UHC Sumenep Jadi Sorotan, Puskesmas Batuan Diduga Tak Sejalan dengan Imbauan Bupati Fauzi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Suryadi Syah (Kanan), Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo (Kiri)

Foto. Suryadi Syah (Kanan), Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo (Kiri)

SUMENEP, nusainsider.com — Komitmen Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam memberikan jaminan pelayanan kesehatan gratis melalui program Universal Health Coverage (UHC) kembali menjadi sorotan.

Seorang warga asal kepulauan yang berdomisili di daratan mengaku mengalami kendala saat hendak memanfaatkan layanan UHC di Puskesmas Batuan, Kecamatan Batuan.

Warga tersebut mengaku diminta menunggu sekitar dua hari sebelum dapat menggunakan layanan UHC. Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan mengenai implementasi program UHC di tingkat pelayanan kesehatan dasar.

Suryadi, orang tua pasien, mengaku datang ke Puskesmas Batuan pada Kamis (13/8/2026) untuk membawa anaknya mendapatkan pemeriksaan kesehatan, termasuk keluhan pada bagian gigi.

Namun, saat melakukan proses pendaftaran, Suryadi mengaku mendapatkan informasi dari petugas resepsionis bahwa layanan UHC belum dapat digunakan pada hari tersebut dan dirinya diminta menunggu sekitar dua hari.

Menurut Suryadi, informasi tersebut disampaikan petugas dengan alasan adanya imbauan dari Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Batuan.

“Saya terkejut, karena setahu saya kalau UHC itu bisa langsung digunakan di hari yang sama,” ujar Suryadi.

Ia mengaku selama ini memahami UHC sebagai program pemerintah daerah yang bertujuan memberikan kemudahan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang telah memenuhi ketentuan kepesertaan.

Baca Juga :  Bayi Terluka Ditemukan di Gang Trunojoyo, Polisi Selidiki Kasus Secara Humanis

Karena itu, dirinya berharap persoalan administrasi maupun mekanisme pelayanan UHC tidak justru membuat masyarakat kebingungan ketika sedang membutuhkan layanan kesehatan.

Sorotan tersebut menjadi semakin kuat jika dikaitkan dengan semangat awal program UHC yang pernah disampaikan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo.

Saat peluncuran program UHC pada akhir Oktober 2022 lalu, Bupati Fauzi menegaskan bahwa masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan cukup menunjukkan KTP elektronik kepada petugas.

“Jadi, kalau masyarakat sakit dan masuk puskesmas, tinggal tunjukkan e-KTP,” kata Bupati Fauzi saat launching UHC akhir Oktober, sebagaimana dikutip Media MataMadura pada 23 November 2022.

Kala itu, Bupati Fauzi juga berharap seluruh pihak, terutama tenaga kesehatan yang berada di lini depan, dapat mendukung pelaksanaan program tersebut.

Menurutnya, keberadaan UHC diharapkan mampu menghilangkan kekhawatiran masyarakat ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, khususnya persoalan biaya.

“Dan melalui program ini, maka tidak ada lagi warga yang tertolak di puskesmas atau di rumah sakit karena tidak punya biaya, karena semuanya sudah gratis,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari semangat awal pemerintah daerah dalam menghadirkan akses kesehatan yang lebih mudah bagi masyarakat Sumenep.

Baca Juga :  Puskesmas Batang-Batang Lakukan Pencegahan Penyakit DBD Melalui Upaya Preventif Ini

Namun, pengalaman yang disampaikan Suryadi di Puskesmas Batuan menunjukkan masih adanya persoalan di lapangan yang perlu mendapat perhatian.

Persoalan tersebut juga perlu dilihat secara utuh, mengingat pelayanan UHC tidak hanya berkaitan dengan tersedianya anggaran, tetapi juga menyangkut status kepesertaan, proses administrasi, mekanisme aktivasi, serta koordinasi antara pemerintah daerah, BPJS Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, adanya warga yang mengaku harus menunggu dua hari sebelum dapat menggunakan layanan UHC perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

Bagi masyarakat, program jaminan kesehatan akan benar-benar dirasakan manfaatnya ketika proses pelayanan dapat diakses dengan mudah, cepat dan memiliki prosedur yang jelas.

