Blunder! Disbudporapar dan FKPPI Didesak Klarifikasi kejanggalan pelaksanaan KEN 2026 di Sumenep

Minggu, 6 September 2026 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

SUMENEP, nusainsider.com — Di balik kemeriahan Festival Musik Tong-tong se-Madura 2026, perjuangan peserta ternyata tidak selalu berjalan mulus. Grup Musik Tong-tong Mega Remmeng asal Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, harus menghadapi kendala teknis sebelum mencapai garis start.

Mega Remmeng membawa dekorasi berukuran hampir 9 meter menuju lokasi festival. Namun, perjalanan mereka terganggu kabel listrik berukuran besar yang melintang cukup rendah di jalur menuju garis start.

Situasi semakin sulit karena jalur tersebut memiliki belokan cukup tajam. Panjang dekorasi membuat kendaraan dan kru Mega Remmeng tidak leluasa bermanuver melewati titik tersebut.

Tim akhirnya harus melakukan bongkar-pasang serta mengatur kembali posisi dekorasi agar dapat melewati jalur dengan aman. Proses tersebut berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit.

Berkat kekompakan dan kesabaran seluruh kru, Mega Remmeng akhirnya berhasil melewati rintangan tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi festival yang menjadi bagian dari rangkaian Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Sekretaris Grup Musik Tong-tong Mega Remmeng, Toifur Ali Wafa, menilai event berskala besar semestinya dipersiapkan secara matang dari berbagai sektor. Menurutnya, persiapan tidak hanya menyangkut panggung dan penampilan peserta.

“Event besar seperti ini harus diperhatikan dari berbagai sektor sehingga pelaksanaannya berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Toifur kepada media ini, Minggu (6/9/2026).

Selain persoalan teknis, Toifur menyoroti mekanisme live rekapitulasi penilaian melalui akun YouTube Ayo ke Sumenep yang disebutnya diduga milik Disbudporapar Sumenep.

Baca Juga :  Ketahanan Pangan Jungkat Disorot, FPR Desak Audit Dana Desa Rp200 Juta

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk transparansi karena masyarakat dapat mengikuti proses rekapitulasi secara langsung. Namun, transparansi harus didukung sistem dan kesiapan teknis yang matang.

“Dalam live rekapitulasi penilaian, ada banyak kejanggalan, entah itu karena kondisi jaringan atau kondisi lain. Penilaian dengan cara live di akun YouTube memang membuktikan adanya transparansi langsung yang bisa diketahui publik,” katanya.

Ia menegaskan kritik tersebut bukan untuk menjatuhkan penyelenggara, melainkan sebagai masukan agar festival kesenian khas Madura itu semakin profesional. Terlebih, Festival Musik Tong-tong telah masuk agenda nasional melalui KEN.

Toifur sapaan akrabnya berharap berbagai persoalan teknis menjadi bahan evaluasi panitia dan pihak terkait. Menurutnya, musik tong-tong bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari identitas budaya Madura yang mencerminkan kreativitas, kekompakan, serta tradisi masyarakat yang diwariskan turun-temurun.

“Jangan sampai event sebesar ini justru meninggalkan persoalan yang kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Semua harus dievaluasi agar ke depan pelaksanaannya semakin baik,” tegasnya.

Bahkan, ia menyebut keberlanjutan festival perlu dievaluasi serius jika persoalan lokasi dan teknis terus berulang.

“Kalau persiapan lokasi dan berbagai persoalan dalam event besar bertaraf nasional ini selalu meninggalkan ketidaksehatan, lebih baik event kesenian khas Madura ini tahun depan ditiadakan daripada terus menimbulkan persoalan,” ujarnya.

Meski demikian, Mega Remmeng tetap mengapresiasi perjuangan seluruh peserta, khususnya seniman dan kru yang telah mempersiapkan penampilan sejak jauh-jauh hari.

“Kami berharap ke depan semua pihak bisa duduk bersama, melakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan. Jangan sampai persoalan teknis mengalahkan semangat para pelaku seni yang sudah berjuang jauh-jauh hari,” pungkasnya.

