Dulu Mengkritik, Kini Berada di Dalam: Ketika Idealisme Diuji Kekuasaan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Pimred nusainsider.com / Toifur Ali Wafa

Foto. Pimred nusainsider.com / Toifur Ali Wafa

OPINI, nusainsider.com — Kekuasaan selalu memiliki cara yang unik dalam menguji manusia. Ia tidak selalu datang dalam bentuk tekanan, ancaman, atau larangan untuk berbicara.

Kadang-kadang, kekuasaan justru datang melalui sebuah kursi, sebuah jabatan, sebuah undangan masuk ke dalam lingkaran pengambil keputusan. Di situlah paradoks bermula.

Seseorang yang selama bertahun-tahun berdiri di luar pagar kekuasaan, mengamati, mengkritik, bahkan sesekali menggugat cara kerja kekuasaan, tiba-tiba dipersilakan masuk ke dalam pagar tersebut.

Pada titik itu, pertanyaan publik menjadi menarik: apakah seseorang akan tetap menjadi dirinya sendiri setelah berada di dalam ruang yang selama ini ia kritik?

Pertanyaan tersebut terasa relevan ketika nama Rocky Gerung kembali menjadi perbincangan setelah dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, 2 Oktober 2026 dan Nur Hayat yang Dipercaya menjadi Tenaga Ahli Bupati Sumenep Beberapa Tahun Lalu.

Rocky bukan nama yang lahir dari ruang sunyi. Ia tumbuh sebagai figur publik melalui perdebatan gagasan, kritik politik, filsafat, dan keberaniannya mempertanyakan banyak hal yang dianggap mapan.

Selama berada di luar kekuasaan, posisi Rocky relatif jelas: ia adalah pengamat, pengkritik, dan intelektual yang memiliki kebebasan untuk mengambil jarak dari kekuasaan.

Namun, sejarah pemikiran politik mengajarkan satu hal: Jarak Terhadap Kekuasaan Adalah Sumber Kebebasan, Tetapi Kedekatan Dengan Kekuasaan Adalah Ujian Terhadap Kebebasan Itu Sendiri.

Dan kini Rocky berada di dalam ujian tersebut

Menariknya, jauh sebelum nama Rocky masuk ke dalam ruang resmi kekuasaan, kita juga pernah menyaksikan fenomena serupa dalam skala daerah melalui sosok Nur Hayat yang dipercaya menjadi Tenaga Ahli Bupati Sumenep.

Nur Hayat dan Rocky Gerung tentu bukan dua sosok yang dapat dipertukarkan. Mereka memiliki latar belakang, pengalaman, karakter, serta medan perjuangan yang berbeda.

Namun, ada satu kesamaan menarik: keduanya dikenal karena gagasan, keberanian menyampaikan pandangan, dan posisi intelektual yang sebelumnya berada di luar ruang utama kekuasaan.

Baca Juga :  Lantunan Shalawat Kembali Dilangitkan, Belasan Ribu Massa Serukan Kemenangan FAHAM

Ketika kemudian keduanya mendapatkan ruang di dalam pemerintahan, pertanyaan filosofisnya menjadi lebih besar daripada sekadar soal jabatan.

Apa yang terjadi pada idealisme ketika ia bertemu dengan kekuasaan?

Sebab idealisme sering kali tampak sangat indah ketika berada di ruang yang steril dari kepentingan.

Di ruang diskusi, seminar, kampus, media, ataupun warung kopi, seseorang dapat berbicara tentang keadilan secara utuh. Ia dapat mengatakan bahwa rakyat harus menjadi pusat kebijakan, bahwa kekuasaan harus dikontrol, bahwa kebijakan harus berpihak kepada mereka yang lemah.

Namun pemerintahan tidak bekerja hanya dengan gagasan.

Pemerintahan bekerja dengan regulasi, anggaran, struktur birokrasi, kompromi, keterbatasan kewenangan, kepentingan yang saling bertabrakan, dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Karena itu, memasuki pemerintahan bukan berarti meninggalkan idealisme. Tetapi memasuki pemerintahan berarti membawa idealisme ke medan yang jauh lebih rumit.

