SUMENEP, nusainsider.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) terus mendorong kemandirian ekonomi di kalangan santri.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Santri Entrepreneur Plasma 3 yang diarahkan untuk membekali santri dengan keterampilan kewirausahaan sekaligus kemampuan mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Kegiatan yang digelar pada 14–16 September 2026 di Pondok Pesantren Al Ibrohimy, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, tersebut diikuti sebanyak 32 peserta.
Dalam pelatihan itu, peserta diarahkan mengembangkan keterampilan mengolah bawang merah menjadi berbagai produk pangan dengan nilai jual lebih tinggi.
Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruq Hanafi, mengatakan Kecamatan Rubaru dipilih sebagai lokasi pelatihan karena wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah berkualitas di Kabupaten Sumenep.
Bahkan, komoditas bawang merah dari wilayah tersebut sebelumnya telah mampu menembus pasar ekspor. Namun, menurut Faruq, sebagian besar hasil panen masyarakat masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
“Selama ini bawang merah masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah dengan harga sekitar Rp40.000 per kilogram. Padahal, masih ada peluang besar untuk meningkatkan nilai ekonominya melalui diversifikasi produk,” ujar Faruq, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, pengolahan dengan dukungan teknologi serta pengemasan yang tepat dapat meningkatkan nilai jual bawang merah secara signifikan.
“Dengan sentuhan teknologi dan pengemasan yang tepat, nilai jual olahan bawang merah ini bisa melonjak drastis hingga menyentuh Rp200.000,” katanya.
Karena itu, pelatihan Santri Entrepreneur Plasma 3 tidak hanya berisi materi kewirausahaan. Para peserta juga diajak praktik secara langsung mengolah bawang merah menjadi sejumlah produk, di antaranya steak bawang dan bawang goreng.
Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik pengemasan modern. Langkah tersebut dinilai penting agar produk olahan yang dihasilkan tidak hanya memiliki cita rasa, tetapi juga tampilan yang menarik serta mampu bersaing di pasar.
Pemkab Sumenep turut memberikan dukungan berupa peralatan produksi berbasis teknologi dan bahan baku untuk menunjang praktik peserta.
Pendampingan juga dilakukan secara lintas sektor. Untuk aspek pemasaran, peserta mendapat dukungan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Perdagangan (DKUPP).
Sementara untuk legalitas dan perizinan, fasilitasi diberikan melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Sedangkan akses permodalan diarahkan melalui sektor perbankan, termasuk BPRS Bhakti Sumekar.
Faruq menegaskan, program Santri Entrepreneur bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi diharapkan mampu melahirkan santri yang memiliki keberanian membangun usaha secara mandiri.
Ia menyebut pelaksanaan program sebelumnya telah menunjukkan hasil positif. Sejumlah alumni Santri Entrepreneur tahun 2025 mulai mengembangkan usaha secara mandiri.
Di antaranya melalui usaha angkringan yang turut meramaikan ajang Madura Culture Festival (MCF), serta pengembangan usaha batik dari Bulutoh.
“Program ini menunjukkan keberhasilan yang positif,” pungkas Faruq.
Melalui program tersebut, Pemkab Sumenep berharap potensi lokal tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi kalangan santri dan masyarakat.
![]()
Penulis : Wafa
















