Bedah Buku Alumni PMII di Jombang, Muhaimin Dorong Gerakan Selamatkan NU

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOMBANG, nusainsider.com Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) didorong tidak sekadar menjadi penonton dalam dinamika Nahdlatul Ulama (NU). Mereka dinilai memiliki posisi strategis untuk ikut menentukan arah perubahan dan kepemimpinan NU ke depan.

Seruan tersebut mengemuka dalam bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Salam Hall Denanyar, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan, pertemuan alumni PMII dalam momentum Muktamar memiliki arti strategis. Menurutnya, alumni harus mengambil peran nyata dalam proses perbaikan organisasi.

Gus Muhaimin bahkan menyebut agenda besar yang perlu menjadi perhatian bersama adalah upaya menyelamatkan NU dari kondisi yang menurutnya mengalami kemunduran selama lima tahun terakhir.

“Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” ujar Muhaimin.

Ia menilai keberanian mengakui persoalan menjadi langkah awal untuk melakukan pembenahan. Karena itu, kader dan alumni PMII diminta tidak menutup mata terhadap berbagai dinamika yang terjadi di tubuh NU.

“NU harus kita akui, jujur, terburuk. Kejujuran itu sebagai bagian dari konsekuensi untuk kita melakukan apa di dalam menolong keterpurukan itu,” katanya.

Muhaimin mengaku prihatin melihat dinamika internal NU dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, konflik kepentingan dan perebutan sumber daya berpotensi menggerus marwah organisasi.

“Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak alumni PMII yang memiliki posisi dan hak dalam proses Muktamar untuk menggunakan pengaruhnya dalam mendorong perubahan.

Menurut Muhaimin, keberhasilan Ikatan Alumni PMII tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan. Lebih jauh, alumni harus mampu memberikan warna dalam pengambilan keputusan strategis NU.

Ketua Umum PB IKA PMII periode 2025–2030, Drs. H. Fathan Subchi, M.A.P., CIISA, ChFA, mengatakan buku tersebut menjadi upaya merekam gagasan dan cita-cita alumni PMII yang kini berkiprah di berbagai bidang.

Baca Juga :  RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Gelar Gebyar 3M, Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Pasien

Buku itu melibatkan hampir 100 alumni PMII dari beragam latar belakang. Sebanyak 44 orang di antaranya turut menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam buku tersebut.

Menurut Fathan, keberagaman latar belakang penulis menjadi kekuatan tersendiri. Alumni yang bergerak di masyarakat sipil, mendampingi petani, berkecimpung dalam dunia usaha, akademisi, maupun politik memiliki perspektif berbeda tentang masa depan NU dan bangsa.

“Kalau di Mesir kan, minal fikroh ilal harokah. Dari ideologi menuju gerakan. Saya kira kita bisa kembangkan, dari ideologi, dari ide, dari manifesto, dari gagasan menuju kepemimpinan,” ujar Fathan.

Ia mengajak alumni PMII melihat kembali tujuan akhir dari seluruh proses kaderisasi dan perjalanan gerakan. Kekuasaan maupun kewenangan yang diperoleh alumni, kata dia, tidak boleh berhenti sebagai pencapaian personal.

Sebaliknya, posisi tersebut harus dikonversikan menjadi kebijakan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII Dr. M. Sholeh Basyari mengatakan, buku tersebut tidak hanya mendokumentasikan perjalanan alumni PMII, tetapi juga menawarkan perspektif mengenai model kepemimpinan yang lahir dari tradisi pergerakan.

Menurut Sholeh, gagasan buku berangkat dari dinamika politik lima tahun terakhir yang diwarnai ketegangan, friksi, dan perbedaan kepentingan. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan alternatif kepemimpinan yang mampu menjadi jalan keluar.

“Buku ini menyodorkan alternatif leadership yang kami tawarkan kepada publik Indonesia. Inilah kami, wahai Indonesia. Kami punya sistem kepemimpinan yang khas, berjenjang, dan memiliki karakter tersendiri,” kata Sholeh.

