Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Fauzi As Pengamat Kebijakan Publik kota Keris

Foto. Fauzi As Pengamat Kebijakan Publik kota Keris

OPINI, nusainsider.com — Jika menyebut nama orang dengan dugaan adalah racun berbungkus madu, maka menyebut nama dengan fakta adalah jamu bermerk susu.

Masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi – kita kelebihan kebisingan. Dan di tengah bising itu, muncul satu jenis pelaku baru: bukan perampok jalanan, tapi perampok persepsi.

Dulu, kita mengenal Edi Junaidi sebagai perampok nasabah bank. Polanya sederhana, nyaris primitif: mengintai korban, menunggu lengah, memecah kaca, mengambil uang. Tertangkap. Dilumpuhkan. Dicatat dalam berita kriminal. Lalu selesai.

Itu perampok yang jujur pada profesinya.
Tidak pura-pura suci. Tidak bersembunyi di balik kata-kata.

Sekarang, kita berhadapan dengan jenis yang lebih modern. Ia tidak memecah kaca – ia memecah logika publik.

Ia tidak mengambil uang dari mobil – ia mengambil ketenangan dari kepala orang agar keluar uang.

Dan semua itu dilakukan dengan satu alat: narasi yang dipoles seolah fakta.
Salah satu trik paling klasik adalah menjual sesuatu dengan label “baru”.
Kabar baru.
Opini baru.
Fakta baru.

Padahal kalau dibedah, yang disajikan sering kali hanyalah daur ulang dari bangkai informasi – data lama, potongan cerita, serpihan isu yang sudah lama berserakan di Google seperti sampah digital.

Dikumpulkan.
Dipoles.
Dibungkus ulang.
Lalu dilempar ke publik seolah-olah itu temuan segar yang mengguncang.

Padahal bukan mengguncang – hanya mengganggu.

Baca Juga :  Kapolres Sumenep dan Karutan Kelas IIB Pererat Koordinasi Jaga Stabilitas Keamanan

Dan yang lebih berbahaya, ketika topik yang diangkat menyentuh hal sensitif seperti industri rokok rakyat di Madura- pita cukai, distribusi, hingga isu-isu gelap yang mudah sekali memancing kecurigaan.

Di sinilah akal sehat benar-benar diuji.
Karena ada yang dengan enteng menulis soal pita cukai – nama dan angka-angka disebut, harga dikutip, perbandingan dibuat – tapi melesetnya bukan sedikit.

Bukan salah hitung – tapi salah kelas.
Bukan selisih tipis – tapi bisa puluhan kali lipat.

Ini bukan sekadar kekeliruan teknis.
Ini seperti orang membahas laut tapi tidak tahu bedanya asin dan tawar.

Namun anehnya, dengan kepercayaan diri penuh, tulisan seperti itu tetap dilempar ke publik. Diulang. Diproduksi hampir setiap hari. Seolah-olah semakin sering ditulis, maka semakin benar.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya:
semakin sering diulang, semakin terlihat ketidaktahuannya.

Lebih jauh lagi, muncul pola yang tidak kalah menarik – setiap hari ada saja tulisan yang mengaitkan rokok ilegal dengan berbagai tudingan besar, disusun dengan gaya investigatif, disertai nama-nama, seolah semuanya sudah terang benderang.

Padahal publik yang sedikit saja mau berpikir akan bertanya:

mana datanya?

mana pembuktiannya?

mana keseimbangannya?

Atau jangan-jangan, ini bukan soal membuka kebenaran melainkan soal menciptakan tekanan?

Karena pola seperti ini terlalu mirip dengan metode lama: cari target, bangun narasi, ulang terus, lalu tunggu reaksi.

Baca Juga :  Dari Olahraga hingga Kolaborasi, Tujuh Organisasi Kesehatan Gelar Fun Run di Sumenep

Kalau dulu menunggu korban lengah di parkiran, sekarang menunggu korban panik di ruang publik.

Bedanya cuma satu: yang lama pakai linggis, yang baru pakai keyboard.

Dan ironinya semakin dalam ketika kita ingat satu hal sederhana: banyak dari mereka yang hari ini paling nyaring berbicara tentang bau busuk tembakau – lahir dari lingkungan yang sama.

Dari tanah yang sama. Dari keluarga yang sama-sama pernah hidup dari bau tembakau itu sendiri.

Keringat ayahnya mungkin pernah mengering di ladang. Tangan ibunya mungkin pernah lengket oleh daun tembakau yang dijemur di bawah matahari.

Tapi ketika sudah memegang kendali narasi, yang muncul bukan rasa hormat – melainkan jarak dan penghakiman.

