SUMENEP, nusainsider.com — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di Kampong Pocang Temor, Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep.
Jauh sebelum puncak peringatan 17 Agustus, kawasan yang berada di sebelah utara balai desa itu telah disulap menjadi lautan merah putih oleh tangan-tangan anak muda setempat.
Di gerbang utama bertuliskan “Kampong Pocang Temor“, dua Bendera Merah Putih tampak berkibar gagah mengapit lambang Garuda. Tepat di bawahnya, terbentang spanduk bertuliskan tema nasional HUT ke-81 RI, “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur“, menjadi penanda dimulainya rangkaian perayaan kemerdekaan di kampung tersebut.
Berbeda dengan dekorasi yang dipasang secara seremonial, seluruh ornamen di Pocang Temor lahir dari semangat gotong royong masyarakat. Motor penggeraknya adalah Pemuda Pocang Temor (PPT) yang kembali menginisiasi kegiatan Agustusan dengan mengandalkan swadaya warga.
“Kami ingin Agustusan punya rasa kebersamaan. Tema nasional kami bawa pulang ke kampung agar masyarakat ikut merasakan semangat kemerdekaan,” ujar salah seorang penggerak PPT, Busaki, Senin (4/8).
Langkah pertama yang dilakukan para pemuda adalah menghiasi jalan utama kampung dengan ratusan umbul-umbul merah putih.
Deretan umbul-umbul dipasang mulai dari pintu masuk kampung hingga kawasan permukiman yang membentang di wilayah Desa Cangkreng dan sebagian Desa Meddelan.
Pemasangannya dibuat rapat agar saat tertiup angin, warna merah putih tampak bergelombang menyambut setiap warga maupun tamu yang melintas.
Menurut Busaki, seluruh biaya pengadaan atribut berasal dari hasil patungan warga. Sementara proses pemasangan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat.
“Dana dari patungan warga. Tenaganya juga swadaya. Ada yang mencari bambu, menjahit umbul-umbul, hingga mengikat dan memasangnya bersama-sama,” katanya.
Tak hanya mempercantik jalan utama, suasana malam di Kampong Pocang Temor juga disiapkan lebih semarak. Warga menghias taneyan lanjang, halaman memanjang khas masyarakat Madura yang menjadi pusat aktivitas sosial dan tempat berkumpul warga.
Kaum ibu turut mengambil peran dengan memasang lampu hias dan bendera merah putih di sepanjang taneyan. Ketika malam tiba, kawasan tersebut berubah menjadi ruang kebersamaan yang hangat bagi warga dari berbagai usia.
“Taneyan itu jantungnya kampung. Kalau taneyan ramai, berarti kehidupan kampung juga hidup,” tutur Busaki.
Sebagai puncak perayaan, Pemuda Pocang Temor menyiapkan berbagai perlombaan tradisional yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa. Di antaranya balap kelereng, nyunggi tampah, dan sejumlah permainan rakyat yang selama ini menjadi ciri khas peringatan Hari Kemerdekaan.
Namun, perayaan tahun ini tidak hanya menghadirkan hiburan. Panitia juga menyisipkan kuis bertema sejarah perjuangan bangsa agar generasi muda memahami makna di balik peringatan 17 Agustus.
“Anak-anak tidak hanya diajak lomba, tetapi juga diberi pemahaman tentang Proklamasi Kemerdekaan dan para pahlawan yang memperjuangkan Indonesia,” ujar warga Pocang Temor, Luqman Hakim.
Rangkaian kegiatan nantinya akan ditutup dengan doa bersama di taneyan lanjang sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan sekaligus memohon keselamatan bangsa dan keberkahan bagi seluruh warga. Setelah itu, panitia akan menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba dalam suasana penuh kebersamaan.
Bagi masyarakat Pocang Temor, peringatan HUT RI tahun ini terasa lebih istimewa. Selain dekorasi yang lebih meriah, seluruh rangkaian kegiatan dibangun dari semangat kebersamaan tanpa bergantung pada bantuan pihak lain.
“Harapan kami sederhana. Di usia ke-81 kemerdekaan Indonesia, Merah Putih tetap hidup di kampung kecil ini. Hidup di gerbang, di jalan, di lampu-lampu, dan yang paling penting hidup di hati masyarakat,” tegas Luqman.
Semangat yang ditunjukkan warga Kampong Pocang Temor menjadi bukti bahwa makna kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui upacara maupun seremoni. Di kampung kecil tersebut, tema nasional ‘Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur‘ diterjemahkan melalui aksi nyata berupa gotong royong, kepedulian sosial, serta kebersamaan dalam membangun lingkungan secara mandiri.
![]()
Penulis : Wafa
















