Ning Lia Makin Rajin Sambangi Madura, Dari Temui Kiai hingga Bongkar Luka Pascakonflik

Selasa, 1 September 2026 - 14:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Anggota DPD/MPR RI, Dr Lia Istifhama, S.Sos.i.,M.E.I

Foto. Anggota DPD/MPR RI, Dr Lia Istifhama, S.Sos.i.,M.E.I

SUMENEP, nusainsider.com — Datang ke Madura saat reses mungkin hal biasa bagi seorang anggota parlemen. Namun, apa yang dilakukan Lia Istifhama atau Ning Lia sepanjang 2026 tampaknya lebih dari sekadar menjalankan agenda formal.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur itu tercatat cukup intens menyambangi empat kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Hampir setiap bulan terdapat agenda yang mempertemukan Ning Lia dengan masyarakat Madura. Bukan hanya pejabat atau pemangku kebijakan, tetapi juga pemuda, aktivis, jurnalis, pengusaha, kiai, hingga ulama.

Polanya pun beragam, mulai dari reses dan penyerapan aspirasi, kegiatan sosial, forum intelektual, hingga kegiatan kebudayaan.

Intensitas tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi dengan masyarakat daerah pemilihan tidak hanya dilakukan ketika agenda politik mengharuskannya.

Salah satu momentum terbaru berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sekitar pukul 10.26 WIB, Ning Lia menghadiri bedah buku Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca-konflik Etnik karya Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., di ruang VIP Rumah Makan Bebek Sinjay Baru, Madura.

Baca Juga :  Sering Membohongi Publik, Aktivis ALARM Segel Kantor Diskoperindag Sumenep

Forum tersebut dihadiri sejumlah kiai, pejabat, dan pengusaha. Pembahasan buku kemudian berkembang menjadi percakapan mengenai perjalanan masyarakat diaspora Madura serta bagaimana mereka membangun kembali kehidupan sosial setelah mengalami konflik.

Buku tersebut menyoroti tiga hal utama, yakni kemampuan bangkit dari pengalaman traumatis, strategi membangun sumber daya manusia dan melawan stereotip etnik, serta transformasi peran diaspora Madura dalam kehidupan sosial dan politik.

Bagi Ning Lia, gagasan tersebut menarik karena tidak berhenti pada cerita mengenai konflik, tetapi melihat apa yang terjadi setelah kekerasan berakhir.

Ia menilai fase pascakonflik justru menjadi bagian penting yang sering luput dari perhatian.

“Konflik selalu menarik perhatian ketika darah masih mengalir. Setelah kekerasan berhenti dan masyarakat mulai menata kembali kehidupannya, perhatian pun perlahan menghilang. Seolah-olah sejarah berakhir ketika senjata diletakkan,” kata Ning Lia.

Menurutnya, setelah konflik berhenti, masyarakat menghadapi pekerjaan yang tidak kalah berat, yakni membangun kembali kepercayaan dan hubungan sosial.

Pandangan itu sejalan dengan gagasan peacebuilding John Paul Lederach yang menempatkan pemulihan relasi sosial sebagai bagian penting dari proses membangun perdamaian.

Baca Juga :  Kapolres Sumenep Hadiri Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Tahun 2024

Hal serupa juga terlihat dalam pemikiran Ashutosh Varshney mengenai pentingnya jejaring masyarakat sipil lintas etnik untuk mencegah munculnya kembali konflik.

Dalam konteks masyarakat Madura, Ning Lia melihat pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan forum lintas kelompok dapat menjadi ruang untuk menjaga komunikasi sekaligus membangun kepercayaan.

Menurutnya, perdamaian tidak cukup berhenti pada slogan toleransi. Hubungan sosial yang terus dirawat menjadi fondasi agar masyarakat dapat hidup berdampingan secara lebih kuat.

Meski memberikan apresiasi terhadap buku tersebut, Ning Lia mengaku belum ingin memberikan penilaian lebih jauh sebelum membaca keseluruhan isinya secara mendalam.

“Melihat optimisme buku ini, saya kira saya perlu membaca secara detail terlebih dahulu sebelum banyak berkomentar,” ujarnya.

