Pembekuan Perusahaan Rokok Dinilai Tekan Ekonomi Madura, DPD RI Lia Istifhama: Harus Ada Solusi Adil

Senin, 3 November 2025 - 07:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ach Toifur Ali Wafa, Aktivis sekaligus Pimred nusainsider.com (Kanan) saat Bersama Anggota DPD RI Dr Lia Istifhama, S.Sos.i., M.E.I (Kiri)

Foto. Ach Toifur Ali Wafa, Aktivis sekaligus Pimred nusainsider.com (Kanan) saat Bersama Anggota DPD RI Dr Lia Istifhama, S.Sos.i., M.E.I (Kiri)

JATIM, nusainsider.com — Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sekaligus pendiri Aliansi Pemuda Reformasi Melawan (ALARM), Ach Toifur Ali Wafa, menyampaikan kekhawatirannya terkait masa depan ekonomi Madura lima tahun mendatang.

Kekhawatiran tersebut ia sampaikan langsung kepada anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. Lia Istifhama, S.Sos.i., M.E.I., yang juga dikenal sebagai keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Menurut Toifur sapaan akrabnya, pembekuan sejumlah Perusahaan Rokok (PR) di empat kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, serta pembatasan pita cukai oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas perintah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dinilai sangat berdampak terhadap perekonomian daerah.

Ia menilai kebijakan tersebut secara perlahan akan mematikan denyut ekonomi Madura yang selama ini bergantung pada sektor tembakau dan industri rokok lokal.

Apalagi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Madura tercatat sebagai penghasil tembakau terbesar nomor tiga di Indonesia.

“Langkah ini seolah menjadi upaya sistematis pemerintah pusat dalam menekan ekonomi Madura. Padahal, keberadaan perusahaan rokok selama ini menjadi penopang harga tembakau agar tidak jatuh di pasaran,” ujar Toifur.

Ia menjelaskan, selama ini perusahaan rokok lokal berperan penting dalam menjaga kestabilan harga tembakau karena menjadi pembeli utama hasil panen petani. Dengan adanya pembekuan PR, ia khawatir para petani tembakau akan kehilangan pasar dan terpuruk secara ekonomi.

“Kalau PR di Madura terus dibekukan dan pita cukai terus dibatasi, otomatis petani kita akan kesulitan menjual hasil panennya. Madura akan kehilangan komoditas andalan yang menjadi kebanggaan daerah,” tambahnya.

Toifur menyebut kebijakan yang diterapkan Kementerian Keuangan justru berpotensi menciptakan masalah baru. Alih-alih menekan kerugian negara, kebijakan tersebut dapat menghilangkan mata pencaharian ribuan buruh dan petani tembakau di empat kabupaten.

Baca Juga :  Harumkan Dunia Pendidikan, Kadisdik Sumenep Beri Apresiasi Kepada Siswa Binar High School

Ia berharap pemerintah pusat lebih bijak dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di daerah.

“Kementerian Keuangan seharusnya membuat kebijakan yang solutif, bukan malah mematikan usaha kecil yang menopang ekonomi masyarakat Madura,” tegasnya.

Toifur mengusulkan agar pemerintah membuka kembali ruang dialog dengan para pengusaha rokok lokal, petani, dan anggota legislatif guna mencari solusi yang konstruktif.

Menurutnya, beberapa langkah bisa dilakukan, antara lain menerbitkan pita cukai kelas tiga khusus bagi perusahaan kecil, atau membentuk kawasan ekonomi khusus tembakau di Madura.

“Dengan solusi seperti itu, potensi kerugian negara akibat jual-beli pita cukai bisa diminimalisir. Yang penting, ada kemauan untuk duduk bersama dan mencari jalan tengah,” ungkapnya.

Ia menilai, pembentukan kawasan ekonomi khusus tembakau di Madura akan menjadi langkah strategis untuk menyeimbangkan antara kepentingan negara dan kelangsungan ekonomi masyarakat lokal.

“Jika pemerintah memberikan ruang bagi pelaku usaha rokok kecil, maka ekonomi Madura bisa tetap tumbuh tanpa mengorbankan kepentingan nasional,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama menyambut baik aspirasi dan kekhawatiran yang disampaikan oleh Pemuda dan Aktivis Madura.

