JOMBANG, nusainsider.com — Tepat hari ini, 7 September 2023, 83 tahun yang lalu (1940), Abdurrahman Wahid “Gus Dur” lahir ke dunia.
Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai agamawan sekaligus negarawan bahkan juga disebut sebagai Guru Bangsa.

Meski begitu, Gus Dur juga dikenal lewat joke-nya yang meski kocak, tapi punya makna mendalam.
Barisan Kader (BARIKADE) Gusdur peringati Harlah KH Abdurrahman wahid yang akrab di sapa Gusdur yang ke 83 tahun bertempat di Halaman kampus Universitas Hasyim Asy’ari (UNHAS) Jombang.
Dihadiri Ratusan kader dari masing-masing daerah provinsi jawa Timur, mulai dari Madura, Mojokerto, Malang, Probolinggo, Jombang, Surabaya, Sidoarja dan sebagainya.
Dibuka dengan apel kebangsaan, Ikrar dan janji Kader Gusdur, Tahlil dan do’a bersama hingga penyampaian sejarah perjuangan KH Abdurrahman Wahid.
Peringatan hari lahir KH Abdurrahman wahid oleh Brikade Gus Dur tersebut disemarakkan dengan penyampaian Sejarah kelahiran Presiden Republik Indonesia ke -4 (empat) serta ulama kharismatik asal Jombang.
Penyampaian sejarah kelahiran dan perjuangan Gusdur disampaikan langsung ibu Yenny wahid usai Apel Kebangsaan. Sedangkan puncak acara ditandai dengan pemotongan nasi tumpeng oleh Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid di panggung Istimewa Brikade Gusdur, Unhas Jombang.
Dalam peringatan harlah tersebut, Yenny Wahid yang membuka sekaligus memberikan sambutan menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menemani masyarakat dalam mempromosikan perdamaian dan menyerukan solidaritas sosial lintas identitas sesuai dengan cita-cita Alm Gus Dur.

Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut kalender Islam, yakni Gus Dur dilahirkan pada bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam penggalan Hijriah. Sebenarnya tanggal 4 tahun 1940 adalah 7 September,” imbuhnya.
Lebih lanjut soal kondisi politik saat ini, Yenny menjelaskan setiap presiden memiliki peranya masing-masing. Ia mencontohkan presiden pertama RI, Soekarno sebagai presiden revolusioner dari zaman penjajahan yang diteruskan oleh presiden-presiden selanjutnya.
“Pak Harto kita butuh pemimpin yang membangun pasca-kemerdekaan, Pak Habibie beliau memberikan imajinasi tentang negara berbasis teknologi, Gus Dur memberikan pondasi tentang demokrasi dan kesetaraan bagi semua,” ucap dia.
Bu Mega mengutamakan populisme dalam kebijakan pemerintahan beliau, Pak SBY kembali memberikan stabilitas ekonomi, politik dan memberikan contoh bagaimana jenderal TNI bisa ikut kontestasi demokrasi, Pak Jokowi ini memulai take off industrialisasi dan hilirisasi” sambungnya.
Yenny mengatakan pemimpin selanjutnya harus meneruskan program-program dari presiden sebelumnya. Menurutnya, salah satu tantangan presiden ke depan adalah mengenai geopolitik.
“Salah satu tantangan yang dihadapi bangsa kita ke depan, dalam kerangka geopolitik yang sedang berkembang saat ini bahwa ada ketegangan-ketegangan di wilayah kita,” Jelasnya.
Pemimpin yang akan memimpin Indonesia ke depan harus mengerti geopolitik, orang yang punya strategic thinking,” tambah perempuan kebanggaan Indonesia itu.
Video Lengkapnya akan Segera Tayang di channel Youtube nusainsiderTV.
![]()

















