SUMENEP, nusainsider.com — Event Madura Culture Festival (MCF) 2025 yang berlangsung beberapa hari lalu menuai sorotan publik.
Namun, dari sorotan tersebut muncul klarifikasi mengejutkan dari salah satu pengusaha rokok (PR) asal Sumenep terkait pemberitaan yang menyebut keterlibatan mereka dalam pusaran konflik event MCF dan Madura Night Vaganza (MNV) 2025.

Seorang pengusaha rokok yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah terlibat sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan viral.
Informasi yang beredar menyebut adanya biaya partisipasi Rp3 juta per-perusahaan rokok, namun hal ini dibantah keras.
“Yang ikut kemarin hanya sebanyak 24 PR, dengan total partisipasi Rp40 juta. Kalau dikalkulasi per-PR berpartisipasi sebesar Rp 3Jt, seharusnya totalnya Rp72 juta bukan Rp 40Jt,”ungkapnya dengan nada bingung saat ditemui media ini, Kamis (11/9/2025).
Ia menambahkan, partisipasi yang diberikan pihaknya tidak bersifat cuma-cuma.
Menurutnya, kontribusi tersebut adalah bentuk dukungan kepada panitia yang sudah bekerja keras mempersiapkan jalannya festival, sekaligus bentuk Terimakasih kepada panitia karena telah membuka ruang bagi produk rokok lokal untuk dikenal lebih luas.
“Dengan adanya festival tersebut, produk kami bisa dikenal di berbagai kabupaten di Jawa Timur, khususnya wilayah Tapal Kuda. Jadi, kalau ada yang menyebutkan per-PR Rp3 juta, itu perlu diluruskan dan dikonfirmasi ke pihak yang bersangkutan. Yang jelas, PR saya tidak sebesar itu,” tegasnya.
Sebelumnya, MCF 2025 mendapat apresiasi besar karena berhasil mencatat perputaran uang dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga Rp1.457.954.600. Angka ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap festival budaya terbesar di Pulau Madura tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian tersebut.
Menurutnya, keberhasilan itu membuktikan sektor budaya dan pariwisata mampu menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan.
“UMKM kita hidup, masyarakat merasakan langsung dampaknya. Ini bukti nyata bahwa event budaya bisa menciptakan peluang ekonomi yang inklusif. Kami akan terus mendorong agar festival semacam ini berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (3/9/2025) lalu.
Lebih lanjut, Iksan menegaskan bahwa MCF 2025 tidak hanya menjadi ajang promosi budaya Madura, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi lokal.
Ribuan pelaku UMKM terlibat dalam menjajakan produk mereka, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga layanan jasa seperti parkir dan penginapan.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan festival tersebut.
“Kesuksesan ini adalah hasil kerja bersama, mulai dari komunitas seni, pelaku UMKM, hingga masyarakat. Kami berharap dampaknya tidak berhenti pada saat festival saja, tetapi juga berlanjut setelahnya,” tutup Iksan.
![]()
Penulis : Wafa

