Lebih lanjut Toifur juga mempertanyakan klasifikasi penilaian dalam Festival Musik Tong-tong. Toifur mengaitkannya dengan penetapan musik tradisional tong-tong sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek RI pada 2025.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi, KSOP Panarukan Libatkan Stakeholder dan Masyarakat di Harhubnas 2026

Menurutnya, substansi utama musik tong-tong berada pada tabuhan, irama, musik, dan aransemen lagu. Sementara dekorasi merupakan unsur pendukung pertunjukan.

Ia mempertanyakan mengapa dekorasi seolah memiliki posisi sangat menentukan dalam klasifikasi penilaian festival.

“Dengan ditetapkannya musik tradisional tong-tong sebagai Warisan Budaya Tak Benda, yang menjadi dasar adalah tabuhan, irama, musik dan aransemen lagu. Dekorasi merupakan pendukung,” ujarnya.

Toifur meminta penjelasan terbuka mengenai bobot masing-masing unsur, terutama antara aransemen lagu dan dekorasi.

“Seharusnya aransemen lagu itu lebih utama. Sampai saat ini penilaian antara dekorasi dan aransemen lagu tidak jelas klasifikasinya,” katanya.

Ia kemudian mempertanyakan substansi lomba tersebut. “Festival Musik Tong-tong ini sebenarnya lomba hias dekorasi atau lomba aransemen lagu yang indah?” ucapnya.

Toifur meminta Disbudporapar Sumenep memberikan klarifikasi agar tidak muncul persepsi berbeda mengenai konsep, mekanisme, dan standar penilaian festival.

“Terakhir, ingat ditetapkannya musik tradisional tong-tong sebagai Warisan Budaya Tak Benda, dasarnya apa? Kadisbudporapar wajib memberikan klarifikasi atas berbagai kejanggalan pelaksanaan event bertaraf nasional ini,” tutupnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Pelantikan dan PKD XV PMII STITA, Momentum Menguatkan Loyalitas dan Intelektualitas
Festival Karaoke Dangdut Media Expo 2026 Sumenep Memanas, 25 Peserta Tembus Semifinal
Dari Bazar Murah hingga Deklarasi, Sumenep Youth Movement 2026 Dorong Peran Strategis Pemuda
Semangat Sumpah Pemuda, Kapolres Pamekasan Lepas 150 Perwakilan Mahasiswa dan Santri Menuju Polda Jatim
TBIN UIN Madura Gelar Konferensi Internasional Lalonget ke-7, Hadirkan Narasumber Empat Negara
Ning Lia Hadiri Media Expo 2026, Budaya Madura Dinilai Punya Potensi Ekonomi Kreatif
Media Expo Perdana di Jatim Dibuka di Sumenep, Pemprov Jatim Dorong Pelestarian Budaya dan Kesenian
Membanggakan! Awan Dania Dwi Putri Raih Juara 1 Seni Tunggal Remaja Putri di Trunodjoyo National Championship III 2026

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Pelantikan dan PKD XV PMII STITA, Momentum Menguatkan Loyalitas dan Intelektualitas

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Festival Karaoke Dangdut Media Expo 2026 Sumenep Memanas, 25 Peserta Tembus Semifinal

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Dari Bazar Murah hingga Deklarasi, Sumenep Youth Movement 2026 Dorong Peran Strategis Pemuda

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Semangat Sumpah Pemuda, Kapolres Pamekasan Lepas 150 Perwakilan Mahasiswa dan Santri Menuju Polda Jatim

Rabu, 28 Oktober 2026 - 01:28 WIB

Ning Lia Hadiri Media Expo 2026, Budaya Madura Dinilai Punya Potensi Ekonomi Kreatif

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:11 WIB

Media Expo Perdana di Jatim Dibuka di Sumenep, Pemprov Jatim Dorong Pelestarian Budaya dan Kesenian

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:53 WIB

Membanggakan! Awan Dania Dwi Putri Raih Juara 1 Seni Tunggal Remaja Putri di Trunodjoyo National Championship III 2026

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Media Expo 2026 Perdana di Jawa Timur, Cak Fauzi Beri Apresiasi kepada Tiga Media Lokal

Berita Terbaru