Baca Juga :  Apel Kamtibmas Polres Sumenep: Ojek Online Didorong Jadi Mitra Polisi di Lapangan

Ia berjanji akan menindaklanjuti masukan tersebut melalui jalur konstitusional di tingkat pusat.

Menurut Ning Lia, isu pembekuan PR dan pembatasan pita cukai perlu mendapat perhatian serius, karena menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat di daerah-daerah penghasil tembakau, termasuk Madura.

“Madura merupakan salah satu wilayah kepulauan dengan dua komoditas unggulan, yaitu garam dan tembakau. Kedua sektor ini perlu kita jaga dan rawat agar terus menjadi sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya.

Ning Lia sapaan akrabnya menilai, kebijakan pemerintah pusat seharusnya lebih berpihak pada daerah penghasil komoditas strategis seperti Madura.

Baca Juga :  KNPI Sumenep Punya Nahkoda Baru, Khairul Umam Usung Semangat Pemuda Bangun Daerah

Ia menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi lokal adalah bagian penting dari pembangunan nasional yang inklusif.

“Jangan sampai kebijakan yang dibuat di pusat justru menimbulkan kesenjangan ekonomi di daerah. Pemerintah perlu mendengar suara rakyat, terutama dari wilayah yang selama ini menopang sektor pertanian dan industri kecil,” imbuhnya.

Senator asal Jawa Timur itu juga mengapresiasi semangat generasi muda Madura yang terus peduli terhadap masa depan ekonomi daerahnya.

Ia menilai, peran pemuda seperti Toifur sangat penting dalam menyuarakan kepentingan rakyat di tingkat nasional.

“Masukan seperti ini sangat berharga. Saya akan sampaikan langsung kepada Kementerian Keuangan agar persoalan ini mendapat perhatian dan solusi yang berpihak kepada masyarakat Madura,” tegas Ning Lia.

Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, legislatif, dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan ekonomi daerah.

Ning Lia berharap dialog lintas lembaga dapat segera digelar untuk membahas solusi konkret.

“Kita harus membangun komunikasi yang baik agar kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada masyarakat kecil. Jangan biarkan Madura kehilangan identitas ekonominya,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Krisis Air Meluas, Lumajang Idea Distribusikan Bantuan ke Ranuyoso dan Padang
Cacat Substantif Pencalonan Presiden dan/atau Wakil Presiden yang Terungkap Setelah Pelantikan: Perspektif Hukum Tata Negara
Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP
Dari Sumenep Mengguncang Lombok, Tongtong Bawa Identitas Madura ke Parade MotoGP 2026
Jalan Desa Banyak Dikeluhkan, DPRKPP Pamekasan Siapkan Penanganan hingga Desember
100 Kamar, 6 Tipe, Fasilitas Lengkap, Grand Miami Hotel Siap Manjakan Tamu di Malang
Rakerwil di Pesantren, BEM SI Kerakyatan Jatim Serukan Gerakan Bersama Rakyat
Investasi China Masuk Bangkalan, Akademisi Dorong Tenaga Kerja Lokal Jadi Prioritas

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Krisis Air Meluas, Lumajang Idea Distribusikan Bantuan ke Ranuyoso dan Padang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:36 WIB

Cacat Substantif Pencalonan Presiden dan/atau Wakil Presiden yang Terungkap Setelah Pelantikan: Perspektif Hukum Tata Negara

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:27 WIB

Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Dari Sumenep Mengguncang Lombok, Tongtong Bawa Identitas Madura ke Parade MotoGP 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Jalan Desa Banyak Dikeluhkan, DPRKPP Pamekasan Siapkan Penanganan hingga Desember

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:23 WIB

Rakerwil di Pesantren, BEM SI Kerakyatan Jatim Serukan Gerakan Bersama Rakyat

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:49 WIB

Investasi China Masuk Bangkalan, Akademisi Dorong Tenaga Kerja Lokal Jadi Prioritas

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut

Berita Terbaru