SUMENEP, nusainsider.com — Di tengah perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 pada 17 Agustus 2026, nama Mohammad Mahrus, pemuda asal Ambunten Timur, mencuri perhatian setelah dipercaya mengemban tugas sebagai Komandan Pasukan.
Kepercayaan ini menjadi buah dari perjalanan panjangnya menempa jiwa kepemimpinan dan kedisiplinan sejak masih berseragam putih abu-abu. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Akuntansi UNIBA Madura angkatan 2023.
Jejak Mohammad Mahrus dalam dunia baris-berbaris dan kepemimpinan bukanlah hal baru. Sejak duduk di bangku SMAN 1 Ambunten, ia telah aktif dalam gerakan Pramuka, yang menempa jiwa kemandirian dan kedisiplinannya sejak dini. Semangat kebangsaannya semakin terasah saat ia bergabung dengan Paskibra SMAN 1 Ambunten, tempat ia pertama kali mengenal ketegasan gerak dan kecintaan terhadap simbol-simbol negara.
Perjalanan itu tidak berhenti di bangku sekolah. Memasuki dunia perkuliahan, Mohammad Mahrus tercatat sebagai anggota Paskibra Universitas KH. Bahaudin Mudhary Madura (Uniba Madura) sejak tahun 2023, memperkuat rekam jejaknya sebagai sosok yang konsisten mengabdikan diri pada nilai-nilai kedisiplinan dan nasionalisme, di tengah kesibukannya menempuh studi di Program Studi Akuntansi.
“Menjadi Komandan Pasukan di momen HUT RI ini adalah kehormatan besar buat saya. Ini bentuk rasa syukur atas semua pengalaman yang saya dapatkan sejak Pramuka dan Paskibra di SMA, hingga akhirnya bisa terus aktif di Paskibra kampus. Semangat kebangsaan yang saya bawa sejak dulu harus terus dijaga, di mana pun dan kapan pun,” ujar Mahrus.
Bagi Mohammad Mahrus, kepercayaan menjadi Komandan Pasukan bukan sekadar tugas seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kebangsaan yang telah ia pegang sejak menjadi anggota Pramuka dan Paskibra di kampung halamannya.
Dedikasi yang terus terjaga sejak masa sekolah hingga kini menjadi bukti nyata bahwa proses panjang di dunia kepanduan dan baris-berbaris mampu membentuk sosok pemimpin pasukan yang tangguh, bahkan di tengah tanggung jawabnya sebagai mahasiswa aktif.
Menurut Mahrus, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa jiwa kepemimpinan dan nasionalisme tidak lahir instan, melainkan hasil proses panjang yang ia tempa sejak bangku sekolah hingga kini di bangku kuliah.
![]()
Penulis : Wafa
















