Gemuruh Tongtong Kembali Kuasai Sumenep, 27 Grup Se-Madura Tampil Spektakuler

Sabtu, 5 September 2026 - 22:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Grup Musik Tong-tong Mega Remmeng saat Unjuk Aksi di Garis START Festival Musik Tong-tong dalam Gelaran Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026

Foto. Grup Musik Tong-tong Mega Remmeng saat Unjuk Aksi di Garis START Festival Musik Tong-tong dalam Gelaran Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026

SUMENEP, nusainsider.com Bukan suara kendaraan atau hiruk-pikuk aktivitas malam yang mendominasi Kota Sumenep, Sabtu (5/9/2026) malam. Dentuman musik tradisional tongtong justru mengambil alih suasana dan menggema di sepanjang jalur festival.

Sebanyak 27 grup tongtong dari berbagai wilayah se-Madura turun ke jalan dalam Festival Tongtong Sumenep 2026. Mereka tidak hanya membawa alat musik tradisional, tetapi juga menyuguhkan kreativitas, karakter, dan identitas kelompok masing-masing di hadapan masyarakat.

Gemuruh tabuhan tongtong terdengar silih berganti sepanjang rute festival. Masyarakat yang menyaksikan dari sejumlah titik pun mendapat suguhan pertunjukan seni tradisional yang dikemas dalam semangat kompetisi sekaligus pelestarian budaya.

Festival ini menjadi salah satu momentum penting untuk kembali menempatkan kesenian tongtong sebagai bagian dari identitas budaya Madura yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Rangkaian festival dimulai dari kawasan selatan Stadion A. Yani Sumenep. Dari titik tersebut, para peserta bergerak menyusuri Jalan Urip Sumoharjo sebelum menuju garis finis di kawasan Simpang Lima Kampong Arab, Kota Sumenep.

Sepanjang perjalanan, masing-masing grup berupaya menunjukkan kemampuan terbaiknya. Perpaduan tabuhan yang dinamis dengan aransemen khas setiap kelompok membuat suasana festival semakin semarak.

Tongtong yang selama ini dikenal sebagai salah satu kesenian musik tradisional Madura kembali menunjukkan daya tariknya. Di tangan para pelaku seni, alat musik sederhana tersebut mampu menghasilkan pertunjukan yang kuat, atraktif, dan mampu menghidupkan suasana di ruang publik.

Baca Juga :  Meriah! 48 Pasang Sapi Adu Cepat di Sumenep, HUT ke-60 Korem 084 Jadi Pesta Budaya Madura

Namun, ada hal yang membuat festival tahun ini tidak sekadar menjadi ajang adu kreativitas bermusik.

Seluruh peserta juga membawakan lagu wajib berjudul “Guwa Pajudan”. Lagu tersebut mengangkat salah satu destinasi bersejarah yang berada di ujung timur Pulau Madura.

Kehadiran lagu wajib itu memberikan warna tersendiri dalam festival. Seni musik tradisional tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk mengenalkan kembali kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Madura.

Dengan demikian, Festival Tongtong Sumenep 2026 tidak berhenti pada kemeriahan suara tabuhan. Di balik dentuman yang memenuhi jalanan Kota Sumenep, terdapat pesan tentang bagaimana warisan budaya tetap dijaga agar tidak tergerus perubahan zaman.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, menilai Festival Tongtong memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional Madura.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata pertunjukan musik, melainkan bagian dari upaya menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup dan dapat dikenal oleh generasi mendatang.

“Festival ini bukan sekadar pertunjukan musik tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kita untuk merawat seni budaya Madura agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Faruk Hanafi.

Keikutsertaan 27 grup dari berbagai wilayah se-Madura menjadi gambaran bahwa kesenian tongtong masih memiliki ruang yang kuat di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Idul Adha 1444H, PN Jaktim Salurkan 4 Ekor Sapi Kepada Masyarakat

Keragaman peserta juga memperlihatkan bahwa musik tongtong tidak berhenti pada satu bentuk pertunjukan. Setiap kelompok membawa karakter masing-masing, sehingga festival menjadi ruang bertemunya berbagai kreativitas dalam satu panggung budaya.

Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, keberadaan festival semacam ini menjadi penting. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan kesenian sebagai peninggalan masa lalu.

