SUMENEP, nusainsider.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai menggeser paradigma penyelenggaraan event wisata dan budaya.
Agenda yang masuk dalam kalender daerah tak lagi dipandang sebatas hiburan, tetapi diarahkan menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.
Strategi tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan berbagai gelaran wisata dan budaya sebagai magnet kunjungan wisatawan. Pemerintah berharap, meningkatnya jumlah pengunjung turut menggerakkan sektor usaha di sekitar ekosistem pariwisata.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, mengatakan penyelenggaraan berbagai event menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat daya tarik pariwisata sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Faruk, kedatangan wisatawan membawa peluang bagi banyak sektor. Perputaran uang tidak hanya terjadi di lokasi acara, tetapi juga dapat dirasakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kuliner, transportasi, penginapan hingga ekonomi kreatif.
“Kalender event ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat,” ujar Faruk, Senin (05/10/2026).
Dari sisi kunjungan, geliat pariwisata Sumenep menunjukkan angka yang cukup besar. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlah wisatawan yang datang ke Kabupaten Sumenep diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Faruk menyebut angka tersebut menjadi gambaran bahwa Sumenep memiliki pasar wisata yang cukup luas. Potensi itu diperkuat dengan keberadaan destinasi alam dan budaya yang dipadukan dengan berbagai kegiatan berskala lokal hingga nasional.
Salah satu event yang dinilai mampu mendongkrak kunjungan wisatawan adalah Madura Culture Festival (MCF) 2026. Gelaran tersebut diproyeksikan menjadi salah satu titik keramaian yang mampu menarik wisatawan dari dalam maupun luar Sumenep.
Faruk memperkirakan MCF 2026 dapat menyedot sekitar 150.000 pengunjung. Jumlah tersebut, kata dia, bukan sekadar target kehadiran, melainkan diharapkan mampu menciptakan transaksi ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan kegiatan.
Wisatawan yang datang berpotensi membelanjakan uangnya untuk makanan, suvenir, transportasi, penginapan hingga berbagai produk usaha lokal. Dengan demikian, dampak sebuah event diharapkan tidak berhenti ketika acara selesai, tetapi memberikan manfaat ekonomi yang lebih panjang bagi masyarakat.
“Harapannya, setiap event yang kita gelar tidak berhenti pada jumlah pengunjung. Tetapi juga bagaimana kunjungan tersebut memberikan multiplier effect bagi masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif,” jelasnya.
Karena itu, Pemkab Sumenep berencana terus membenahi kualitas kalender event. Pemerintah ingin setiap agenda memiliki daya tarik yang kuat sekaligus melibatkan lebih banyak pihak, mulai dari seniman, komunitas, UMKM hingga masyarakat.
Bagi Sumenep, event juga menjadi salah satu cara memperkenalkan wajah daerah melalui pengalaman langsung. Wisatawan tidak hanya diajak mengunjungi destinasi, tetapi juga menikmati seni, tradisi dan kreativitas yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Event menjadi bagian penting untuk memperkuat promosi pariwisata Sumenep. Kita ingin wisatawan datang, menikmati Sumenep, sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tukas Faruk.
![]()
Penulis : Wafa
















