SUMENEP, nusainsider.com — Momentum penting yang menegaskan bahwa masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pergerakan sosial dan kemanusiaan, kembali terlihat di Kabupaten Sumenep.
Hal ini ditunjukkan oleh Media Detikzone.id bersama Takmir Masjid Mujahidin melalui kegiatan santunan bagi 150 anak yatim, dhuafa, marbot masjid, muadzin, hingga penggali kubur.
Dalam kegiatan tersebut, para penerima manfaat mendapatkan bantuan berupa beras, uang tunai, dan sarung. Tidak hanya menunggu kehadiran warga di masjid, tim Detikzone juga turun langsung menyambangi rumah warga dhuafa yang belum terdata atau memiliki keterbatasan untuk hadir.
Pimpinan Redaksi Detikzone.id, Igusty Madani, menegaskan bahwa masjid harus bertransformasi menjadi pusat solusi bagi umat.
“Masjid harus menjadi pusat pergerakan sosial dan kemanusiaan, bukan hanya tempat ibadah. Dari sinilah kita bangun kepedulian, solidaritas, dan gerakan nyata membantu sesama,” ujarnya.
Ia mengaku terinspirasi dari konsep Masjid Jogokariyan yang dikenal aktif dalam pemberdayaan umat. Bersama Ketua Takmir Masjid Mujahidin, Kiai Jamaluddin, serta seluruh pengurus, pihaknya berkomitmen menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas sosial yang hidup dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kita harus terus bergerak. Tidak boleh diam melihat masyarakat yang kesulitan. Masjid harus hadir sebagai solusi,” tegasnya.
Saat ini, Masjid Mujahidin tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan penyaluran santunan, tetapi juga telah memiliki berbagai program sosial yang terintegrasi bersama Detikzone.
Program-program tersebut dirancang untuk menjawab beragam persoalan masyarakat, mulai dari bantuan kemanusiaan, layanan sosial, hingga pendampingan bagi warga yang membutuhkan.
Masyarakat yang menghadapi persoalan ekonomi, kesehatan, maupun kebutuhan darurat lainnya dapat langsung berkoordinasi dengan tim masjid dan Detikzone. Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan solusi yang cepat, tepat, dan nyata.
Detikzone sendiri dikenal sebagai media yang tidak hanya fokus pada pemberitaan, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial. Di antaranya pembangunan musala umat, penyediaan ambulans gratis, hingga rumah singgah bagi keluarga pasien di Sumenep.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada takmir dan para relasi strategis yang telah menjadi bagian dari keluarga besar Detikzone. Dukungan ini memungkinkan Santunan Akbar terlaksana dengan lancar dan penuh berkah. Semoga kolaborasi ini menjadi amal jariyah bagi kita semua,” ungkapnya.
Sementara itu, Kiai Jamaluddin mengapresiasi langkah kolaboratif tersebut. Menurutnya, jurnalis tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak perubahan.
“Jurnalis harus bisa berkontribusi terhadap nilai-nilai sosial dan keagamaan, serta ikut membantu mengentaskan kemiskinan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menginspirasi banyak pihak untuk menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.
Fenomena ini menjadi titik balik dalam memandang fungsi masjid dan peran media. Selama ini, masjid kerap dipahami sebatas ruang ibadah ritual, sementara media dianggap hanya sebagai penyampai informasi. Padahal, ketika keduanya bersatu, lahirlah kekuatan sosial yang mampu menjawab persoalan nyata umat.
Apa yang dilakukan Detikzone bersama Takmir Masjid Mujahidin bukan sekadar kegiatan santunan, melainkan model gerakan sosial yang layak direplikasi. Ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak cukup ditampilkan dalam narasi, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yang berkelanjutan.
Jika gerakan seperti ini terus diperluas, maka masjid tidak lagi hanya menjadi tempat ibadah, tetapi menjadi pusat solusi umat. Dan media, tidak lagi sekadar penonton, melainkan penggerak perubahan yang menghadirkan harapan di tengah masyarakat.
![]()
Penulis : Wafa
