Di sinilah filsafat politik menemukan relevansinya.

Kekuasaan tidak selalu menghancurkan idealisme melalui paksaan. Kadang-kadang ia mengubah idealisme secara perlahan melalui normalisasi.

Sesuatu yang dahulu dianggap tidak dapat diterima, setelah seseorang berada di dalam sistem, perlahan dianggap sebagai sesuatu yang “WAJAR”.

Hari ini menolak.

Besok memahami.

Lusa memaklumi.

Dan suatu ketika, tanpa disadari, seseorang mungkin telah menjadi bagian dari sesuatu yang dahulu ia kritik.

Apa yang dulu dianggap “Salah” Maka saat ini bisa jadi Akan Menjadi “Benar“.

Itulah paradoks terbesar dari kekuasaan.

Karena kekuasaan tidak selalu meminta seseorang untuk mengkhianati prinsipnya. Kekuasaan cukup membuat seseorang terus-menerus bernegosiasi dengan prinsip tersebut.

Maka, pertanyaan paling penting bukan apakah Rocky Gerung masih kritis setelah menjadi Wantimpres.

Apakah Nur Hayat akan Tetap mempertahankan Suara Rakyat Setelah Jadi Tenaga Ahli Bupati.

Baca Juga :  Kolaborasi RSUDMA dan TNI Wujudkan Lingkungan Bebas Asap Rokok

Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Sejauh Mana Kritik Masih Dapat Hidup Ketika Sang Pengkritik Telah Menjadi Bagian Dari Struktur Yang Dikritiknya?

Ketika seseorang yang dikenal memiliki keberanian menyuarakan keadilan kemudian masuk ke dalam ruang kebijakan, tantangannya bukan lagi sekadar berbicara tentang rakyat.

Tantangannya adalah bagaimana gagasan tentang rakyat diterjemahkan menjadi keputusan.

Karena ada perbedaan besar antara berbicara atas nama rakyat dan mengambil keputusan yang benar-benar berdampak kepada rakyat.

Di sinilah jabatan menjadi semacam laboratorium etika.

Ia menguji apakah seseorang hanya memiliki keberanian retoris atau juga memiliki keberanian moral.

Keberanian retoris membuat seseorang berani berbicara ketika berbicara tidak memiliki konsekuensi langsung terhadap dirinya.

Keberanian moral justru muncul ketika seseorang harus berbicara dalam situasi di mana pendapatnya mungkin tidak disukai oleh orang yang memiliki kewenangan.

Maka ukuran idealisme sesungguhnya bukan seberapa keras seseorang berbicara ketika berada di luar kekuasaan.

Ukuran idealisme adalah seberapa jauh ia mampu mempertahankan prinsip ketika prinsip itu mulai memiliki harga.

Dalam konteks inilah Rocky Gerung dan Nur Hayat menjadi menarik untuk diamati, bukan untuk dibandingkan siapa yang lebih baik, melainkan untuk melihat sebuah fenomena yang lebih besar: Perjalanan manusia dari ruang kritik menuju ruang kekuasaan.

Sebab kekuasaan adalah ruang yang tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih.

Di dalamnya terdapat wilayah abu-abu yang luas. Di sanalah idealisme diuji.

Ada keputusan yang benar secara hukum tetapi diperdebatkan secara etika.

Ada kebijakan yang baik secara konsep tetapi sulit diterapkan.

Ada kepentingan publik yang harus berhadapan dengan kepentingan institusional.

Dan pada akhirnya, seorang penasihat, tenaga ahli, pejabat, maupun pengambil kebijakan akan berhadapan dengan pertanyaan klasik filsafat:

Apa yang benar, ketika semua pilihan memiliki konsekuensi?

Barangkali karena itulah masyarakat tidak perlu terburu-buru memberikan penilaian.

Baca Juga :  Desa Cantik Hadir, Pemkab Sumenep Pastikan Kebijakan Tepat Sasaran

Waktu adalah penguji yang jauh lebih jujur daripada tepuk tangan.

Biarkan gagasan diuji oleh keputusan.

Biarkan kritik diuji oleh keberanian memberi nasihat.

Biarkan idealisme diuji oleh konsistensi.

