JAKARTA, nusainsider.com — Berakhirnya sengketa kepemimpinan Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) menjadi titik balik penting dalam perjalanan organisasi alumni tersebut.
Putusan hukum yang secara resmi menutup dualisme kepemimpinan tidak sekadar dimaknai sebagai kemenangan administratif, melainkan sebagai momentum kebangkitan gerakan sosial alumni di tengah masyarakat.
Situasi yang sebelumnya diwarnai perbedaan pandangan kini diarahkan menuju konsolidasi dan rekonsiliasi. Kepemimpinan PB IKA PMII di bawah Ketua Umum Slamet Ariyadi menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi bertransformasi dari konflik internal menuju kerja-kerja nyata yang berdampak luas bagi umat dan bangsa.
Slamet, yang juga anggota DPR RI dari daerah pemilihan Madura, menyampaikan bahwa momentum Ramadan menjadi katalis utama perubahan arah gerakan IKA PMII.
Bulan suci ini, menurutnya, bukan hanya ruang refleksi spiritual, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial.
“Ramadan adalah bulan yang mengajarkan keikhlasan dan kepedulian. Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai awal kebangkitan IKA PMII untuk kembali hadir di tengah masyarakat dengan gerakan sosial yang konkret,” ujar Slamet.
Ia menegaskan, energi dan potensi alumni PMII yang tersebar di berbagai sektor baik pemerintahan, legislatif, dunia usaha, akademisi, hingga aktivis sosial harus disatukan dalam gerakan kolektif berbasis kepedulian.
Menurutnya, kekuatan jejaring alumni merupakan modal besar untuk menghadirkan kontribusi nyata di tengah dinamika sosial dan tantangan kebangsaan.
Sejumlah program sosial pun mulai disiapkan oleh PB IKA PMII. Di antaranya santunan bagi masyarakat kurang mampu, gerakan berbagi selama Ramadan, pemberdayaan pelaku UMKM, hingga dakwah sosial yang menyejukkan di berbagai daerah.
Program-program tersebut dirancang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Bendahara Umum PB IKA PMII, Lia Istifhama, yang juga anggota DPD RI asal Jawa Timur, menyebut Ramadan sebagai momentum strategis untuk membangun peradaban sosial berbasis alumni.
“Dari konflik kita beralih ke kepedulian. Ini saatnya IKA PMII menjadi kekuatan sosial yang hadir dengan aksi nyata, membantu masyarakat, dan memperkuat solidaritas kebangsaan,” tegas Lia.
Menurutnya, penyelesaian sengketa kepemimpinan harus dijadikan pelajaran berharga untuk memperkuat kedewasaan organisasi.
Ia menilai, soliditas internal dan persatuan alumni menjadi kunci agar IKA PMII mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan nasional.
Lia sapaan akrabnya juga menekankan bahwa gerakan sosial yang diinisiasi PB IKA PMII tidak hanya berdampak pada masyarakat penerima manfaat, tetapi juga mempererat ikatan antaralumni di seluruh Indonesia.
Jejaring alumni yang kuat, kata dia, merupakan kekuatan strategis dalam membangun kolaborasi lintas sektor.
“Kita memiliki alumni di berbagai bidang strategis. Jika seluruh potensi itu dikonsolidasikan dalam satu visi kepedulian, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, PB IKA PMII menargetkan organisasi ini kembali mengambil peran sebagai kekuatan sosial-intelektual yang relevan dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Konsolidasi internal, rekonsiliasi alumni, serta penguatan program berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas utama dalam periode kepemimpinan saat ini.
Transformasi tersebut juga diarahkan agar IKA PMII mampu menjadi mitra strategis pemerintah dan berbagai elemen bangsa dalam menjawab persoalan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman yang moderat.
Semangat dari sengketa menuju spirit Ramadan menjadi simbol babak baru perjalanan organisasi. Dari ruang konflik menuju ruang kolaborasi, dari perbedaan menuju persatuan gerakan.
Dengan fondasi hukum yang telah final dan komitmen kolektif seluruh jajaran pengurus, IKA PMII optimistis mampu memasuki fase baru sebagai gerakan alumni yang solid, inklusif, serta berdampak nyata bagi umat dan bangsa.
Ramadan tahun ini pun diharapkan menjadi awal kebangkitan yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar terwujud dalam kerja sosial yang berkelanjutan di berbagai penjuru negeri.
![]()
Penulis : Wafa
















