SAMPANG, nusainsider.com — Pulau Madura dikenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) melimpah.
Komoditas unggulan seperti tembakau, garam, hingga potensi minyak dan gas (migas) selama ini menjadi penopang ekonomi daerah. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, Madura masih dihadapkan pada persoalan klasik yang belum kunjung terselesaikan, yakni tingginya angka kemiskinan.
Persoalan tersebut menjadi fokus pembahasan dalam seminar bertajuk “Roadmap Kesejahteraan di Madura: Dari Transformasi Pendidikan hingga Pengembangan Potensi Daerah“ yang diselenggarakan oleh Visi Politik (Vispol) Indonesia di Hotel Bahagia, Kabupaten Sampang, Minggu (2/8/2026).
Seminar itu dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, pejabat daerah, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh perempuan, pemuda, hingga kalangan petani.
Forum tersebut menjadi ruang diskusi untuk merumuskan strategi pembangunan yang dinilai lebih tepat sasaran dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura.
Dua narasumber utama hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Direktur Vispol Indonesia Misbahul Munir Ali, S.H., M.H., serta Pemimpin Redaksi Klik Madura sekaligus penulis buku Merajut Mimpi Madura Provinsi, Prengki Wirananda, S.Kel., M.Si. Keduanya memaparkan hasil analisis mengenai berbagai faktor yang selama ini menghambat optimalisasi potensi ekonomi Madura.
Direktur Vispol Indonesia, Misbahul Munir Ali, menegaskan bahwa persoalan utama Madura bukanlah kekurangan sumber daya alam. Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan mengelola potensi tersebut agar mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Sampang masih mencatat angka kemiskinan sekitar 20,6 persen, menjadikannya sebagai kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur dan termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Menurut Misbah, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan alam tidak secara otomatis mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat apabila tidak didukung kualitas sumber daya manusia yang memadai.
“Pendidikan menjadi fondasi utama. Masyarakat harus mampu mengenali, mengelola, sekaligus mengembangkan potensi daerahnya agar memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas agar masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menciptakan produk bernilai ekonomi tinggi melalui inovasi dan penguasaan teknologi.
Selain penguatan sumber daya manusia, Misbah juga menyoroti pentingnya hilirisasi terhadap komoditas unggulan Madura, khususnya tembakau dan garam.
Selama ini, hasil produksi petani lebih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan.
Menurutnya, apabila proses pengolahan dilakukan di Madura, maka manfaat ekonomi akan jauh lebih besar karena mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat daya saing daerah.
Sementara itu, Prengki Wirananda menilai bahwa penyusunan roadmap kesejahteraan Madura harus dimulai dengan pemetaan potensi yang dimiliki masing-masing kabupaten. Setiap daerah, menurutnya, memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan strategi pembangunan yang tidak bisa disamaratakan.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan proyek-proyek strategis yang sesuai dengan potensi lokal dan didukung pengembangan pendidikan vokasi agar menghasilkan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan daerah.
Prengki juga menyoroti persoalan yang masih dihadapi petani tembakau di Madura. Salah satu kendala utama, katanya, adalah minimnya pemahaman petani mengenai standar kualitas hasil panen.
Kondisi tersebut menyebabkan posisi tawar petani dalam rantai perdagangan menjadi lemah karena harga lebih banyak ditentukan oleh tengkulak maupun pembeli dari luar daerah.
“Ketika petani memahami standar kualitas, mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat karena mengetahui nilai produknya sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendidikan akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Oleh sebab itu, pendidikan tidak hanya dipahami dalam konteks sekolah formal, tetapi juga sebagai proses peningkatan keterampilan masyarakat sesuai potensi ekonomi lokal.
Prengki juga mendorong lahirnya program pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan sektor unggulan di Madura. Dengan demikian, lulusan pendidikan vokasi maupun perguruan tinggi dapat langsung terserap dalam sektor-sektor strategis yang berkembang di daerahnya sendiri.
Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan petani, akademisi, pejabat daerah, tokoh masyarakat, serta kalangan pemuda.
Berbagai masukan yang disampaikan peserta memperlihatkan adanya kesamaan pandangan bahwa persoalan kemiskinan di Madura merupakan persoalan multidimensi yang membutuhkan penyelesaian secara menyeluruh.
Para peserta sepakat bahwa pembangunan pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemetaan potensi daerah, pembangunan proyek strategis, serta hilirisasi komoditas unggulan harus berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.
Seminar yang digagas Vispol Indonesia itu diharapkan menjadi salah satu langkah awal dalam merumuskan arah pembangunan Madura yang lebih berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Dengan strategi yang terintegrasi, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Pulau Garam tidak lagi hanya menjadi potensi di atas kertas, melainkan mampu diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Madura.
![]()
Penulis : Wafa
















