SURABAYA, nusainsider.com — Momentum Hari Santri Nasional 2025 dimaknai secara mendalam oleh Anggota DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama.
Ia mengajak seluruh santri Indonesia untuk terus menjaga semangat perjuangan dan nilai-nilai pesantren sebagai pondasi peradaban bangsa.

Menurut Lia, Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan sebuah refleksi historis dan spiritual atas peran besar para santri dalam perjalanan bangsa. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, santri selalu hadir sebagai penjaga moral dan spiritual bangsa.
“Selamat Hari Santri Nasional 2025. Semoga seluruh santri di Indonesia terus menjadi pondasi kuat peradaban yang bersemangat, humanis, dan religius, dengan landasan ilmu, akhlak, serta moral yang kokoh,” ujar Lia Istifhama, Senin (20/10/2025).
Perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini menegaskan, santri memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa yang berkeadaban. Melalui pendidikan pesantren, mereka tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air.
“Santri adalah penjaga nilai-nilai luhur bangsa. Mereka belajar disiplin, ikhlas, sederhana, dan cinta tanah air sejak dini. Nilai-nilai inilah yang menjadi benteng moral Indonesia,” jelasnya.
Menurut Lia, sejarah telah mencatat betapa besar peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan para ulama menjadi bukti nyata bahwa santri adalah bagian penting dari lahirnya kedaulatan bangsa.
Namun, ia menambahkan, tantangan santri masa kini berbeda. Arus globalisasi dan kemajuan teknologi menuntut santri untuk tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga adaptif secara intelektual dan digital.
“Santri zaman sekarang harus mampu menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan, bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam menjaga moralitas dan karakter bangsa di tengah derasnya arus globalisasi,” tambahnya.
Lia menilai, pendidikan pesantren memiliki sistem yang unik dan relevan dengan kebutuhan zaman. Di pesantren, santri tidak hanya dididik menjadi ahli agama, tetapi juga pembelajar mandiri yang siap mengabdi kepada masyarakat.
“Pesantren adalah pusat peradaban ilmu dan akhlak. Di sanalah lahir generasi yang rendah hati, cerdas, serta berjiwa sosial tinggi. Nilai-nilai itu harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi antara nilai pesantren dan kecakapan teknologi. Di era digital, santri dituntut mampu berperan aktif dalam mengisi ruang-ruang publik dengan konten positif, edukatif, dan inspiratif.
“Peradaban dunia saat ini menuntut keseimbangan antara kecerdasan spiritual dan intelektual. Santri yang berbekal ilmu, akhlak, dan kemampuan teknologi akan mampu membawa Indonesia menuju peradaban tinggi,” tegasnya.
Selain itu, Lia mengajak para santri untuk tidak berhenti belajar dan berinovasi. Menurutnya, santri harus berani tampil sebagai agen perubahan, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun kebangsaan.
“Santri bukan hanya identik dengan sarung dan kitab kuning, tapi juga simbol kemajuan berpikir dan kematangan moral. Santri masa kini harus berani tampil sebagai pemimpin perubahan,” tuturnya.
Ia berharap momentum Hari Santri Nasional 2025 menjadi pengingat bahwa santri adalah bagian dari kekuatan bangsa yang tak boleh diabaikan. Dari pesantren, nilai-nilai kemandirian, kejujuran, dan kebersamaan telah lama ditanamkan dan menjadi fondasi peradaban Indonesia.
“Dengan semangat Hari Santri, mari kita terus menebar kebaikan, memperkuat iman dan ilmu, serta menjaga semangat kebangsaan demi Indonesia yang lebih maju, damai, dan bermartabat,” pungkas Lia.
Melalui pesan yang sarat makna tersebut, Lia Istifhama mengingatkan masyarakat bahwa keberadaan santri bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga penentu masa depan bangsa. Santri hari ini adalah penerus para pejuang yang membangun negeri dengan ilmu, akhlak, dan cinta tanah air.
![]()
Penulis : Wafa

















