SUMENEP, nusainsider.com — Upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan terus dilakukan Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep. Salah satunya melalui kegiatan Pembinaan Mata Pencaharian Alternatif (MPA) yang digelar di Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Selasa (4/11/2025).
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur, dengan tujuan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan usaha produktif berbasis hasil perikanan.

Acara yang dipusatkan di Balai Desa Dapenda, tepatnya di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih, dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perikanan Sumenep, Agustiono Sulasno.
Ia menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai langkah nyata pemberdayaan masyarakat nelayan.
Sebanyak 50 peserta yang merupakan keluarga nelayan mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Mereka mendapatkan pembinaan dan pelatihan intensif untuk meningkatkan keterampilan serta pemahaman dalam mengembangkan usaha alternatif di luar aktivitas melaut.
Menurut Agus sapaan akrabnya, pembinaan ini dirancang agar keluarga nelayan memiliki sumber pendapatan tambahan yang berkelanjutan, tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut yang bersifat musiman dan penuh ketidakpastian.
“Kami berharap peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, mempraktikkan keterampilan yang diperoleh, serta memanfaatkan bantuan sarana yang diberikan untuk mengembangkan usaha produktif yang bermanfaat bagi keluarga,” ujarnya dalam sambutan.
Lebih lanjut ia menyampaikan, melalui program ini diharapkan muncul unit usaha baru di tingkat rumah tangga, terutama di bidang pengolahan hasil perikanan, yang pada akhirnya mampu membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat sejumlah materi pembekalan yang meliputi potensi sumber daya perikanan yang dapat dikembangkan, strategi permodalan, pemasaran produk, hingga motivasi berusaha agar peserta mampu membangun semangat wirausaha yang tangguh.
Selain teori, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan abon ikan, yang menjadi keterampilan utama dalam kegiatan pelatihan.
Produk olahan ini dipilih karena memiliki nilai tambah tinggi serta prospek pasar yang cukup menjanjikan di berbagai wilayah.
Para peserta belajar mengolah ikan menjadi produk siap jual dengan proses higienis dan cita rasa yang khas. Pelatihan ini juga mencakup cara pengemasan dan strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran.
Sebagai bentuk dukungan lanjutan, pemerintah turut menyalurkan bantuan sarana pengolahan abon ikan kepada kelompok peserta. Bantuan tersebut berupa alat-alat produksi seperti wajan, kompor, timbangan, dan mesin pengemasan yang dapat langsung dimanfaatkan setelah pelatihan selesai.
Agustiono berharap bantuan ini dapat menjadi stimulan agar peserta benar-benar mengimplementasikan keterampilan yang telah diperoleh, bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial semata.
“Kami ingin kegiatan ini berdampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, ke depan pihaknya akan terus melakukan pendampingan kepada kelompok peserta melalui penyuluh perikanan dan tenaga teknis agar usaha yang dirintis benar-benar berkembang dan berkelanjutan.
Program MPA di Desa Dapenda ini, lanjutnya, juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendukung kemandirian pangan dan ekonomi biru, di mana sektor perikanan tidak hanya fokus pada penangkapan, tetapi juga pengolahan dan inovasi produk turunan.
Sementara itu, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu agenda prioritas untuk memperkuat kapasitas masyarakat nelayan di berbagai daerah pesisir Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Sumenep.
“Kami ingin agar setiap desa pesisir mampu mengembangkan potensi lokalnya secara mandiri, dengan basis ekonomi yang kuat dan berdaya saing,” ungkap salah satu narasumber dalam sesi pembinaan.
Kegiatan yang berlangsung sehari penuh itu mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari teori hingga praktik pengolahan ikan menjadi abon siap jual.
Salah seorang peserta, Siti Aminah, mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan tersebut.
Ia berharap ke depan bisa memproduksi abon ikan sendiri bersama kelompoknya untuk dijual di pasar lokal maupun online.
“Kami senang sekali karena bisa belajar langsung dan mendapat bantuan alat. Ini membuka peluang besar bagi kami untuk menambah penghasilan keluarga,” ujarnya dengan semangat.
Melalui kegiatan pembinaan ini, pemerintah berharap tercipta ekosistem usaha mikro di kalangan keluarga nelayan yang mampu menggerakkan ekonomi pesisir, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan terhadap aktivitas melaut.
Selain itu, produk olahan seperti abon ikan diharapkan dapat menjadi ikon unggulan Desa Dapenda, sekaligus memperkuat branding Kampung Nelayan Merah Putih sebagai wilayah pesisir produktif yang mandiri dan inovatif.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, provinsi, dan masyarakat nelayan, Dinas Perikanan Sumenep optimistis program ini akan membawa dampak jangka panjang terhadap peningkatan ekonomi pesisir dan pemberdayaan masyarakat lokal.
![]()
Penulis : Wafa

