Sebab manusia dapat membangun citra dalam sehari, tetapi hanya waktu yang mampu membuktikan karakter.

Rocky Gerung kini memasuki ruang baru. Nur Hayat pun pernah mengalami perpindahan ruang yang serupa dalam konteks pemerintahan daerah hingga saat ini masih belum diketahui suaranya tetap Bersama “Rakyat” atau sudah Hilang menjadi “Laknat“.

Keduanya menghadapi pertanyaan yang pada hakikatnya sama:

Apakah seseorang tetap mampu menjaga kompas moral ketika ia tidak lagi berdiri di luar kapal, melainkan sudah berada di dalam ruang kendalinya?

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan slogan.

Tidak pula dengan pembelaan.

Jawabannya akan muncul dari tindakan.

Dari bagaimana sebuah nasihat disampaikan.

Dari bagaimana sebuah kebijakan dikritisi.

Dari kapan seseorang memilih berbicara dan kapan memilih diam.

Dan yang paling penting, dari apakah kepentingan publik tetap menjadi horizon ketika kepentingan kekuasaan berada tepat di depan mata.

Pada akhirnya, masuk ke dalam kekuasaan bukanlah akhir dari idealisme. Ia justru mungkin merupakan ujian tertinggi terhadap idealisme itu sendiri.

Sebab sangat mudah menjadi idealis ketika kita tidak memiliki apa-apa untuk dipertahankan. Dan yang jauh lebih sulit adalah tetap menjadi idealis ketika kita telah memiliki posisi, akses, pengaruh, dan kesempatan untuk memilih kenyamanan.

Di situlah manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Bukan lagi dengan publik.

Bukan pula dengan lawan politik.

Tetapi dengan suara kecil dalam dirinya yang terus bertanya:
Ketika kekuasaan memberiku tempat, apakah aku masih membawa gagasanku atau perlahan gagasan itu yang mulai menyesuaikan diri dengan kekuasaan?

Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis : Toifur Ali Wafa, Pimred nusainsider.com

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut
Dari Bawang Mentah Jadi Produk Rp200 Ribu, Disbudporapar Sumenep Dorong Santri Jadi Entrepreneur
Aksi Mahasiswa Sambut dan Tolak Panglima TNI di Sumenep Dikabarkan Batal, Aktivis: Tunggu Kepastian
Warga Langsar Krisis Air Sejak Juli, Pemkab Sumenep Gandeng BAZNAS dan TNI Gelontorkan 1,2Liter Air Bersih
Krisis Air di Desa Olor, Mahasiswa UTM Gelar Aksi Sosial Selama Tiga Hari
Promosi Wisata Sumenep Masuk Era Digital, Duta Wisata Diminta Lebih Kreatif
Milad ke-60, KOHATI Sumenep Gelar Simposium dan Launching Buku Isu Perlindungan Perempuan
HUT ke-81 TNI, Dandim Pamekasan Tegaskan Kemanunggalan dengan Rakyat

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Rider’s Parade MotoGP Jadi Panggung Promosi Budaya Sumenep Lewat Tongtong Angin Ribut

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Dari Bawang Mentah Jadi Produk Rp200 Ribu, Disbudporapar Sumenep Dorong Santri Jadi Entrepreneur

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:59 WIB

Aksi Mahasiswa Sambut dan Tolak Panglima TNI di Sumenep Dikabarkan Batal, Aktivis: Tunggu Kepastian

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Warga Langsar Krisis Air Sejak Juli, Pemkab Sumenep Gandeng BAZNAS dan TNI Gelontorkan 1,2Liter Air Bersih

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Krisis Air di Desa Olor, Mahasiswa UTM Gelar Aksi Sosial Selama Tiga Hari

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Milad ke-60, KOHATI Sumenep Gelar Simposium dan Launching Buku Isu Perlindungan Perempuan

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:35 WIB

HUT ke-81 TNI, Dandim Pamekasan Tegaskan Kemanunggalan dengan Rakyat

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:32 WIB

Kenang Jasa Pahlawan, Kodim 0827/Sumenep Gelar Ziarah Jelang HUT TNI ke-81

Berita Terbaru