SUMENEP, nusainsider.com — Upaya membangun pendidikan tinggi yang tidak berhenti di ruang kuliah terus dilakukan Dekan Fakultas Bahasa Asing (FBA) Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura, Lailiy Kurnia Ilahi, S.Pd., M.Pd.
Akademisi lulusan Universitas Negeri Malang (UM) tersebut konsisten mengintegrasikan tiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (PkM).
Di bawah kepemimpinannya, FBA UNIBA Madura terus memperkuat Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris. Penguatan tersebut dibarengi dengan upaya membuka wawasan global bagi civitas akademika melalui berbagai program internasional.
Salah satunya melalui program International Internship serta pengiriman mahasiswa ke luar negeri, termasuk ke Thailand.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pengalaman akademik sekaligus membuka ruang interaksi mahasiswa dengan lingkungan pendidikan dan budaya internasional.
Lailiy yang akrab disapa Lely juga aktif mendampingi karya akademik mahasiswa hingga mampu menembus forum ilmiah internasional, salah satunya International Conference on English Language Teaching (INELTAL).
Tidak hanya mendampingi mahasiswa, Lely juga produktif dalam penelitian. Sejumlah riset yang digelutinya berkaitan dengan metode pembelajaran bahasa Inggris, termasuk Picture Word Inductive Model dan alih kode dalam pembelajaran dasar.
Ia juga terlibat dalam berbagai riset hibah penelitian serta program pengabdian dosen.
“Pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga wadah untuk membangun pengalaman, kolaborasi, dan kontribusi nyata,” ujar Lely.
Semangat tersebut turut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa.
Salah satu program digelar di Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep. Dalam kegiatan tersebut, pembelajaran bahasa Inggris dikemas dengan pendekatan komunikatif dan menyenangkan.
Anak-anak panti diajak belajar melalui role-play, permainan bahasa, storytelling, hingga lagu. Pendekatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keberanian dan kemampuan mereka dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak berhenti setelah program pengabdian selesai. Hasil pelaksanaan dan evaluasinya kemudian didiseminasikan melalui artikel ilmiah berjudul “Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Anak Panti Asuhan Melalui Kegiatan Komunikatif dan Menyenangkan: Program Pengabdian di Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep.”
Langkah tersebut menunjukkan bahwa praktik pengabdian tidak hanya dipandang sebagai kegiatan lapangan, tetapi juga perlu didokumentasikan dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat memberikan manfaat lebih luas.
Kiprah Lely dalam pengabdian bahkan berkembang hingga tingkat internasional. Bersama Universitas ’Aisyiyah (UNISA) Bandung dan Universitas Muhammadiyah OKU Timur, ia memimpin program PkM internasional di Thailand.
Program tersebut mengangkat fokus riset “Analisis Kebutuhan Bahasa Inggris Pariwisata pada Siswa SMA di Thailand: Studi Survei Mata Pelajaran English for Tourism.”
Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus melihat secara langsung kebutuhan pembelajaran bahasa Inggris dalam konteks pariwisata.
Selain aktif di lingkungan kampus dan kegiatan pengabdian, Lely juga memperluas jejaring profesional melalui English Studies Association in Indonesia (ESAI).
Salah satu bentuk kolaborasi yang dikembangkan melalui jejaring tersebut adalah program Teaching Series. Program ini menghadirkan dosen dari berbagai perguruan tinggi mitra untuk mengajar secara bergantian pada mata kuliah tertentu.
Bagi mahasiswa, kehadiran dosen dari berbagai kampus memberikan kesempatan memperoleh perspektif keilmuan yang lebih beragam.
Sementara bagi dosen, program tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, sekaligus melakukan benchmarking terhadap metode pembelajaran yang lebih adaptif.
Bagi Lely, jejaring dan kerja sama antarlembaga pendidikan harus menghasilkan dampak nyata.
Menurutnya, kolaborasi perguruan tinggi tidak semestinya berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Kerja sama harus diterjemahkan menjadi program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa maupun masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, FBA UNIBA Madura terus diarahkan untuk tidak hanya memperkuat kualitas pembelajaran bahasa Inggris di tingkat lokal, tetapi juga membangun koneksi akademik di tingkat nasional dan internasional.
Kiprah Lely memperlihatkan bagaimana pendidikan, penelitian, pengabdian, dan kolaborasi dapat berjalan beriringan. Dari ruang kelas, panti asuhan, forum ilmiah hingga Thailand, langkah tersebut menjadi bagian dari perjalanan FBA UNIBA Madura menuju pendidikan yang semakin terbuka dan berdaya saing global.
![]()
Penulis : Wafa
















