JATIM, nusainsider.com — Perekonomian Jawa Timur menunjukkan kinerja positif sepanjang paruh pertama 2026. Secara kumulatif hingga Triwulan II 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,84 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,45 persen.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Senator yang akrab disapa Ning Lia itu menilai pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi indikator bahwa Jawa Timur mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan optimisme pembangunan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Lia, capaian tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta dukungan berbagai elemen masyarakat.
“Capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ini tentu patut kita apresiasi. Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan, Jawa Timur mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat. Ini menunjukkan kepemimpinan Ibu Gubernur Khofifah bersama seluruh jajaran dan kolaborasi berbagai elemen mampu menjaga optimisme pembangunan Jawa Timur,” ujar Lia saat ditemui di kantornya, Jumat (7/8/2026).
Bagi Ning Lia, pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya hanya dibaca sebagai angka statistik. Pertumbuhan harus mampu menciptakan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja, penguatan usaha masyarakat dan penurunan kemiskinan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Jawa Timur berada di angka 9,06 persen. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur tercatat sebesar 3,42 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 4,65 persen.
Menurut Lia, penurunan kemiskinan dan rendahnya tingkat pengangguran menjadi indikator penting untuk melihat kualitas pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi akan semakin bermakna ketika dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketika pengangguran menurun, kemiskinan berkurang, kesempatan kerja semakin terbuka, dan aktivitas ekonomi masyarakat semakin berkembang, maka pertumbuhan itu memiliki kualitas yang semakin baik,” katanya.
Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama
Kinerja ekonomi Jawa Timur ditopang sejumlah sektor produktif. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 31,27 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 18,49 persen, serta sektor pertanian sebesar 10,87 persen.
Ning Lia menilai struktur tersebut menunjukkan Jawa Timur memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki keterkaitan penting dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Industri pengolahan mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Perdagangan menjadi penggerak distribusi barang dan jasa, sedangkan pertanian tetap menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.
Namun, Lia mengingatkan agar pertumbuhan sektor-sektor tersebut terus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi masyarakat hingga tingkat daerah.
“Jawa Timur memiliki kekuatan yang lengkap, mulai dari pertanian, industri, perdagangan, UMKM hingga sumber daya manusia. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi itu terus dikoneksikan sehingga pertumbuhan ekonomi semakin inklusif dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sampai tingkat bawah,” tuturnya.
Ning Lia juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi, khususnya industri padat karya, UMKM, ekonomi kreatif dan pertanian.
Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya berkaitan dengan akses permodalan, tetapi juga harus mencakup peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, digitalisasi serta koneksi dengan industri dan rantai pasok yang lebih besar.
Ia menilai sektor ekonomi kreatif juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena Jawa Timur memiliki kekayaan budaya, kreativitas generasi muda dan potensi daerah yang beragam.
“Yang harus kita jaga adalah agar pertumbuhan ini tidak berhenti pada angka statistik. Pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi semakin banyak kesempatan kerja, semakin kuatnya UMKM, meningkatnya produktivitas masyarakat, serta semakin turunnya kemiskinan,” tegasnya.
Ning Lia turut mengapresiasi pendekatan kolaboratif yang dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, akademisi, pelaku UMKM dan masyarakat.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Kamis (6/8/2026) menyampaikan bahwa capaian pembangunan Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Khofifah menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak.
Ning Lia berharap tren positif tersebut dapat dipertahankan hingga akhir 2026. Ia juga mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja agar masyarakat Jawa Timur mampu mengambil peluang dari perkembangan industri dan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus berjalan beriringan dengan pemerataan pembangunan.
“Pertumbuhan yang tinggi harus dibarengi dengan pemerataan. Karena ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya bukan hanya seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi seberapa banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari pertumbuhan tersebut,” pungkas Lia.
![]()
Penulis : Wafa
















