CPO Cemari Laut Gili Iyang, Praktisi Hukum Ingatkan Prinsip Tanggung Jawab Mutlak

Senin, 26 Januari 2026 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

SUMENEP, nusainsider.comInsiden tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di perairan pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, memantik keprihatinan serius dari kalangan akademisi dan praktisi hukum.

Peristiwa tersebut diduga terjadi akibat kandas dan bocornya kapal tongkang milik Indo Ocean Marine yang terdampar setelah dihantam gelombang laut besar akibat cuaca ekstrem.

Bappeda Sumenep

Kondisi cuaca buruk menyebabkan tongkang kehilangan kendali hingga mengalami kebocoran muatan minyak sawit mentah yang kemudian mencemari perairan sekitar.

Dampak tumpahan ini dikhawatirkan meluas ke kawasan pesisir, mengancam ekosistem laut dan aktivitas masyarakat nelayan setempat.

Akademisi dan Praktisi Hukum asal Pulau Oksigen Gili Iyang, Mawardi, S.Sos., S.H., M.H., menegaskan bahwa faktor cuaca ekstrem memang dapat dikategorikan sebagai force majeure. Namun demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menghapus tanggung jawab hukum perusahaan pelayaran.

“Cuaca buruk dan gelombang besar memang bisa menjadi pemicu awal tongkang terdampar. Namun secara hukum, hal itu tetap harus diuji: apakah perusahaan telah melakukan langkah antisipatif, mitigasi risiko, serta memenuhi standar keselamatan pelayaran,” tegas Mawardi.

Dalam perspektif hukum lingkungan, Mawardi menjelaskan bahwa tumpahan CPO tetap diklasifikasikan sebagai pencemaran laut meskipun dipicu oleh faktor alam.

Baca Juga :  Diduga Dipicu Cemburu, Pembunuhan Sadis di Lenteng Berhasil Diungkap Polisi

Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya Pasal 87, yang menganut prinsip strict liability atau tanggung jawab mutlak.

“Dalam rezim hukum lingkungan, faktor alam seperti gelombang besar tidak otomatis membebaskan pelaku usaha dari kewajiban pemulihan dan ganti rugi. Fokus utamanya adalah adanya dampak pencemaran dan kerugian ekologis,” jelasnya.

Dari sisi hukum pelayaran, cuaca ekstrem justru menuntut kehati-hatian ekstra. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran mewajibkan operator kapal memastikan kelaiklautan armada, kesiapan awak kapal, serta kepatuhan terhadap informasi meteorologi dan keselamatan navigasi.

“Jika tongkang tetap beroperasi di tengah peringatan cuaca buruk tanpa manajemen risiko yang memadai, maka unsur kelalaian tetap dapat dikenakan, baik secara administratif, perdata, maupun pidana,” tambahnya.

Gelombang besar yang menyebabkan tongkang terdampar juga berpotensi memperluas sebaran CPO ke kawasan pesisir. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu ekosistem laut, merusak wilayah tangkap nelayan, serta menurunkan kualitas lingkungan pesisir Gili Iyang.

Baca Juga :  Reshuffle Kabinet, Ning Lia Dorong Kolaborasi Lintas Kementerian demi Rakyat

Mawardi menegaskan bahwa masyarakat pesisir memiliki hak konstitusional atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945. Oleh karena itu, negara wajib hadir melalui langkah penanggulangan cepat, pemulihan lingkungan (environmental recovery), serta pemberian kompensasi kepada masyarakat terdampak, tanpa harus menunggu proses hukum yang berlarut-larut.

Baca Juga :  Bismillah Melayani Jilid II: Disnaker Sumenep Gencarkan Pelatihan di 2025

Menurutnya, insiden tumpahan CPO akibat tongkang terdampar di tengah gelombang besar harus menjadi peringatan keras bagi dunia usaha pelayaran dan pengangkutan bahan baku industri.

“Hukum tidak menafikan faktor alam, tetapi juga tidak boleh menormalisasi kelalaian. Cuaca ekstrem seharusnya mendorong kehati-hatian ekstra, bukan justru dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab,” pungkas Mawardi.

Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum penguatan penegakan hukum lingkungan dan pelayaran, khususnya di wilayah kepulauan, demi menjaga keselamatan ekosistem laut dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir Kabupaten Sumenep.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Sambut Ramadan 2026, Swiss-Belinn Manyar Surabaya Hadirkan Royal Mediterranean Iftar Buffet
Media Kanalnews akan Gelar JJS, Berikut Lokasi dan Jadwalnya
Dari Jalan Sehat Hingga Orasi Jurnalistik, SMSI Sumenep Siapkan HPN 2026 Meriah
Ikuti Arahan Presiden, Polres Sumenep Perkuat Budaya Kerja Bersih dan Sehat
Akses Vital Terabaikan, Warga Dusun Kaladi Gotong Royong Perbaiki Jalan
Diduga Dipicu Cemburu, Pembunuhan Sadis di Lenteng Berhasil Diungkap Polisi
Puting Beliung Terjang Pragaan, Pemkab Sumenep Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
banner 325x300

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:52 WIB

Sambut Ramadan 2026, Swiss-Belinn Manyar Surabaya Hadirkan Royal Mediterranean Iftar Buffet

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:34 WIB

Media Kanalnews akan Gelar JJS, Berikut Lokasi dan Jadwalnya

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:08 WIB

Dari Jalan Sehat Hingga Orasi Jurnalistik, SMSI Sumenep Siapkan HPN 2026 Meriah

Rabu, 4 Februari 2026 - 10:46 WIB

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:59 WIB

Ikuti Arahan Presiden, Polres Sumenep Perkuat Budaya Kerja Bersih dan Sehat

Senin, 2 Februari 2026 - 15:43 WIB

Diduga Dipicu Cemburu, Pembunuhan Sadis di Lenteng Berhasil Diungkap Polisi

Senin, 2 Februari 2026 - 10:36 WIB

Puting Beliung Terjang Pragaan, Pemkab Sumenep Pastikan Bantuan Tepat Sasaran

Senin, 2 Februari 2026 - 07:38 WIB

Wujudkan Kamseltibcarlantas, Polres Sumenep Gelar Operasi 14 Hari

Berita Terbaru

Foto. Sertijab Wakapolres Sumenep

Berita

Rabu, 4 Feb 2026 - 10:46 WIB