Seolah lupa dari mana ia berasal.
Seolah lupa bahwa industri yang ia bicarakan bukan sekadar angka – tapi napas hidup ribuan orang.

Di titik ini, kita perlu mengingatkan dengan sangat tegas:

jangan ada Edi Junaidi yang lain.
Cukup satu Edi Junaidi – yang tercatat sebagai perampok nasabah bank.
Yang kesalahannya nyata,
yang modusnya jelas,
yang tidak bersembunyi di balik istilah mulia.

Karena jika nama itu mulai menjelma dalam bentuk baru – lebih rapi, lebih bersih, tapi lebih manipulatif – maka kita sedang menyaksikan evolusi kejahatan yang jauh lebih berbahaya.

Seseorang bisa saja lahir pada hari Jumat- hari yang dianggap penuh berkah, penuh kebaikan.

Baca Juga :  Inovasi Digital Tak Harus dari Kota, Rumah Desa Hebat Tuai Pujian Ning Lia

Tapi hari lahir tidak pernah menjamin isi kepala. Edi Junaidi bisa lahir di hari terbaik,
tapi tetap memilih jalan yang paling buruk.

Karena yang menentukan bukan tanggal – melainkan cara menggunakan kuasa.
Dan menulis, sekali lagi, adalah kuasa.
Ia bisa menjadi cahaya,
atau menjadi alat paling halus untuk merampas uang.

Maka untuk siapa pun yang hari ini gemar menjual “kabar baru” dari bahan lama, yang gemar memainkan angka tanpa dasar, yang gemar menyusun tudingan tanpa keseimbangan – ingat satu hal:
publik mungkin bisa dibingungkan hari ini,
tapi tidak selamanya.

Dan di tanah seperti Madura, ada satu hal yang tidak mudah dihapus:
ingatan.

Maka jika ada yang memaksakan gaya perampokan model baru ini – dengan narasi, dengan tekanan, dengan permainan opini.

Jangan kaget jika suatu saat, bukan lagi tulisannya yang dibaca, melainkan namanya yang dibuka.

Ditelanjangi oleh fakta.

Dikembalikan ke asalnya. Dan dikenang bukan sebagai pembawa kabar, melainkan sebagai seseorang yang pernah mencoba merampok dengan cara paling halus – merampok lewat kata-kata.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak butuh banyak kalimat untuk menghakimi.
Cukup satu: yang satu memecah kaca,
yang satu memecah kebenaran – keduanya tetap perampok.

Dan kecanggihan teknologi telah “mencatat dengan sempurna” jejak seorang bernama Edi Junaidi.

(Episode I)

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut
Dari Bawang Mentah Jadi Produk Rp200 Ribu, Disbudporapar Sumenep Dorong Santri Jadi Entrepreneur
Aksi Mahasiswa Sambut dan Tolak Panglima TNI di Sumenep Dikabarkan Batal, Aktivis: Tunggu Kepastian
Warga Langsar Krisis Air Sejak Juli, Pemkab Sumenep Gandeng BAZNAS dan TNI Gelontorkan 1,2Liter Air Bersih
Krisis Air di Desa Olor, Mahasiswa UTM Gelar Aksi Sosial Selama Tiga Hari
Promosi Wisata Sumenep Masuk Era Digital, Duta Wisata Diminta Lebih Kreatif
Milad ke-60, KOHATI Sumenep Gelar Simposium dan Launching Buku Isu Perlindungan Perempuan
HUT ke-81 TNI, Dandim Pamekasan Tegaskan Kemanunggalan dengan Rakyat

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Dari Bawang Mentah Jadi Produk Rp200 Ribu, Disbudporapar Sumenep Dorong Santri Jadi Entrepreneur

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:59 WIB

Aksi Mahasiswa Sambut dan Tolak Panglima TNI di Sumenep Dikabarkan Batal, Aktivis: Tunggu Kepastian

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Warga Langsar Krisis Air Sejak Juli, Pemkab Sumenep Gandeng BAZNAS dan TNI Gelontorkan 1,2Liter Air Bersih

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Krisis Air di Desa Olor, Mahasiswa UTM Gelar Aksi Sosial Selama Tiga Hari

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Milad ke-60, KOHATI Sumenep Gelar Simposium dan Launching Buku Isu Perlindungan Perempuan

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:35 WIB

HUT ke-81 TNI, Dandim Pamekasan Tegaskan Kemanunggalan dengan Rakyat

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:32 WIB

Kenang Jasa Pahlawan, Kodim 0827/Sumenep Gelar Ziarah Jelang HUT TNI ke-81

Berita Terbaru