pemeriksaan ketika gejala muncul, serta memperkuat kewaspadaan terhadap potensi penularan.
Meski angka kasus dilaporkan menurun, konsistensi edukasi dan pelayanan kesehatan tetap diperlukan agar masyarakat tidak lengah. Dengan keterlibatan seluruh pihak, upaya pengendalian ISPA di Kabupaten Sumenep diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
![]()
Penulis : Wafa
















