Jasa Sedot WC di Sumenep Diduga Lakukan Pungli, Pondok Pesantren Diminta Bayar Rp 6 Juta

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi.

Foto. Ilustrasi.

SUMENEP, nusainsider.com Layanan sedot WC di Kabupaten Sumenep kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah pondok pesantren mengaku ditarik biaya tidak wajar hingga mencapai Rp 6 juta untuk satu tangki penyedotan.

Kasus ini viral lantaran sebelumnya pondok pesantren putra di tempat yang sama hanya membayar sekitar Rp 350 ribu pada Mei 2025 lalu dengan jasa, nomor, dan orang yang sama.

Perbedaan tarif yang sangat mencolok itu membuat para pengasuh dan santri terkejut sekaligus bingung. Pasalnya, pada penyedotan sebelumnya, oknum penyedia jasa mengaku berasal dari instansi negeri. Namun pada penyedotan terbaru, oknum tersebut mengaku sebagai jasa swasta.

Salah satu pengasuh berinisial NR tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat pihak jasa menyampaikan total sedot Tinja/kotoran dimintai biaya mencapai Rp 6 juta.

Iya saya terkejut mas, padahal hanya jeda sekitar 7 bulan dari sedot WC di asrama putra,” ujarnya kepada ini, Rabu 10 Desember 2025.

Menurut NR, para santri sudah menyiapkan dana sesuai tarif sebelumnya, yaitu sekitar Rp 350 ribu. Namun mereka kaget ketika oknum penyedia jasa menyebut tarif terbaru jauh lebih mahal karena diklaim sebagai tarif jasa swasta.

Saya kasihan mas, bingung juga kenapa biayanya tidak sama. Ketika ditanya, pihak jasa bilang yang dulu itu tarif negeri, dan sekarang mahal karena swasta,” tambahnya.

NR (inisial) menilai praktik tersebut berpotensi mencoreng nama pemerintah daerah karena oknum tersebut sempat mengaku sebagai pihak resmi. Ia meminta pemerintah daerah segera turun tangan melakukan evaluasi.

Ini harus dievaluasi pemerintah. Kami menduga ada tindakan ilegal dan pungli. Pihak berwenang harus melakukan kunjungan dan menindak jika ada penipuan atau pemerasan,” tegasnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sumenep, Deddy, memastikan bahwa mobil sedot WC yang datang ke pesantren bukan milik pemerintah daerah.

Bukan mas, itu bukan dari Pemda (red. PUTR). Kalau dari PUTR, kita mengikuti Perda, dan yang paling mahal hanya Rp 1.750.000 untuk septic tank ukuran >6 m3 sampai 7,999 m3, belum termasuk biaya transportasi,” jelasnya melalui pesan WhatsApp, Rabu 10 Desember 2025.

Deddy sapaan akrabnya menambahkan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan mengatur tarif jasa sedot WC swasta, namun ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada satu pun jasa swasta yang membuang limbah tinja ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) milik pemerintah.

Swasta boleh buang ke IPLT kami, tapi sampai sekarang belum ada yang masuk,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kapasitas satu tangki penyedotan umumnya sekitar 4 meter kubik. Bila menggunakan tarif pemerintah, biayanya hanya sekitar Rp 700 ribu.

Satu tangki sekitar 4 m3, dan kalau negeri biayanya sekitar 700 ribu,” tambahnya.

Lebih jauh, ia memastikan bahwa kendaraan yang digunakan oknum tersebut bukan kendaraan plat merah milik PUTR, “Tutupnya.

Baca Juga :  Usai Apel Pagi, Disdik Sumenep Sambut Sang Juara DB Laskar Harmoni Panditu

Hingga berita ini diterbitkan, pewarta masih berupaya melakukan konfirmasi kepada penyedia jasa sedot WC swasta yang diduga menarik tarif tidak wajar tersebut guna dimintai klarifikasi.

Pihak pesantren berharap pihak terkait juga memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaan tarif ekstrem dalam jeda waktu yang relatif singkat.

Jika dugaan penipuan dan pemerasan benar terbukti, aparat penegak hukum (APH) diminta segera turun tangan. Perilaku yang merugikan masyarakat tersebut dapat dijerat dengan:

  • Pasal 378 KUHP / Pasal 492 UU 1/2023 tentang penipuan
  • Pasal 368 KUHP tentang pemerasan
Baca Juga :  Kemenhub dan PT Pelni Diminta Tegas, Sanus 74 Dinilai Rugikan Penumpang

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat menggunakan jasa sedot WC, terutama yang tidak memiliki identitas resmi atau tidak transparan dalam penentuan tarif.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Kemendikdasmen Soroti Inovasi Pendidikan Situbondo, EduFest Dinilai Salah Satu Terbaik
HIMPASS Bedah Wacana “Kabupaten Kepulauan Sumenep”, Soroti Dampaknya bagi Keadilan Pembangunan
Kolaborasi Ning Lia, GAS Pemuda dan Senyum Sehat Indonesia, 200 Warga Kutisari Terima Bantuan
Selamat Jalan Mbah Hosen, Ikon Kesetiaan di Tribun Madura United
Pimpin AAI 2026–2031, Prof. Tjandra: Tidak Ada Lagi Sekat di Antara Kita
Piala AF Sport U-17 Digelar Oktober, Bupati Fauzi Bidik Lahirnya Bibit Pemain Profesional
KSOP Kelas IV Kalianget Perkuat Sinergi dan Kepedulian Sosial di Momentum Harhubnas 2026
28 Pejabat Sumenep Dilantik, Wabup Imam Hasyim: Birokrasi Jangan Berbelit-belit!

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 21:32 WIB

Kemendikdasmen Soroti Inovasi Pendidikan Situbondo, EduFest Dinilai Salah Satu Terbaik

Sabtu, 19 September 2026 - 16:35 WIB

HIMPASS Bedah Wacana “Kabupaten Kepulauan Sumenep”, Soroti Dampaknya bagi Keadilan Pembangunan

Sabtu, 19 September 2026 - 14:32 WIB

Kolaborasi Ning Lia, GAS Pemuda dan Senyum Sehat Indonesia, 200 Warga Kutisari Terima Bantuan

Sabtu, 19 September 2026 - 12:17 WIB

Selamat Jalan Mbah Hosen, Ikon Kesetiaan di Tribun Madura United

Sabtu, 19 September 2026 - 10:29 WIB

Pimpin AAI 2026–2031, Prof. Tjandra: Tidak Ada Lagi Sekat di Antara Kita

Jumat, 18 September 2026 - 23:10 WIB

KSOP Kelas IV Kalianget Perkuat Sinergi dan Kepedulian Sosial di Momentum Harhubnas 2026

Jumat, 18 September 2026 - 12:26 WIB

28 Pejabat Sumenep Dilantik, Wabup Imam Hasyim: Birokrasi Jangan Berbelit-belit!

Jumat, 18 September 2026 - 10:46 WIB

Bukan Sekadar Olahraga, Ning Lia Bawa Pesan Inklusivitas di Safe Workout BPJS Ketenagakerjaan

Berita Terbaru