Ia mengungkapkan, proses penyusunan buku tersebut telah dipersiapkan secara serius. Pembahasan judul bahkan dilakukan bersama Fathan Subchi pada pertengahan Mei 2026.

Saat itu, Sholeh mengusulkan judul Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan. Fathan kemudian sempat menawarkan alternatif judul yang lebih bernuansa pergerakan, yakni Minal Akidah Ilaf Tawroh atau “Dari Teologi Menuju Revolusi”.

Sholeh merespons usulan tersebut dengan nada humor. Menurutnya, gagasan revolusi dianggap kurang relevan jika melihat posisi dan kesibukan sebagian alumni PMII yang kini banyak berada dalam struktur pemerintahan maupun lembaga negara.

Baca Juga :  Meriah! Warga Pocang Timur Rayakan HUT RI ke-80 dengan Swadaya

Selain konsep kepemimpinan, buku tersebut juga menyoroti apa yang disebut Sholeh sebagai siklus keberhasilan angka sembilan dalam perjalanan politik alumni PMII dan warga NU.

Ia merujuk sejumlah momentum politik yang dianggap memiliki pola sepuluh tahunan. Pada 1999, kekuatan politik yang berkaitan dengan keluarga besar NU berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia.

Pola tersebut, menurut Sholeh, kembali terlihat pada 2009 ketika kekuatan politik berbasis warga NU disebut berhasil mengambil kendali penuh terhadap partai yang lahir dari keluarga besar NU.

Sepuluh tahun kemudian, pada 2019, KH Ma’ruf Amin yang memiliki latar belakang kuat di lingkungan NU dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Joko Widodo.

Rangkaian tersebut kemudian menjadi dasar Sholeh melihat kemungkinan munculnya momentum politik pada 2029.

“Pertanyaannya, apakah siklus sembilan tahunan yang sudah terjadi dan sukses mengantarkan hasil itu akan terulang lagi pada 2029? Kalau terulang seperti 1999, 2009, 2019 dan kelak 2029, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr. Abdul Muhaimin Iskandar,” ujarnya.

Sholeh menilai perjalanan tersebut menunjukkan panjangnya pengalaman alumni PMII dalam membangun kepemimpinan di berbagai bidang. Karena itu, buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah organisasi.

Buku itu diharapkan menjadi tawaran gagasan mengenai arah kepemimpinan Indonesia ke depan, dengan membawa pengalaman kaderisasi, intelektualitas, serta tradisi pengabdian yang berkembang di PMII.

Dalam kegiatan tersebut hadir sejumlah tokoh dan alumni PMII sebagai narasumber, di antaranya Prof. Dr. KH Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa; Mochammad Afifuddin, Ketua KPU RI; Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., Rektor UIN Walisongo; serta Dr. Luluk Nur Hamidah, Ketua Umum IKA Perempuan PMII.

Diskusi tersebut dimoderatori anggota DPD RI Ahmad Nawardi. Hadir pula para penulis buku, sejumlah rektor perguruan tinggi Islam, serta pengurus dan ketua IKA PMII dari berbagai daerah.

Baca Juga :  Promosikan Wisata Pantai Matahari, Disbudporapar Sumenep Optimis Terapkan Sapta Pesona

Kehadiran lintas profesi dan wilayah itu memperlihatkan luasnya jaringan alumni PMII sekaligus beragamnya perspektif mengenai arah gerakan dan kepemimpinan.

Dr. Luluk Nur Hamidah turut memaparkan gagasan dalam bukunya berjudul Ublek dan Oncor. Buku tersebut mencoba melihat sejarah NU melalui akar tradisi dan kehidupan masyarakat di ruang-ruang sederhana.

Menurut Luluk, sejarah NU tidak semata-mata dibangun dari panggung besar. Ada akar sosial, tradisi keagamaan, pendidikan, dan pengabdian masyarakat yang tumbuh dari lingkungan keluarga serta kampung.

“NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini, tetapi saya melihat NU dari sesuatu yang kecil, yang sangat intim, yang sangat tenang, dan sangat indah, yang itu digambarkan seperti Ublek,” ujarnya.

Ia menyebut akar NU dapat ditemukan di kampung-kampung, musala, tempat mengaji, hingga lingkungan keluarga. Para kiai kampung, kiai musala, ibu, ibu nyai, nenek, dan guru ngaji memiliki peran penting dalam pewarisan nilai-nilai tersebut.

Karena itu, sejarah NU menurut Luluk tidak hanya lahir dari panggung politik maupun kekuasaan. Sebelum seseorang mengenal pesantren dan organisasi, nilai-nilai keagamaan telah diperkenalkan melalui praktik keseharian di tengah keluarga dan masyarakat.

“Tidak dari panggung-panggung yang besar, panggung-panggung yang gemerlap, apalagi dari panggung-panggung kekuasaan,” tegasnya.

Ia mencontohkan, tradisi keagamaan dan pendidikan dasar Islam kerap pertama kali dikenalkan melalui keluarga. Anak-anak belajar doa, membaca Al-Qur’an, mengenal alif ba ta, hingga memperoleh pengajaran agama dari ibu, nenek, ibu nyai, maupun guru ngaji di musala dan kampung.

Dari akar sederhana tersebut, nilai-nilai pergerakan kemudian berkembang menjadi modal sosial yang dapat diterjemahkan ke dalam kepemimpinan dan pengabdian.

Bagi alumni PMII, proses pergerakan tidak semestinya berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Nilai kaderisasi justru diharapkan terus hidup melalui kepemimpinan, kebijakan, dan kerja nyata di tengah masyarakat.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Tari Mustikaning Kenya Warnai MCF 2026, Tuban Bawa Pesona Budaya ke Sumenep
MCF 2026 Jadi Panggung BAZNAS Sumenep Kenalkan Program Sosial dan Pemberdayaan
Pokja News Room Jaga Desa SMSI Dikukuhkan, Ahmad Riyadh Bicara Masa Depan Media
Kaca Pecah Disusul Kobaran Api, Rumah Warga Murtajih Pamekasan Ludes Terbakar
Keraton, Pendopo dan Kamera Smartphone: Cara Unik Bappeda Sumenep Ajak Warga Kenali Pembangunan
Nuansa Pendopo dan Keraton Warnai Stan Bappeda Sumenep di MNV 2026
Ribuan Muktamirin Datang, Ning Lia Soroti Multiplier Effect Ekonomi Jombang
Peringati Maulid Nabi, Kapolresta Sumenep Dorong Personel Perkuat Integritas dan Pengabdian

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 23:57 WIB

Tari Mustikaning Kenya Warnai MCF 2026, Tuban Bawa Pesona Budaya ke Sumenep

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:46 WIB

MCF 2026 Jadi Panggung BAZNAS Sumenep Kenalkan Program Sosial dan Pemberdayaan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:42 WIB

Bedah Buku Alumni PMII di Jombang, Muhaimin Dorong Gerakan Selamatkan NU

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:27 WIB

Pokja News Room Jaga Desa SMSI Dikukuhkan, Ahmad Riyadh Bicara Masa Depan Media

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:54 WIB

Kaca Pecah Disusul Kobaran Api, Rumah Warga Murtajih Pamekasan Ludes Terbakar

Jumat, 28 Agustus 2026 - 00:25 WIB

Nuansa Pendopo dan Keraton Warnai Stan Bappeda Sumenep di MNV 2026

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:59 WIB

Ribuan Muktamirin Datang, Ning Lia Soroti Multiplier Effect Ekonomi Jombang

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Peringati Maulid Nabi, Kapolresta Sumenep Dorong Personel Perkuat Integritas dan Pengabdian

Berita Terbaru