OPINI : Angin Ribut yang Seolah Tak Berani Ribut

Minggu, 6 September 2026 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Grup Musik tong-tong Angin Ribut Tadi Malam, Sabtu 5 September 2026

Foto. Grup Musik tong-tong Angin Ribut Tadi Malam, Sabtu 5 September 2026

OPINI, nusainsider.com — Namanya Angin Ribut. Kalau mendengar namanya saja, bayangan kita tentu sederhana: sesuatu yang datang dengan hembusan keras, mengguncang, membuat suasana berubah, lalu meninggalkan jejak.

Tapi belakangan, ada satu hal yang agak menggelitik.

Angin Ribut seolah tidak berani ribut.
Bukan karena musiknya kehilangan tenaga. Bukan karena pemainnya kehilangan kekompakan. Bukan pula karena kreativitasnya tiba-tiba menguap.

Justru sebaliknya. Angin Ribut tetap Angin Ribut.

Grup musik tong-tong legendaris asal Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep itu punya sejarah yang tidak pendek. Delapan kali Juara Umum Festival Musik Tong-tong se-Madura sejak 2001, yakni 2001, 2002, 2005, 2008, 2010, 2013, 2023, dan 2024.

Delapan kali!
Angka yang seharusnya membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mengatakan bahwa Angin Ribut hanyalah grup musik biasa.

Tetapi dalam dunia kompetisi, rupanya sejarah tidak selalu ikut naik ke atas panggung.

Piala punya logikanya sendiri.
Lembar penilaian punya jalannya sendiri.
Dan publik punya pikirannya sendiri.
Di sinilah menariknya.

Angin Ribut bukan hanya dikenal di Madura. Gaungnya telah menyeberang ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Ketika tampil di luar Madura, mereka bukan sekadar membawa alat musik.

Mereka membawa nama Sumenep.
Mereka membawa identitas Madura.
Dan, sadar atau tidak, mereka ikut membawa reputasi kesenian tradisional Madura ke hadapan publik yang lebih luas.
Itulah sebabnya ketika Angin Ribut tampil, publik tidak hanya menonton sebuah pertunjukan.
Ada ekspektasi.
Ada nostalgia.
Ada kebanggaan.
Dan tentu saja ada standar tinggi.

Baca Juga :  “Buanglah Koruptor pada Tempatnya”, Kampanye Inspektorat Sumenep Curi Perhatian di MCF

Masalahnya, panggung kompetisi tidak pernah mengenal nostalgia.
Di atas panggung, semua peserta kembali menjadi peserta.
Juara tahun lalu belum tentu juara tahun ini.
Legenda pun harus kembali bertanding.
Dan mungkin di situlah letak ironi terbesar Angin Ribut.

Pada 2025 hingga 2026, mereka tetap hadir di panggung spektakuler yang menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara atau KEN. Karya dimainkan. Aransemen disiapkan. Kekompakan ditunjukkan. Tetapi hasil akhirnya belum membuat Angin Ribut kembali duduk di singgasana performa terbaik.

Lalu publik bertanya.
Ada apa?
Pertanyaan itu sah.
Tetapi jawabannya tidak boleh dibangun dari prasangka.
Sebab juri memiliki parameter penilaian. Publik memiliki selera. Dan keduanya tidak selalu bertemu di titik yang sama.

Apa yang membuat penonton merinding belum tentu membuat angka di lembar juri melompat.
Apa yang membuat ribuan orang bersorak belum tentu menjadi alasan sebuah kelompok mendapatkan nilai tertinggi.

Begitulah kompetisi.
Kadang masuk akal.
Kadang membuat alis terangkat.
Kadang membuat penonton bertanya-tanya sambil menggaruk kepala.
Tetapi satu hal yang tidak bisa dibantah: publik memiliki “juri” sendiri.
Dan juri itu bernama waktu.

Baca Juga :  Tak Sekadar RS Jiwa, RS Menur Tunjukkan Layanan Komprehensif Berkat Dukungan Khofifah

Lihat saja bagaimana sebuah grup tetap dicari, ditunggu, dibicarakan, dan memiliki penggemar lintas daerah bahkan ketika piala tidak selalu berada di tangan.
Itulah verifikasi publik.
Ia tidak memakai meja.
Tidak memakai lembar penilaian.
Tidak memakai angka.
Dan yang paling penting, ia tidak mengenal batas waktu yang ditentukan panitia.
Karena itu, mungkin Angin Ribut memang tidak perlu terlalu ribut.

Biarkan yang ribut adalah penonton.
Biarkan yang ramai adalah perbincangan.
Biarkan karya mereka yang berbicara.

