BEM UPI Sumenep Desak DPRD Sumenep Tak Jadi Corong Elite Politik

Senin, 12 Januari 2026 - 14:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Aksi Demonstrasi Mahasiswa Sumenep di depan Gedung DPRD Setempat menolak wacana pilkada tidak langsung

Foto. Aksi Demonstrasi Mahasiswa Sumenep di depan Gedung DPRD Setempat menolak wacana pilkada tidak langsung

SUMENEP, nusainsider.com — Gelombang perlawanan terhadap upaya pembajakan demokrasi kembali menguat. Puluhan aktivis yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPI Sumenep menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Sumenep, Senin (12/1/2026).

Massa aksi mulai berkumpul di Kampus UPI Sumenep sekitar pukul 10.30 WIB. Dengan berjalan kaki di belakang mobil komando, mereka bergerak menuju kantor wakil rakyat lembaga yang kini dinilai mulai menjauh dari suara publik.

Aksi tersebut secara tegas menolak wacana Pilkada tidak langsung yang belakangan disepakati elite partai politik nasional dan disebut-sebut telah memperoleh restu Presiden Prabowo Subianto.

Bagi mahasiswa, skema Pilkada melalui DPRD bukan sekadar perubahan teknis, melainkan ancaman serius terhadap kedaulatan rakyat.

Dalam orasinya, massa menegaskan bahwa Pasal 22E UUD NRI 1945 berlaku pula bagi penyelenggaraan Pilkada.

Baca Juga :  Tak Ada Lagi Disparitas Kepulauan, 110 Event Sumenep 2026 Digelar Hingga Wilayah Kepulauan

Hal itu diperkuat melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 110/PUU-XXIII/2025 yang menempatkan Pilkada sebagai bagian integral dari sistem pemilu demokratis di Indonesia.

Koordinator Lapangan aksi, Hidayat, menilai Pilkada tidak langsung berpotensi besar memutus mata rantai relasi politik antara rakyat dan kepala daerah.

“Ketika kepala daerah dipilih oleh elite DPRD, legitimasi kekuasaan tidak lagi bersumber dari kehendak rakyat, melainkan dari kompromi politik di ruang-ruang gelap,” tegasnya.

Menurut Hidayat, skema tersebut justru membuka ruang transaksi politik yang lebih masif dan memperbesar potensi korupsi. Rakyat tak lagi menjadi subjek demokrasi, melainkan direduksi sebatas objek pembangunan.

“Berdasarkan kajian ilmiah dan konstitusional, kami dengan tegas menolak wacana Pilkada tidak langsung dalam bentuk apa pun,” teriaknya lantang.

Ia juga mengingatkan bahwa Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 secara eksplisit menyatakan kedaulatan berada di tangan rakyat. Pilkada langsung, kata dia, merupakan manifestasi nyata dari prinsip tersebut, bukan sekadar jargon politik lima tahunan.

Baca Juga :  Puskesmas Dasuk Jadi Lokasi Evaluasi CC112, Layanan Kesehatan Desa Diperkuat

Hidayat menambahkan, sejumlah survei nasional menunjukkan lebih dari 65 persen masyarakat Indonesia menolak Pilkada melalui DPRD.

Fakta tersebut, menurutnya, seharusnya cukup untuk menyadarkan para wakil rakyat agar tidak menutup telinga terhadap suara publik.

“Karena itu kami mendesak DPRD Kabupaten Sumenep berdiri bersama mahasiswa dan rakyat, bukan menjadi perpanjangan tangan elite politik nasional,” tandasnya.

Menanggapi aksi tersebut, anggota Komisi I DPRD Sumenep dari Fraksi PAN, Khoirul Anwar, menyatakan sependapat dengan tuntutan mahasiswa. Meski demikian, ia mengaku wacana tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama anggota dewan lainnya.

“Kami sepakat dengan apa yang menjadi tuntutan rekan-rekan mahasiswa BEM UPI Sumenep,” ujarnya singkat.

Dalam aksi itu, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan utama, yakni menolak wacana Pilkada tidak langsung, mendesak DPRD Sumenep berpihak pada kepentingan rakyat, menuntut sikap resmi DPRD mendukung Pilkada langsung, serta mendorong perbaikan kualitas Pilkada melalui regulasi yang adil, transparan, dan partisipatif tanpa menghapus hak pilih rakyat.

Baca Juga :  APBD Sumenep Habis Buat Hura-hura, Aktivis Anggaran Akan Hadiahkan Policy Breif ke Bupati

Setelah memperoleh tanda tangan dukungan dari anggota Fraksi PAN dan NasDem, massa aksi membubarkan diri dengan tertib dan kembali ke kampus. Meski demikian, pesan perlawanan telah ditegaskan: demokrasi bukan komoditas yang bisa dinegosiasikan di meja elite.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

330 Desa di Gresik Berstatus Mandiri, Pemkab Dorong Pembentukan Kawasan Ekonomi Pedesaan
Tekan Aksi Balap Liar, Tim Gabungan Polres Pamekasan Sisir Jalanan Kota
119 Pelajar Adu Kompetensi di Olimpiade Ekonomi MGMP Sumenep, Ini Daftar Juaranya
Media Expo 2026 Digelar 10 Hari, KlikTimes.id dan Nusainsider.com Siapkan Pesta Rakyat dan Pemberdayaan UMKM Madura
Viral di TikTok! Usai di Sebut Bupati Tong-tong, Kini Achmad Fauzi di Sebut Bupati Bola
SKK Migas-KEI Serahkan Handtraktor, Perkuat Pertanian dan Ketahanan Pangan di Kepulauan Sapeken
Krisis Air Meluas, Lumajang Idea Distribusikan Bantuan ke Ranuyoso dan Padang
Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:25 WIB

330 Desa di Gresik Berstatus Mandiri, Pemkab Dorong Pembentukan Kawasan Ekonomi Pedesaan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Tekan Aksi Balap Liar, Tim Gabungan Polres Pamekasan Sisir Jalanan Kota

Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:26 WIB

119 Pelajar Adu Kompetensi di Olimpiade Ekonomi MGMP Sumenep, Ini Daftar Juaranya

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Media Expo 2026 Digelar 10 Hari, KlikTimes.id dan Nusainsider.com Siapkan Pesta Rakyat dan Pemberdayaan UMKM Madura

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:48 WIB

Viral di TikTok! Usai di Sebut Bupati Tong-tong, Kini Achmad Fauzi di Sebut Bupati Bola

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Krisis Air Meluas, Lumajang Idea Distribusikan Bantuan ke Ranuyoso dan Padang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:27 WIB

Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Dari Sumenep Mengguncang Lombok, Tongtong Bawa Identitas Madura ke Parade MotoGP 2026

Berita Terbaru