Banjir Kota Sumenep Memburuk, DPRD Soroti Tambang dan Pembangunan

Kamis, 15 Mei 2025 - 10:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Anggota DPRD Sumenep Komisi III, Akhmadi Yazid (Ist)

Foto. Anggota DPRD Sumenep Komisi III, Akhmadi Yazid (Ist)

SUMENEP, nusainsider.com Hujan deras dalam beberapa hari terakhir membuat sejumlah kawasan di Kota Sumenep terendam banjir. Genangan air terjadi di kawasan pusat kota hingga wilayah penyangga yang sebelumnya jarang terdampak.

Banjir tercatat melanda Jalan Trunojoyo, area Museum Keraton, Taman Bunga, hingga Jalan Pabian. Selain itu, air juga menggenangi Kebonagung, Batuan, Babbalan, dan Patean. Genangan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Warga setempat mengaku heran karena genangan air tak kunjung surut meski hujan telah reda sejak beberapa hari lalu. Mereka menduga ada perubahan sistem drainase dan hilangnya daerah resapan air.

“Dulu paling lama sehari, air sudah surut. Sekarang bisa dua hari lebih masih tergenang. Mungkin karena aliran air sudah tak punya jalur resapan,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya, Kamis (15/5/2025).

Dugaan warga ini merujuk pada pembangunan dua bangunan besar di wilayah resapan air dan sempadan sungai, yakni Hotel Myze dan Baghraf Health Clinic (BHC), yang dinilai berkontribusi memperparah banjir.

Baca Juga :  Tahun 2025, Pemkab Sumenep Mulai Rancang Pelaksanaan Kalender Event

Hotel Myze dibangun di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, tepat di atas area yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air. Lahan itu kini tertutup bangunan dan paving blok.

Sementara BHC berdiri di Desa Babalan, juga Kecamatan Batuan. Lokasinya berada di atas lahan pertanian aktif serta dekat dengan sempadan sungai, yang menurut aturan tata ruang seharusnya dilindungi dari alih fungsi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Arif Susanto, membenarkan bahwa kawasan tempat berdirinya Hotel Myze merupakan daerah resapan air.

“Mulai dari Hotel Myze ke timur sampai ke perumahan, itu lahan resapan air semua memang,” ungkap Arif saat dikonfirmasi.

Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci proses perizinan pembangunan hotel tersebut dan apakah ada kajian lingkungan yang dilakukan sebelumnya.

Baca Juga :  Dinilai Peduli Kepada Anak Muda, Pemuda Gapura Bersatu Deklarasi Siap Menangkan Pasangan FAHAM

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, belum memberikan penjelasan mendalam terkait keberadaan BHC di atas lahan pertanian.

“Kami masih perlu melakukan pengecekan lebih lanjut terkait status lahan tersebut,” ujarnya singkat kepada awak media.

Sorotan juga datang dari DPRD Kabupaten Sumenep. Anggota Komisi III, Akhmadi Yazid, menyebutkan bahwa banjir yang terjadi bukan hanya karena hujan deras, tetapi juga akibat buruknya pengelolaan tata ruang.

Menurutnya, banyak lahan resapan air yang telah dialihfungsikan secara ilegal, termasuk menjadi tambang Galian C di wilayah Batuan dan Rubaru, yang juga menjadi perhatian serius Komisi III.

“Salah satu faktornya adalah alih fungsi lahan. Banyak tambang Galian C ilegal yang beroperasi dan memperparah kondisi banjir saat curah hujan tinggi,” tegas Akhmadi Yazid.

Ia menambahkan bahwa Komisi III akan menggelar rapat bersama pimpinan DPRD Sumenep untuk membahas langkah konkret penutupan tambang-tambang ilegal tersebut.

“Insyaallah besok kami akan rapat dengan pimpinan dewan untuk membahas penutupan tambang Galian C ilegal yang masih beroperasi,” imbuhnya.

Yasid menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal masalah ini agar tidak terus berulang, terutama jika pembangunan di Sumenep tidak memperhatikan aspek lingkungan.

Baca Juga :  Debat Terbuka Relawan! Sahabat Muda AF Terpaksa Ungkap Data Negara Dihadapan Generasi Sumenep Hijau

Banjir kali ini menjadi sinyal kuat bahwa penataan ruang di Kota Sumenep perlu dievaluasi. Kehilangan daerah resapan air dan maraknya tambang ilegal patut menjadi perhatian serius.

Bila tidak segera diatasi, banjir bukan hanya mengancam kenyamanan warga kota, tetapi juga berdampak pada ekosistem dan pertanian di wilayah sekitar.

Loading

Penulis : Dre

Berita Terkait

Dugaan Pungutan Parkir di MCF#4 Jadi Sorotan, Kades Pabian Dorong Penertiban Tanpa Pandang Bulu
Sumenep Bersholawat 3 September: Ribuan Jamaah Diajak Bersatu dalam Doa dan Cinta Rasulullah
Jangan Sampai Terlewat! Kiki Asiska Hadir di Malam Puncak Madura Culture Fest #4
Pesta Usai, Sampah Menggunung! Petugas DLH Sumenep Sterilkan GOR A Yani
Bertahun-tahun Gelap, Kini Rumah Warga Aeng Pao Kangean Terang Berkat PLN
Bukan Sekadar Rp3.000 – Rp10.000, Karcis Penitipan Motor di MCF #4 Pertanyakan Legalitasnya
Ning Lia Makin Rajin Sambangi Madura, Dari Temui Kiai hingga Bongkar Luka Pascakonflik
Kursi Strategis Polresta Tuban Bergeser, Kapolresta Ungkap Alasan di Baliknya

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 11:22 WIB

Dugaan Pungutan Parkir di MCF#4 Jadi Sorotan, Kades Pabian Dorong Penertiban Tanpa Pandang Bulu

Rabu, 2 September 2026 - 08:32 WIB

Sumenep Bersholawat 3 September: Ribuan Jamaah Diajak Bersatu dalam Doa dan Cinta Rasulullah

Rabu, 2 September 2026 - 06:46 WIB

Jangan Sampai Terlewat! Kiki Asiska Hadir di Malam Puncak Madura Culture Fest #4

Rabu, 2 September 2026 - 06:39 WIB

Pesta Usai, Sampah Menggunung! Petugas DLH Sumenep Sterilkan GOR A Yani

Rabu, 2 September 2026 - 05:49 WIB

Bertahun-tahun Gelap, Kini Rumah Warga Aeng Pao Kangean Terang Berkat PLN

Selasa, 1 September 2026 - 14:45 WIB

Ning Lia Makin Rajin Sambangi Madura, Dari Temui Kiai hingga Bongkar Luka Pascakonflik

Selasa, 1 September 2026 - 13:34 WIB

Kursi Strategis Polresta Tuban Bergeser, Kapolresta Ungkap Alasan di Baliknya

Selasa, 1 September 2026 - 10:09 WIB

Warga Sumenep, Siapkan Hati! Sumenep Bersholawat Digelar Malam Ini di GOR A Yani

Berita Terbaru