Apalagi, masyarakat yang datang ke puskesmas pada umumnya berada dalam kondisi membutuhkan pelayanan kesehatan. Ketidakjelasan mengenai prosedur dapat menambah kebingungan, terutama bagi warga yang menganggap UHC dapat langsung digunakan ketika membutuhkan pengobatan.

Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memastikan adanya keseragaman informasi di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani peserta UHC.

Kejelasan mengenai kapan layanan dapat digunakan, bagaimana mekanisme aktivasi kepesertaan, hingga siapa yang harus dihubungi ketika terjadi kendala administrasi menjadi hal penting yang perlu diketahui masyarakat.

Baca Juga :  Dukungan Nyata vs Gift Misterius, Publik Pertanyakan Keadilan di DA7 Indosiar

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan juga memiliki posisi strategis dalam memastikan kebijakan UHC tidak berhenti pada tataran program, tetapi benar-benar hadir dalam pelayanan sehari-hari.

Polemik yang muncul di Puskesmas Batuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan UHC tidak semata-mata diukur dari jumlah warga yang tercakup dalam program maupun besarnya anggaran yang disiapkan pemerintah.

Lebih dari itu, keberhasilan UHC juga dapat dilihat dari pengalaman masyarakat ketika datang dan membutuhkan pelayanan kesehatan.

Harapan Bupati Fauzi agar tidak ada lagi warga Sumenep yang tertolak karena persoalan biaya menjadi pekerjaan bersama. Pemerintah daerah, BPJS Kesehatan, puskesmas dan masyarakat perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai mekanisme pelayanan UHC.

Jika masih terdapat kendala terkait kepesertaan atau aktivasi, masyarakat tentu membutuhkan informasi yang transparan serta solusi yang cepat.

Dengan begitu, semangat UHC untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang mudah dan terjangkau tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat Sumenep, termasuk warga di Kecamatan Batuan.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut
Dari Bawang Mentah Jadi Produk Rp200 Ribu, Disbudporapar Sumenep Dorong Santri Jadi Entrepreneur
Aksi Mahasiswa Sambut dan Tolak Panglima TNI di Sumenep Dikabarkan Batal, Aktivis: Tunggu Kepastian
Warga Langsar Krisis Air Sejak Juli, Pemkab Sumenep Gandeng BAZNAS dan TNI Gelontorkan 1,2Liter Air Bersih
Krisis Air di Desa Olor, Mahasiswa UTM Gelar Aksi Sosial Selama Tiga Hari
Promosi Wisata Sumenep Masuk Era Digital, Duta Wisata Diminta Lebih Kreatif
Milad ke-60, KOHATI Sumenep Gelar Simposium dan Launching Buku Isu Perlindungan Perempuan
HUT ke-81 TNI, Dandim Pamekasan Tegaskan Kemanunggalan dengan Rakyat

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Dari Bawang Mentah Jadi Produk Rp200 Ribu, Disbudporapar Sumenep Dorong Santri Jadi Entrepreneur

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:59 WIB

Aksi Mahasiswa Sambut dan Tolak Panglima TNI di Sumenep Dikabarkan Batal, Aktivis: Tunggu Kepastian

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Warga Langsar Krisis Air Sejak Juli, Pemkab Sumenep Gandeng BAZNAS dan TNI Gelontorkan 1,2Liter Air Bersih

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Krisis Air di Desa Olor, Mahasiswa UTM Gelar Aksi Sosial Selama Tiga Hari

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Milad ke-60, KOHATI Sumenep Gelar Simposium dan Launching Buku Isu Perlindungan Perempuan

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:35 WIB

HUT ke-81 TNI, Dandim Pamekasan Tegaskan Kemanunggalan dengan Rakyat

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:32 WIB

Kenang Jasa Pahlawan, Kodim 0827/Sumenep Gelar Ziarah Jelang HUT TNI ke-81

Berita Terbaru