SMSI Sumenep Edukasi Guru soal Jurnalistik, Literasi Media dan Bahaya Wartawan Gadungan

Sabtu, 26 September 2026 - 14:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Pelatihan Literasi Jurnalistik SMS Sumenep

Foto. Pelatihan Literasi Jurnalistik SMS Sumenep

SUMENEP, nusainsider.com — Derasnya arus informasi digital menuntut guru tidak hanya mampu menyampaikan pengetahuan, tetapi juga cakap memilah informasi. Menjawab tantangan tersebut, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep menggelar Sekolah Melek Media bagi guru SDN se-Gugus 02 Kalianget, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di SDN Kalimook II, Kecamatan Kalianget, itu mengusung tema “Menggali Lokalitas dan Pemanfaatan AI Bagi Guru se-Kecamatan Kalianget”.

Para peserta mendapatkan materi mengenai dasar-dasar jurnalistik, literasi media, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga cara mengenali praktik oknum yang mengatasnamakan wartawan.

Kegiatan diikuti dua utusan dari masing-masing SDN yang tergabung dalam Gugus 02 Kalianget. Materi disampaikan dua jurnalis sekaligus pemimpin redaksi media siber, yakni Moh. Sumardono atau Mazdon, Pemimpin Redaksi dimadura.id, serta Prengky Wirananda, Pemimpin Redaksi Klikmadura.com.

Ketua SMSI Kabupaten Sumenep, Wahyudi, mengatakan sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi informasi. Terlebih, guru berhadapan langsung dengan generasi yang setiap hari bersentuhan dengan media sosial.

“Sekolah harus bisa melek informasi. Kita harus bisa membedakan informasi yang berasal dari media mainstream atau media arus utama dengan informasi yang beredar di media sosial,” tegas Wahyudi.

Menurutnya, kecepatan penyebaran informasi di media sosial tidak otomatis menjamin kebenaran informasi tersebut. Karena itu, kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, melakukan verifikasi, serta berpikir kritis menjadi bagian penting dalam menghadapi era informasi digital.

Baca Juga :  Polemik Sekda Sumenep, Aktivis Desak Figur Calon Penuhi Regulasi

Guru dan siswa, lanjut Wahyudi, perlu memahami perbedaan antara produk jurnalistik yang dihasilkan melalui proses kerja pers dengan konten yang beredar di media sosial.

Dalam sesi jurnalistik, Mazdon mengajak para guru memahami proses kerja wartawan dari dasar. Materi yang disampaikan antara lain mengenai penentuan angle berita, penulisan lead, headline, struktur berita, hingga karakter berbagai produk jurnalistik.

Ia menjelaskan sejumlah jenis berita, mulai dari hard news, straight news, feature, berita analisis, berita investigatif, berita foto hingga berita video.

Menurut Mazdon, setiap jenis berita memiliki karakter dan pendekatan berbeda. Jurnalis harus mampu menentukan sudut pandang yang tepat serta menyajikan informasi berdasarkan fakta dan kepentingan publik.

Selain teori jurnalistik, Mazdon juga membagikan pengalaman selama menjalani profesi sebagai wartawan. Ia mengaku pernah berada pada titik ingin meninggalkan dunia jurnalistik akibat ulah oknum yang mencoreng nama baik profesi tersebut.

“Sempat mau berhenti jadi wartawan, karena nama baik profesi wartawan di masyarakat ikut tercoreng dengan perbuatan oknum yang melakukan pemerasan ke sejumlah lembaga dengan mengatasnamakan wartawan atau dari media,” ungkapnya.

Namun, nasihat dari gurunya membuat Mazdon kembali menekuni profesi jurnalistik.

“Sampai akhirnya saya sowan ke guru, beliau bilang agar terus menekuni dunia jurnalistik. Bela masyarakat bawah, salaggi’ ba’na juntrong ka Pangeranna (selama niat dalam hatimu karena Tuhan, red), maka profesi apa pun itu, baik di mata Allah dan manusia. Sehingga akhirnya saya memutuskan kembali fokus di dunia jurnalistik,” tuturnya.

Mazdon menegaskan, wartawan memiliki tanggung jawab sosial sehingga pekerjaan jurnalistik harus dijalankan berdasarkan fakta, etika, dan kepentingan masyarakat.

Baca Juga :  Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib? Fauzi As

Sementara itu, Prengky Wirananda menyampaikan materi bertema “Melek Media”. Ia mengajak para guru memahami karakter media sekaligus mengenali praktik yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap profesi wartawan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah praktik oknum yang mengaku sebagai wartawan kemudian menggunakan profesinya untuk menekan atau menakut-nakuti narasumber demi mendapatkan uang.

