PMII Sumenep Krisis Regenerasi dan Kepemimpinan

Sabtu, 26 April 2025 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Dauri Aziz, Waka II komisariat PMII STITA

Foto. Dauri Aziz, Waka II komisariat PMII STITA

OPINI, nusainsider.com Konferensi Cabang PMII Sumenep 2025 membuka kenyataan pahit yang tak lagi bisa diselimuti jargon normatif.

Hanya ada tiga kandidat: dua untuk Ketua Cabang, satu untuk Ketua KOPRI. Ini bukan sekadar dinamika biasa, melainkan Alarm keras: Regenerasi Kader Mengalami Stagnasi, Bahkan Kemunduran Serius.

PMII seharusnya menjadi rumah pertumbuhan nalar kritis dan kepemimpinan kolektif, berlandaskan nilai-nilai transformasi sosial dan keberpihakan pada kaum tertindas.

Namun ironi terjadi: di tengah banyaknya komisariat dan lulusan MAPABA, PKD, hingga PKL, hanya segelintir yang berani melangkah maju ke panggung organisasi.

Fenomena ini tidak lahir dari kevakuman kualitas kader. Ini buah dari kultur organisasi yang sistemik mengecilkan potensi kader dan membunuh inisiatif. Struktur kaderisasi yang lebih seremonial daripada substantif menyebabkan regenerasi hanya menjadi wacana, bukan realitas yang hidup.

Pelatihan-pelatihan yang digelar lebih banyak berhenti di atas modul. Internaliasi nilai dasar PMII_humanisme, keadilan, kesetaraan, dan kebebasan _jarang menjadi energi gerakan. Seusai pelatihan, kader dibiarkan bergerak sendiri, tanpa pendampingan dan ruang aktualisasi yang jelas.

Tanpa sistem pendukung yang kuat, kader bukan hanya teralienasi secara struktural, tetapi juga kehilangan rasa percaya diri untuk tampil memimpin.

Ketika ruang aktualisasi dikunci oleh logika eksklusif, regenerasi kader hanya menjadi mitos yang terus diulang dalam laporan formal.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Sambut HUT Bhayangkara Ke 77 Melalui Program Sosial

Lebih mengkhawatirkan lagi, politik internal organisasi sering dibajak oleh logika kekuasaan eksklusif. Ruang-ruang strategis dikuasai kelompok tertentu, yang lebih mengutamakan loyalitas dan kedekatan ketimbang kapasitas dan visi. Kader di luar jejaring kekuasaan kerap menjadi penonton.

Dalam situasi seperti itu, keberanian untuk tampil bukan hanya soal mental pribadi. Ia bergantung pada ada atau tidaknya ruang yang setara. Struktur yang timpang menumpulkan semangat kompetisi sehat dan mereduksi proses kaderisasi menjadi ajang formalitas belaka.

Dalam konteks KOPRI, krisis ini terasa lebih menyesakkan. Hanya satu calon Ketua KOPRI menunjukkan betapa rendahnya keberanian politik kader perempuan dalam struktur PMII.

Padahal, PMII kerap mengklaim sebagai pembela kesetaraan gender. Faktanya, ekosistem dukungan bagi kader perempuan masih minim.

Sebagaimana dikemukakan oleh Naila Kabeer, pemberdayaan bukan sekadar membuka pintu, tetapi memastikan jalan menuju pintu itu aman dan bisa dilalui.

Kader perempuan butuh lebih dari sekadar afirmasi simbolik; mereka memerlukan kebijakan progresif dan ruang aktualisasi yang nyata.

Tanpa perubahan struktur dukungan tersebut, KOPRI akan terus terjebak dalam bayang-bayang formalitas. Kader perempuan akan terus berjuang sendirian melawan tembok kultural yang menghalangi partisipasi aktif dan kepemimpinan mereka dalam tubuh PMII.

Baca Juga :  PMII STITA Gelar Reuni Akbar dan Buka Puasa: Perkuat Silaturahmi, Sinergi, dan Arah Gerakan

Konfercab seharusnya menjadi momentum dialektika ide dan pertarungan gagasan, bukan sekadar ajang mengukuhkan struktur. Namun ketika kontestasi dibungkam logika transaksional dan patronase, kader-kader potensial lebih memilih mundur. Bukan apatis, mereka realistis.

Dalam struktur yang tidak adil, mereka sadar, gagasan bisa dikalahkan oleh kedekatan emosional dan integritas bisa dipatahkan oleh manuver kekuasaan. Maka, regenerasi bukan lagi soal memilih pemimpin terbaik, tetapi hanya melanggengkan dominasi kelompok tertentu.

Peran senior dan alumni dalam krisis ini tidak bisa diabaikan. Alih-alih menjadi pembimbing, sebagian mereka justru menjelma menjadi pengendali. Campur tangan berlebih membonsai kemandirian kader muda dan melemahkan identitas kolektif PMII sebagai organisasi kader sejati.