Budaya harus tetap dimainkan, diperkenalkan, dikembangkan, dan diwariskan. Festival Tongtong menjadi salah satu ruang untuk memastikan proses tersebut terus berlangsung.

Lebih jauh, keterlibatan masyarakat dalam menyaksikan festival juga menjadi bagian dari ekosistem pelestarian budaya. Ketika kesenian tradisional masih mampu menarik perhatian publik, terutama di ruang terbuka dan pusat keramaian, peluang keberlangsungannya menjadi semakin besar.

Festival Tongtong Sumenep 2026 pun memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional dapat berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat modern.

Baca Juga :  Meresahkan! Sekitaran Masjid Istiqlal Sudah Tidak Aman

Tongtong bukan sekadar bunyi-bunyian yang dimainkan dalam sebuah festival. Ia menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, sekaligus identitas yang melekat pada masyarakat Madura.

Sementara itu, lagu wajib “Guwa Pajudan” memberikan pesan tambahan bahwa seni dan sejarah dapat berjalan bersama. Sebuah karya musik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan tempat, cerita, dan kekayaan sejarah kepada masyarakat yang lebih luas.

Pada akhirnya, gemuruh 27 grup tongtong yang memenuhi jalanan Kota Sumenep malam itu menjadi lebih dari sekadar kemeriahan sebuah acara.

Dentuman tersebut menjadi penanda bahwa seni tradisional Madura masih hidup.

Bahkan, ketika zaman terus berubah dan budaya modern semakin mudah masuk ke tengah kehidupan masyarakat, tongtong tetap mampu menemukan tempatnya sendiri.

Festival Tongtong Sumenep 2026 menjadi bukti bahwa warisan leluhur tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, tradisi dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk berkreasi, tampil, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Malam itu, Kota Sumenep bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah festival. Kota Keris tersebut berubah menjadi panggung besar tempat identitas budaya Madura kembali bergema melalui 27 grup tongtong dari berbagai penjuru Madura.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Malik Effendi Dukung Gagasan Bupati Sumenep: Kabupaten Kepulauan Sudah Saya Gagas Sejak di DPRD
Blunder! Disbudporapar dan FKPPI Didesak Klarifikasi kejanggalan pelaksanaan KEN 2026 di Sumenep
Sengit dan Meriah! Ini Daftar Juara Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2026
Di Balik Gemuruh Festival Tongtong, Petugas DLH Sumenep Berjibaku Bersihkan Sampah hingga Pagi
Di Forum Maulid Nabi Ansor Talango, Rasidi Tekankan Pentingnya Kreativitas dan Pemberdayaan Pemuda
Meriahkan HUT RI ke-81, Puskesmas Gayam Gelar Adu Inovasi dan Kebersihan Antar-Klaster
Aransemen Baru “Gelleng Soko” Mega Remmeng Bikin Penonton Terpukau di Festival Tong-Tong 2026
MYZE Hotel Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya Madura Lewat Dukungan ke Mega Remmeng

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 13:43 WIB

Malik Effendi Dukung Gagasan Bupati Sumenep: Kabupaten Kepulauan Sudah Saya Gagas Sejak di DPRD

Minggu, 6 September 2026 - 10:46 WIB

Blunder! Disbudporapar dan FKPPI Didesak Klarifikasi kejanggalan pelaksanaan KEN 2026 di Sumenep

Minggu, 6 September 2026 - 07:59 WIB

Sengit dan Meriah! Ini Daftar Juara Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2026

Minggu, 6 September 2026 - 06:16 WIB

Di Balik Gemuruh Festival Tongtong, Petugas DLH Sumenep Berjibaku Bersihkan Sampah hingga Pagi

Sabtu, 5 September 2026 - 22:50 WIB

Gemuruh Tongtong Kembali Kuasai Sumenep, 27 Grup Se-Madura Tampil Spektakuler

Sabtu, 5 September 2026 - 20:39 WIB

Meriahkan HUT RI ke-81, Puskesmas Gayam Gelar Adu Inovasi dan Kebersihan Antar-Klaster

Sabtu, 5 September 2026 - 20:10 WIB

Aransemen Baru “Gelleng Soko” Mega Remmeng Bikin Penonton Terpukau di Festival Tong-Tong 2026

Sabtu, 5 September 2026 - 16:52 WIB

MYZE Hotel Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya Madura Lewat Dukungan ke Mega Remmeng

Berita Terbaru