“Jika ada oknum yang mengatasnamakan wartawan, bentak-bentak seperti penyidik, lalu ujung-ujungnya minta duit, mohon agar tidak dikasi. Karena itu akan menular kepada teman-teman mereka yang lain,” pintanya.

Menurut Prengky, pemahaman masyarakat mengenai kerja pers perlu terus diperkuat. Wartawan, kata dia, datang kepada narasumber untuk melakukan wawancara atau konfirmasi sebagai bagian dari proses jurnalistik.

“Visi misi kami hadir bersama para guru di sini, selain untuk berbagi wawasan terkait literasi dan jurnalisme, adalah untuk meluruskan isu-isu miring itu, bahwa wartawan tidak demikian. Kita datang menemui narasumber tidak lain semata untuk melakukan wawancara atau konfirmasi, tidak lebih dari itu,” jelasnya.

Ia juga memaparkan tugas pers, kode etik jurnalistik, serta pentingnya menjaga sopan santun ketika melakukan peliputan dan wawancara.

Baca Juga :  Diduga Kriminalisasi Wartawan, JSI Siap Aksi Tiap Hari di Polres Sumenep

Pengawas Sekolah Wilayah Kerja Kalianget, H. Abd. Aziz, M.Pd., mendorong seluruh peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan serius.

Ia berharap guru tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan dan informasi yang berkualitas.

“Ikuti kegiatan ini dengan baik. Guru bisa belajar menulis dan membuat informasi dari para jurnalis,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan menulis dapat menjadi bekal bagi guru untuk menyampaikan berbagai aktivitas, inovasi, dan prestasi sekolah secara lebih baik. Keterampilan tersebut sekaligus dapat memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

Ketua Gugus 02 Kalianget, A. Yudhi, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama para peserta dari sejumlah SDN di wilayah Gugus 02 Kalianget.

Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas SDN Kalimook II itu berjalan dengan khidmat. Para guru mendapatkan pemahaman mengenai jurnalistik, literasi media, pemanfaatan AI, hingga cara menyikapi derasnya arus informasi di era digital.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

2.190 PMR Surabaya Dikobarkan Semangat Kemanusiaan, Eri: Merdeka Harus Punya Nilai Kemanusiaan
Dua Penghargaan Asia untuk Bang Ali, Dedikasi Sosial BASHRA BIP Tuai Apresiasi
Dugaan Alih Fungsi LP2B Jadi Kawasan Industri dan Perumahan Dilaporkan ke Kejati Jatim
Dari CANTIK hingga “Wani Mudhun Ngisor”, Begini Sosok Ning Lia di Mata Warga
Cegah Stunting Sejak Kehamilan, Bupati Sumenep: Investasi Generasi Emas 2045
Flyer Sempat Viral dan Tuai Klarifikasi, Kolaborasi KlikTimes-Nusainsider Tetap Siapkan Agenda Harjad Sumenep ke-757
Usai dikukuhkan! Enam Pengurus JSI Sumenep Bersiap Ikuti LUKW Unitomo Bulan Depan
Komite I DPD RI Bahas Dana Desa, Ning Lia Soroti KDMP dan Desa Inklusif

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 17:47 WIB

2.190 PMR Surabaya Dikobarkan Semangat Kemanusiaan, Eri: Merdeka Harus Punya Nilai Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 - 14:57 WIB

SMSI Sumenep Edukasi Guru soal Jurnalistik, Literasi Media dan Bahaya Wartawan Gadungan

Sabtu, 26 September 2026 - 10:53 WIB

Dua Penghargaan Asia untuk Bang Ali, Dedikasi Sosial BASHRA BIP Tuai Apresiasi

Jumat, 25 September 2026 - 15:52 WIB

Dugaan Alih Fungsi LP2B Jadi Kawasan Industri dan Perumahan Dilaporkan ke Kejati Jatim

Jumat, 25 September 2026 - 11:38 WIB

Dari CANTIK hingga “Wani Mudhun Ngisor”, Begini Sosok Ning Lia di Mata Warga

Jumat, 25 September 2026 - 02:23 WIB

Flyer Sempat Viral dan Tuai Klarifikasi, Kolaborasi KlikTimes-Nusainsider Tetap Siapkan Agenda Harjad Sumenep ke-757

Kamis, 24 September 2026 - 23:26 WIB

Usai dikukuhkan! Enam Pengurus JSI Sumenep Bersiap Ikuti LUKW Unitomo Bulan Depan

Kamis, 24 September 2026 - 21:38 WIB

Komite I DPD RI Bahas Dana Desa, Ning Lia Soroti KDMP dan Desa Inklusif

Berita Terbaru