Kehadiran Ning Lia dalam forum tersebut sekaligus memperlihatkan pola komunikasinya selama berada di Madura.

Ia tidak hanya bertumpu pada forum resmi. Berbagai pertemuan dengan masyarakat menjadi ruang untuk mendengar langsung persoalan daerah.

Pemuda menyampaikan gagasan dan keresahan. Aktivis membawa isu sosial. Jurnalis berbicara mengenai dinamika daerah. Pengusaha menyampaikan persoalan ekonomi. Sementara kiai dan ulama menjadi bagian penting dalam komunikasi sosial-keagamaan.

Baca Juga :  Wow! MCF 2026 Bakal Libatkan 38 Kabupaten/Kota se-Jatim, Sumenep Jadi Tuan Rumah Pemersatu Budaya

Bagi seorang anggota DPD RI, pola komunikasi tersebut memiliki arti strategis. Aspirasi yang diperoleh dari masyarakat menjadi bagian dari pemahaman terhadap persoalan daerah sebelum dibawa ke tingkat nasional.

Sebab, fungsi representasi tidak semata dijalankan di ruang sidang parlemen.

Seorang wakil daerah juga dituntut memahami secara langsung kondisi masyarakat yang diwakilinya.

Dari Sumenep hingga Bangkalan, rangkaian kunjungan Ning Lia sepanjang 2026 akhirnya membentuk satu benang merah: menjaga komunikasi dengan Madura.

Reses memang menjadi salah satu pintunya. Namun forum kebudayaan, diskusi intelektual, kegiatan sosial, serta pertemuan dengan berbagai kelompok masyarakat membuka ruang dialog yang lebih luas.

Di tengah tuntutan agar wakil rakyat tidak berjarak dengan konstituennya, intensitas Ning Lia menyambangi Madura menjadi catatan tersendiri.

Bukan sekadar soal seberapa sering seorang senator datang ke daerah, tetapi sejauh mana setiap perjumpaan mampu membuka ruang dialog, menyerap aspirasi, dan membawa suara masyarakat Jawa Timur ke tingkat nasional.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Kementan RI Apresiasi Sumenep atas Keberhasilan Program Pertanian UPLAND
Santri dan Mahasiswa Belajar Jurnalistik, LensaMadura.com Buka Ruang Literasi
Dinkes P2KB Sumenep dan Puskesmas Dasuk Bersinergi Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Desa
Dari Pantai Slopeng, Khofifah Indar Parawansa Dorong Potensi Maritim Sumenep dan Kesejahteraan Nelayan
KEN 2026, Sumenep Padukan Kemegahan Musik Tongtong dengan Sejarah Arya Wiraraja
Dinkes Sumenep Perluas Edukasi Kesehatan, Kasus ISPA Dilaporkan Turun 70 Persen
Dua Jawara Kerapan Sapi Sumenep Melaju ke Piala Presiden, Target Haji Udik Jelas: Juara!
FIKOM Unitomo Siapkan Mahasiswa Hadapi Krisis Informasi melalui Kolaborasi dengan PERHUMAS

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 06:22 WIB

Kementan RI Apresiasi Sumenep atas Keberhasilan Program Pertanian UPLAND

Kamis, 15 Oktober 2026 - 02:37 WIB

Santri dan Mahasiswa Belajar Jurnalistik, LensaMadura.com Buka Ruang Literasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Dinkes P2KB Sumenep dan Puskesmas Dasuk Bersinergi Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Desa

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Dari Pantai Slopeng, Khofifah Indar Parawansa Dorong Potensi Maritim Sumenep dan Kesejahteraan Nelayan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:53 WIB

KEN 2026, Sumenep Padukan Kemegahan Musik Tongtong dengan Sejarah Arya Wiraraja

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Dua Jawara Kerapan Sapi Sumenep Melaju ke Piala Presiden, Target Haji Udik Jelas: Juara!

Rabu, 14 Oktober 2026 - 05:43 WIB

FIKOM Unitomo Siapkan Mahasiswa Hadapi Krisis Informasi melalui Kolaborasi dengan PERHUMAS

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:47 WIB

Dorong Pelayanan Posyandu Berkualitas, Kader di Pragaan Laok Ikuti Supervisi Fasilitatif

Berita Terbaru