Cinta Indonesia Tak Cukup dengan Simbol, Nasionalisme Harus Dibuktikan dengan Aksi

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ahyatul Karim saat menggelar Aksi di Depan Gedung DPRD Sumenep Beberapa Bulan Lalu

Foto. Ahyatul Karim saat menggelar Aksi di Depan Gedung DPRD Sumenep Beberapa Bulan Lalu

OPINI, nusainsider.comTantangan nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital semakin kompleks. Di satu sisi, keterbukaan informasi memberikan ruang luas bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia global.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga membawa tantangan terhadap persatuan dan nilai-nilai kebangsaan.

Indonesia sebagai negara yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, bahasa, budaya dan latar belakang sosial membutuhkan nasionalisme sebagai perekat kehidupan berbangsa.

Nasionalisme menjadi modal penting untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan yang menjadi karakter utama bangsa Indonesia.

Secara historis, nasionalisme Indonesia tumbuh dari pengalaman perjuangan melawan kolonialisme. Salah satu tonggak pentingnya adalah Sumpah Pemuda 1928 yang mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang dalam satu kesadaran sebagai satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Semangat tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia tidak dibangun atas dasar kesamaan etnis maupun budaya, melainkan tumbuh dari kesadaran mengenai persamaan nasib serta cita-cita bersama.

Konsep bangsa sebagai imagined community yang dikemukakan Benedict Anderson juga memperlihatkan bagaimana masyarakat yang tidak saling mengenal secara langsung dapat memiliki kesadaran sebagai bagian dari komunitas yang sama.

Di Indonesia, kesadaran tersebut dibangun melalui sejarah, bahasa Indonesia, Pancasila, simbol negara dan cita-cita bersama.

Namun, nasionalisme bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Globalisasi dan kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi sekaligus memahami identitas kebangsaan.

Baca Juga :  Arah Baru Nusantara: Evaluasi Kebijakan Prabowo Subianto Setelah Enam Bulan

Informasi, budaya, ideologi hingga gaya hidup dari berbagai negara kini dapat masuk dengan cepat melalui internet dan media sosial.

Perkembangan tersebut memberikan manfaat besar dalam memperluas akses pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi persoalan apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan kritis dalam menyaring berbagai pengaruh yang masuk.

Salah satu tantangan yang semakin nyata adalah penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, propaganda dan polarisasi di ruang digital. Masyarakat dapat terpecah akibat perbedaan pilihan politik, agama maupun identitas kelompok.

Politik identitas yang berlebihan juga berpotensi membuat kelompok tertentu memandang kelompok lain sebagai ancaman. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat mengikis persatuan nasional.

Persoalan nasionalisme juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat. Ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, korupsi, diskriminasi dan buruknya pelayanan publik dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Karena itu, nasionalisme tidak cukup dimaknai sebatas kecintaan terhadap tanah air melalui simbol-simbol kebangsaan. Nilai nasionalisme harus diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan komitmen untuk ikut memperbaiki kondisi bangsa.

Dalam konteks Indonesia, nasionalisme juga tidak dapat dipisahkan dari Pancasila. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial menjadi fondasi dalam membangun kehidupan kebangsaan.

Nasionalisme Indonesia juga harus bersifat inklusif. Kecintaan terhadap bangsa tidak boleh berkembang menjadi kebencian terhadap kelompok maupun bangsa lain. Sebaliknya, persatuan harus dibangun dengan menerima keberagaman sebagaimana prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga :  Berikut Juara Festival Musik Tong-Tong se Madura 2025 Sumenep

Pendidikan Kebangsaan Harus Lebih Kritis

Menghadapi tantangan tersebut, penguatan nilai kebangsaan perlu dilakukan melalui sejumlah strategi. Salah satunya dengan mengembangkan pendidikan kebangsaan yang lebih kritis.

Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada hafalan sejarah dan simbol negara. Peserta didik perlu diberikan ruang untuk memahami berbagai persoalan bangsa, mulai dari kemiskinan, demokrasi, ketimpangan, lingkungan, korupsi hingga keberagaman.

Dengan pendekatan tersebut, nasionalisme tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dipahami sebagai bentuk tanggung jawab untuk ikut memperbaiki bangsa.

Selain pendidikan, literasi digital juga menjadi kebutuhan penting, terutama bagi generasi muda. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi, mengenali disinformasi, membedakan fakta dan opini serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Ruang digital juga diharapkan tidak sekadar menjadi tempat mengonsumsi informasi. Generasi muda dapat menjadikannya sebagai ruang untuk menghasilkan karya, gagasan dan berbagai konten yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penguatan nasionalisme juga harus diwujudkan melalui praktik nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi, penghormatan terhadap sesama, menjaga persatuan, musyawarah dan kepedulian terhadap keadilan sosial merupakan bentuk konkret nasionalisme.

Dengan demikian, Pancasila tidak hanya menjadi materi pembelajaran atau simbol kenegaraan, tetapi benar-benar hadir dalam perilaku masyarakat.

Generasi Muda Harus Berani Ambil Peran

Generasi muda juga perlu mendapatkan ruang yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik. Organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, komunitas sosial, penelitian, pengabdian masyarakat dan advokasi kebijakan dapat menjadi sarana membangun kepemimpinan sekaligus kesadaran kebangsaan.

Baca Juga :  PMII Sumenep Krisis Regenerasi dan Kepemimpinan

Dalam konteks tersebut, organisasi kemahasiswaan seperti PMII memiliki posisi strategis dalam membentuk kader yang memiliki intelektualitas, kepedulian sosial serta komitmen terhadap keislaman dan keindonesiaan.

Gerakan mahasiswa juga memiliki fungsi sebagai kontrol sosial. Kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak semestinya secara otomatis dipandang sebagai sikap anti-nasionalisme.

Dalam sistem demokrasi, kritik yang disampaikan berdasarkan kepentingan masyarakat justru menjadi salah satu bentuk kontribusi terhadap negara. Nasionalisme mahasiswa dapat diwujudkan melalui intelektualitas, keberpihakan kepada masyarakat dan keberanian mengawal kekuasaan.

Pada akhirnya, nasionalisme masa kini membutuhkan transformasi. Jika dahulu perjuangan kebangsaan banyak diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajahan, maka perjuangan generasi sekarang dapat dilakukan dengan menghadapi berbagai persoalan baru, seperti disinformasi, intoleransi, korupsi, ketimpangan, kerusakan lingkungan dan persoalan sosial lainnya.

Indonesia membutuhkan nasionalisme yang terbuka tetapi tetap memiliki identitas, kritis namun konstruktif, demokratis tetapi tetap menjunjung persatuan, serta modern tanpa kehilangan akar Pancasila.

Pada akhirnya, nasionalisme tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan tentang seberapa besar seseorang mencintai Indonesia. Pertanyaan yang lebih penting adalah Apa Yang Telah Dilakukan Untuk Indonesia?

Penulis : Ahyatul Karim, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) kabupaten Sumenep

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Haswal Group Resmi Buka Pembelian Tembakau 2026, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda
Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep
NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU
Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat
KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa
PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah
Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:43 WIB

Cinta Indonesia Tak Cukup dengan Simbol, Nasionalisme Harus Dibuktikan dengan Aksi

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:38 WIB

Haswal Group Resmi Buka Pembelian Tembakau 2026, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:54 WIB

“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:36 WIB

Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:42 WIB

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:39 WIB

KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:29 WIB

PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Berita Terbaru