Jalan Umum Ditolak, Toko Miras Dibiarkan: Sikap RW 12 Dipertanyakan

Kamis, 17 Juli 2025 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Banner Penolakan Warga RW 12 Griya Shanta Malang Jawa Timur.

Foto. Banner Penolakan Warga RW 12 Griya Shanta Malang Jawa Timur.

MALANG, nusainsider.com Integritas Ketua RW 12 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tengah dipertanyakan publik.

Pasalnya, ia (red. Ketua RW 12) dan warganya menolak pembangunan jalan tembus namun justru membiarkan toko minuman beralkohol berdiri di wilayah tersebut.

Penolakan jalan tembus dilakukan dengan masif, termasuk pemasangan spanduk dan pernyataan sikap. Namun terhadap keberadaan toko miras, Ketua RW dan warga tidak menunjukkan keberatan serupa. Hal ini dinilai kontradiktif.

Pemerintah Kota Malang menyebut bahwa pembangunan jalan tembus dimaksudkan untuk mengurai kemacetan di kawasan Jalan Soekarno Hatta.

Jalan itu akan menjadi solusi jangka panjang untuk mobilitas warga dan pertumbuhan kawasan.

Namun, alih-alih mendukung kepentingan publik, Ketua RW 12 justru menjadi pihak yang paling lantang menolak rencana tersebut. Sebaliknya, tidak ada tindakan serupa terhadap toko minuman beralkohol yang berada di lingkungan permukiman mereka.

Baca Juga :  Pengusiran PKL di Belakang Kampus UINSA, Ketua JSI Turun Tangan Beri Pemahaman ke Petugas

Alfiansyah (34), warga setempat, menyayangkan sikap selektif warga dan Ketua RW dalam menyikapi persoalan di lingkungannya.

“Mereka memasang spanduk besar-besar menolak jalan tembus demi kenyamanan sendiri, tapi membiarkan toko miras beroperasi. Ini ironis,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (17/7).

Menurutnya, seharusnya penolakan juga berlaku untuk toko miras karena dampaknya jauh lebih serius terhadap moral dan keamanan lingkungan, terutama anak-anak dan remaja.

“Kalau mau konsisten, harusnya juga pasang spanduk besar ‘Tolak Toko Miras’, bukan hanya untuk jalan,” tegasnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi atau langkah penolakan dari Ketua RW 12 terhadap keberadaan toko minuman beralkohol tersebut. Padahal, keberadaan toko itu diduga melanggar aturan yang berlaku.

Baca Juga :  Sholawat Bergema di Bumi Aswaja, Haul Ke-15 Dihadiri Tokoh Jatim dan DPD RI Ning Lia

Berdasarkan Perda Kota Malang No. 4 Tahun 2020 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol, pasal 8 ayat (2) menyebutkan, lokasi penjualan miras harus berjarak minimal 500 meter dari tempat ibadah, sekolah, dan rumah sakit.

Sementara itu, toko minuman beralkohol yang dimaksud diketahui berdiri kurang dari 500 meter dari Rumah Sakit Permata Bunda dan RS Universitas Brawijaya.

Jaraknya juga masih dalam radius 500 meter dari Masjid Ramadhan, SMPN 18 Kota Malang, dan TK Anak Sholeh.

Selain masalah jarak, Perda tersebut juga mengamanatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol. Artinya, RW sebagai representasi masyarakat seharusnya mengambil peran penting dalam hal ini.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketua RW 12 dinilai pasif dan tidak menunjukkan kepedulian terhadap potensi pelanggaran hukum dan bahaya sosial akibat toko miras di wilayahnya.

Baca Juga :  Libatkan Kaum Perempuan Saat Reses, Politisi PKB Dorong Peningkatan UMKM

Warga lain, yang enggan disebut namanya, menyebut bahwa keberadaan toko tersebut telah berlangsung beberapa waktu dan menjadi pembicaraan diam-diam di lingkungan mereka.

“Sikap Ketua RW sangat disayangkan. Untuk jalan umum yang jelas manfaatnya ditolak habis-habisan, tapi toko miras yang jelas berbahaya dibiarkan,” ucapnya.

Ia menambahkan, pembiaran semacam ini bisa mencoreng nama baik lingkungan dan memperburuk citra RW 12 sebagai wilayah yang tidak peduli terhadap aturan dan dampak sosial.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi dari Ketua RW 12 Mojolangu terkait alasan tidak adanya tindakan terhadap toko minuman beralkohol tersebut.

Loading

Penulis : Dre

Berita Terkait

“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda
Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep
NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU
Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat
KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa
PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah
Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern
Membeli Sama dengan Berbagi, Central 88 Gold and Jewellery Dedikasikan Hasil Usaha untuk Yatim

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:54 WIB

“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:36 WIB

Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:42 WIB

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:18 WIB

Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:29 WIB

PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:28 WIB

Membeli Sama dengan Berbagi, Central 88 Gold and Jewellery Dedikasikan Hasil Usaha untuk Yatim

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:22 WIB

Ning Lia Dinilai Inspiratif, Raih Penghargaan Leadership dan Community Empowerment

Berita Terbaru