SURABAYA, nusainsider.com — Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa hingga ke tingkat kampung. Warga RT 03/RW 07, Kelurahan Jemursari, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, menggelar berbagai lomba tradisional yang diikuti anak-anak hingga orang dewasa, Minggu (9/8/2026).
Suasana kampung mendadak semarak. Beragam permainan khas perayaan kemerdekaan mengundang tawa sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan warga.
Salah satu perlombaan yang paling menyita perhatian adalah Jarik Puting Beliung. Permainan tersebut sukses mengundang gelak tawa, baik dari peserta maupun penonton. Sorak-sorai warga pun terus terdengar memberikan dukungan kepada peserta yang berusaha menyelesaikan tantangan permainan.
Kemeriahan itu turut dihadiri Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia. Kehadirannya tidak sekadar sebagai tamu yang menyaksikan kegiatan, tetapi juga berbaur langsung dengan masyarakat.
Ning Lia bahkan ikut ambil bagian dalam salah satu perlombaan bersama warga. Kehadiran tersebut membuat suasana semakin cair, karena tidak ada jarak antara tokoh masyarakat dengan warga yang tengah menikmati momentum perayaan kemerdekaan.
Menurut Ning Lia, perayaan HUT Kemerdekaan melalui lomba tradisional memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
Kegiatan sederhana di lingkungan masyarakat tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial sekaligus menjaga keberadaan permainan rakyat sebagai bagian dari warisan budaya.
“Lomba seperti ini bukan hanya membuat warga guyub, tetapi juga ikut melestarikan permainan tradisional yang menjadi bagian dari budaya kita,” ujar Ning Lia.
Ia menilai, kegiatan yang berlangsung di tingkat kampung justru memiliki peran penting dalam membangun semangat kebersamaan.
Di tengah perkembangan teknologi, anak-anak dan generasi muda kini semakin akrab dengan perangkat digital serta berbagai bentuk hiburan melalui gawai.
Karena itu, menurut Ning Lia, momentum peringatan kemerdekaan dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
Baginya, permainan rakyat tidak hanya menghadirkan kesenangan. Di dalamnya terdapat nilai pendidikan sosial yang dapat membentuk karakter anak, mulai dari kerja sama, sportivitas, komunikasi, hingga kemampuan bersosialisasi secara langsung.
“Anak-anak jangan sampai hanya mengenal permainan dari layar ponsel. Permainan tradisional juga penting karena di sana ada interaksi, kebersamaan, dan nilai gotong royong,” katanya.
Ning Lia menambahkan, pelestarian permainan tradisional tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar. Lingkungan keluarga dan kampung dapat menjadi ruang pertama untuk memperkenalkan kembali berbagai permainan rakyat kepada anak-anak.
Menurutnya, semangat kemerdekaan seharusnya tidak hanya dimaknai melalui seremoni, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Salah satunya dengan menjaga budaya gotong royong dan membangun ruang interaksi yang sehat antargenerasi.
“Dari kegiatan sederhana seperti ini, kita bisa mengajarkan kepada anak-anak bahwa kemerdekaan juga berarti kebebasan untuk tumbuh, bermain, berinteraksi, dan belajar bersama,” tuturnya.
Puluhan warga RT 03/RW 07 Jemursari tampak antusias mengikuti rangkaian perlombaan. Anak-anak hingga orang dewasa larut dalam suasana penuh keceriaan.
Tawa dan sorak-sorai warga semakin riuh ketika peserta mengikuti permainan Jarik Puting Beliung. Dukungan dari warga di sekitar lokasi membuat setiap perlombaan terasa semakin meriah.
Bagi warga, perayaan tersebut bukan hanya agenda tahunan untuk menyambut HUT Kemerdekaan. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang bertemu, bercengkerama, dan memperkuat hubungan sosial di tengah kehidupan perkotaan yang semakin dinamis.
Perayaan HUT ke-81 RI di RT 03/RW 07 Jemursari akhirnya menjadi gambaran sederhana bagaimana semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari lingkungan terkecil.
Dari permainan tradisional, warga merawat kebersamaan. Dari gelak tawa, mereka memperkuat persaudaraan. Dan dari semangat gotong royong, nilai-nilai kemerdekaan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Semangat kemerdekaan pun terasa hidup, bukan hanya dalam bendera merah putih yang menghiasi kampung, tetapi juga dalam tradisi sederhana yang dirawat dan dirayakan bersama oleh warga.
![]()
Penulis : Wafa
