Seniorisme yang mengakar membatasi ruang inisiatif dan merusak tradisi kritis. Kader muda kehilangan otoritas politik dalam rumahnya sendiri. Alih-alih diberi ruang untuk belajar, mereka dijadikan alat bagi kepentingan lama yang tak kunjung memperbaharui dirinya.

Ke depan, reformasi PMII Sumenep harus menyasar dua ranah utama: struktur dan kultur. Secara struktural, desentralisasi kaderisasi harus dikuatkan. Komisariat harus diberdayakan sebagai pusat pertumbuhan pemimpin, bukan sekadar pelaksana agenda-agenda cabang.

Di sisi kultural, pola patron-klien harus segera diluruhkan. Setiap kader, tanpa memandang afiliasi kelompok, harus memiliki hak yang setara untuk tumbuh dan memimpin. Kepemimpinan yang lahir dari kompetisi gagasan harus dihidupkan kembali, bukan ditenggelamkan oleh pragmatisme sesaat.

Baca Juga :  Rokok Ilegal: Ambiguitas Negara dalam Penindakan dan Kecurigaan Masyarakat

Khusus untuk KOPRI, penguatan organisasi perempuan tidak bisa lagi ditunda. Dibutuhkan keberanian struktural untuk menata ulang sistem rekrutmen, pengkaderan, hingga seleksi kepemimpinan perempuan secara lebih progresif, suportif, dan berbasis meritokrasi.

PMII tidak cukup hanya membuka ruang bagi perempuan. Ia harus memastikan ruang itu aman, nyaman, dan mendorong pertumbuhan seluruh potensi kader perempuan, mulai dari level komisariat hingga cabang. Tanpa itu, cita-cita kesetaraan hanya akan menjadi slogan kosong.

Konfercab 2025 harus dibaca sebagai momentum kritis, bukan rutinitas biasa. Jika hari ini hanya tiga orang yang berani tampil, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan, tetapi masa depan organisasi. Ini adalah refleksi kolektif tentang kegagalan kita membangun sistem regenerasi sejati.

PMII Sumenep harus bangkit dengan kesadaran baru: bahwa organisasi besar bukan ditentukan oleh siapa yang memimpin, melainkan oleh seberapa kuat sistem yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru secara berkelanjutan, melampaui kelompok, loyalitas, dan patronase.

*) Penulis : Dauri Aziz, Waka II komisariat PMII STITA

Loading

Penulis : Dauri Aziz

Berita Terkait

H. Bambang Budianto ; Dari Pembinaan Menuju Kemandirian dan Masa Depan yang Lebih Baik
CV Ayunda Permata Sejahtera Dukung Transformasi Lapas Pamekasan Jadi Tempat Pembinaan yang Produktif
Bupati Fauzi Dorong Budaya Digital, Belanja Kuliner Rp1 dengan QRIS Ramaikan Jumat Sehat
KPRI RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat, Wujud Komitmen Bangun Ekosistem SDM Berkualitas
Surga Tersembunyi Sumenep Diminta Jadi Sumber PAD Baru, Wakil Ketua DPRD Soroti Infrastruktur Wisata
Implementasi Arahan Presiden, Bappeda Sumenep Bergerak Ciptakan Kota Bersih dan Sehat
Khitan Laser Gratis di Sapeken Ringankan Beban Warga, Program PPM KEI Tuai Pujian
Bupati Fauzi Inisiasi Sumenep Kepulauan, Langkah Strategis Menuju Pusat Pertumbuhan Provinsi Madura

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:48 WIB

H. Bambang Budianto ; Dari Pembinaan Menuju Kemandirian dan Masa Depan yang Lebih Baik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:42 WIB

CV Ayunda Permata Sejahtera Dukung Transformasi Lapas Pamekasan Jadi Tempat Pembinaan yang Produktif

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:36 WIB

Bupati Fauzi Dorong Budaya Digital, Belanja Kuliner Rp1 dengan QRIS Ramaikan Jumat Sehat

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:49 WIB

KPRI RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat, Wujud Komitmen Bangun Ekosistem SDM Berkualitas

Jumat, 17 Juli 2026 - 07:32 WIB

Implementasi Arahan Presiden, Bappeda Sumenep Bergerak Ciptakan Kota Bersih dan Sehat

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:53 WIB

Khitan Laser Gratis di Sapeken Ringankan Beban Warga, Program PPM KEI Tuai Pujian

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:48 WIB

Bupati Fauzi Inisiasi Sumenep Kepulauan, Langkah Strategis Menuju Pusat Pertumbuhan Provinsi Madura

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:46 WIB

Semarak Harkopnas ke-79, Gerakan Koperasi Sumenep Gelar Kerja Bakti Bersama

Berita Terbaru

Foto. Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik asal kota Keris Sumenep, Istimewa for nusainsider.com/Toifur Ali Wafa

Hukum

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:49 WIB