Sebab kalau sebuah grup sudah delapan kali membuktikan diri sebagai Juara Umum, kemudian masih harus berkali-kali ditanya apakah mereka benar-benar hebat, pertanyaannya justru berbalik:

Siapa sebenarnya yang sedang membutuhkan pembuktian?
Angin Ribut atau sistem kompetisinya?
Tentu ini bukan berarti hasil penilaian harus dicurigai. Tidak.

Kompetisi tetap harus dihormati.
Juri tetap memiliki otoritas.
Namun publik juga punya hak untuk memberikan penilaian kritis. Karena seni bukan matematika yang selalu menghasilkan satu jawaban mutlak.
Ada rasa.
Ada karakter.
Ada energi.
Ada sejarah.
Dan ada faktor “wow” yang terkadang sulit diterjemahkan ke dalam angka.
Mungkin inilah yang membuat Angin Ribut menjadi menarik.

Baca Juga :  Ditangan Bupati Achmad Fauzi, Konsep Pentahelix Pemkab Sumenep Mendapat Penghargaan dari TV One

Mereka memiliki nama yang terdengar gaduh, tetapi tidak harus gaduh untuk mendapatkan perhatian.
Mereka memiliki sejarah panjang, tetapi tidak perlu terus-menerus berteriak tentang sejarah itu.
Mereka pernah berada di puncak berkali-kali, tetapi tetap kembali ke panggung untuk membuktikan bahwa karya lama tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berkarya.

Jadi kalau hari ini Angin Ribut belum menjadi yang terbaik dalam sebuah kompetisi, apakah itu berarti mereka sudah kehilangan tajinya?
Belum tentu.
Karena piala hanya memberi tahu siapa yang menang pada satu malam.
Tetapi penggemar memberi tahu siapa yang punya tempat di hati.
Dan sejarah memberi tahu siapa yang benar-benar meninggalkan jejak.

Angin Ribut mungkin sedang tidak ribut.
Mungkin sedang menahan angin.
Mungkin sedang membiarkan panggung berbicara.
Atau mungkin justru sedang menunjukkan satu hal sederhana:
Tidak semua legenda harus pulang membawa piala untuk tetap disebut legenda.

Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah Angin Ribut yang ribut.
Melainkan Angin Ribut yang diam, tetapi publik masih terus membicarakannya.
Dan kalau itu yang terjadi, barangkali yang sebenarnya sedang ribut bukan Angin Ribut.
Melainkan ekspektasi kita sendiri.

Penulis : Pimred media nusainsider.com Ach Toifur Ali Wafa.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

OPINI : Sumenep, Dunia Malam Dan Ketidaksehatan
Bappeda Sumenep Diganjar Penghargaan atas Perencanaan Pembangunan yang Strategis
Melalui Program Polisi Peduli Pengangguran, Polresta Sumenep Salurkan Bansos kepada Warga
Santri Berdaya, Indonesia Berjaya: Pesan Arif Firmanto di Hari Santri Nasional 2026
SIMPEL hingga e-Stunting, Bappeda Sumenep Perkuat Perencanaan Pembangunan Berbasis Data
Dua Pengusaha Lokal Terima Apresiasi PWI Sumenep atas Kiprah di Dunia UMKM
Bappeda Sumenep Dorong Integrasi Data Pembangunan dengan Prioritas Nasional
Kapolres Pamekasan Bersama Personel Atur Lalu Lintas, Warga Beraktivitas Lebih Nyaman

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:02 WIB

OPINI : Sumenep, Dunia Malam Dan Ketidaksehatan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:45 WIB

Bappeda Sumenep Diganjar Penghargaan atas Perencanaan Pembangunan yang Strategis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Melalui Program Polisi Peduli Pengangguran, Polresta Sumenep Salurkan Bansos kepada Warga

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:53 WIB

Santri Berdaya, Indonesia Berjaya: Pesan Arif Firmanto di Hari Santri Nasional 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:48 WIB

SIMPEL hingga e-Stunting, Bappeda Sumenep Perkuat Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Bappeda Sumenep Dorong Integrasi Data Pembangunan dengan Prioritas Nasional

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Kapolres Pamekasan Bersama Personel Atur Lalu Lintas, Warga Beraktivitas Lebih Nyaman

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:46 WIB

Sambut Hari Jadi ke-757 dan Hari Santri 2026, Pemkab Sumenep Gelar Gerakan Baca Al-Waqi’ah 111.111 Kali

Berita Terbaru

Foto. Ach Toifur Ali Wafa, Pimred nusainsider.com

Hukum

OPINI : Sumenep, Dunia Malam Dan Ketidaksehatan

Sabtu, 24 Okt 2026 - 01:02 WIB