Revitalisasi Demokrasi Pancasila, BP MPR Soroti Ancaman Oligarki dan Disrupsi Digital

Rabu, 26 November 2025 - 17:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. BP MPR RI, Dr Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.i., M.E.I

Foto. BP MPR RI, Dr Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.i., M.E.I

SURABAYA, nusainsider.comBadan Pengkajian MPR RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kelompok I bertema “Kedaulatan Rakyat dalam Perspektif Demokrasi Pancasila” di Surabaya, Rabu (26/11/2025).

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat relevansi Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa di tengah dinamika era digital dan kompleksitas global yang terus berkembang.

Sejumlah pimpinan dan anggota BP MPR hadir dalam forum tersebut, di antaranya Prof. Yasonna H. Laoly, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan, Denty Eka Widi Pratiwi, Guntur Sasono, Jupri Mahmud, Hasan Basri Agus, Ahmad Basarah, Andreas Hugo Pareira, Lia Istifhama, dan Heri Gunawan.

Tiga akademisi turut menjadi narasumber, yakni Suko Widodo, Airlangga Pribadi Kusuma, dan Indah Dwi Qurbana, yang memberikan analisis mengenai arah demokrasi Indonesia serta pentingnya etika politik berbasis nilai Pancasila.

Dalam paparannya, Airlangga Pribadi menegaskan bahwa etika politik yang dirumuskan sejak masa BPUPKI berakar pada etika kerakyatan, bukan etika kerajaan.

Ia menilai penegasan ini penting untuk mencegah terjadinya konsentrasi kekuasaan pada keluarga atau kelompok tertentu, sebuah kecenderungan yang kerap muncul dalam praktik demokrasi kontemporer.

“Penegasan ini penting mengingat demokrasi hari ini sering diwarnai kecenderungan oligarki dan pemusatan kekuasaan,” ujarnya.

Para narasumber juga menyoroti pentingnya memasukkan etika lingkungan sebagai bagian dari etika Pancasila modern.

Baca Juga :  JSI Apresiasi Kiprah Ning Lia, Hingga Sambut Kedatangannya ke Sumenep

Menurut mereka, pembangunan tidak lagi cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya alam serta keselamatan rakyat, terutama dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

Kebijakan hilirisasi dinilai memberi dampak positif, namun harus diimbangi perlindungan lingkungan dan pemerataan pembangunan antarwilayah.

Diskusi turut mengangkat isu-isu strategis yang sering terpinggirkan, seperti penghormatan terhadap perbedaan, penguatan hak perempuan, dan perlindungan bagi pekerja rumah tangga.

Seluruh isu tersebut dinilai sebagai bagian integral dalam memperkuat kedaulatan rakyat melalui Demokrasi Pancasila yang inklusif.

Narasumber lainnya, Suko Widodo, menekankan pentingnya partisipasi publik sebagai “Filter Demokrasi”.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek dalam proses politik, melainkan harus tampil sebagai subjek aktif, baik dalam pemilihan pemimpin maupun pengawasan kebijakan pemerintah.

Ketua Kelompok I BP MPR sekaligus Ketua Rapat/Ketua Badan Pengkajian MPR, Prof. Dr. Yasonna H. Laoly, menegaskan pentingnya pengkajian mendalam mengenai konsep kedaulatan rakyat dalam perspektif demokrasi Pancasila, terutama setelah empat kali tahapan perubahan Undang-Undang Dasar 1945.

“Badan Pengkajian MPR mencoba mengadakan FGD ini di berbagai daerah. Kami sudah menampung banyak pemikiran dari para pakar terkait bagaimana merujuk Pancasila, khususnya sila kedua dan sila keempat, dan bagaimana kedaulatan rakyat sejatinya tercermin di dalamnya,” ujar Yasonna.

Menurutnya, perkembangan praktik ketatanegaraan, serta sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi belakangan ini, termasuk tafsir mengenai Pasal 18 terkait pemilihan kepala daerah, telah memunculkan urgensi untuk memikirkan kembali berbagai aspek dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

“Sudah saatnya kita berpikir dalam banyak hal. Ada putusan MK lagi tentang pemilihan langsung dan pemilihan demokratis kepala daerah. Ini semua perlu kita cermati dalam kerangka demokrasi Pancasila,” ujarnya.

Ia menyebutkan dirinya baru menerima salah satu buku kajian terkait perubahan UUD 1945 dari Dr. Ahmad Basarah, yang ditulis oleh Prof. Jimly Asshiddiqie, dan menilai bahwa kajian-kajian semacam ini menjadi masukan penting bagi arah pemikiran Badan Pengkajian MPR, “Imbuhnya.

Baca Juga :  Festival Layangan Led Berlangsung Meriah, Bupati Sumenep Berharap Begini

Sementara itu, Indah Dwi Qurbana menyoroti perlunya memperkuat mekanisme check and balance melalui pembagian dan pemisahan kekuasaan yang lebih adaptif. Ia menilai penguatan sistem tersebut menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan relasi sosial dan politik di tengah perubahan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota BP MPR juga menyinggung wacana Perubahan Kelima UUD 1945. Wacana itu mencakup penguatan pedoman hidup berbangsa, pendalaman kembali makna “Hikmah Kebijaksanaan” dalam demokrasi, serta pembenahan struktur ketatanegaraan agar mampu menjawab tantangan modern.

Baca Juga :  Terkuak, 4 Caleg DPD RI Jatim Ada Incumbent dan Pendatang Baru

Para pembicara menilai reformasi politik Indonesia perlu direvitalisasi dengan menjadikan Pancasila bukan hanya simbol, tetapi landasan filosofis dalam setiap kebijakan nasional.

Mereka menekankan pentingnya tidak sekadar mengikuti tren global, melainkan memastikan setiap langkah pembangunan selaras dengan nilai-nilai dasar bangsa.

Anggota DPD sekaligus Anggota BP MPR, Lia Istifhama, menyoroti bagaimana digitalisasi membawa peluang sekaligus risiko bagi kualitas demokrasi, khususnya bagi generasi milenial dan Gen-Z. Ning Lia juga membahas potensi penguatan demokrasi melalui e-consultation, e-referendum, dan e-hearing, namun mengingatkan bahaya disrupsi digital yang dapat menggerus demokrasi substantif jika tidak dikelola secara bijak.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik (H-Trust) di era keterbukaan digital, mengingat derasnya arus informasi yang sering dimanfaatkan untuk manipulasi opini atau polarisasi masyarakat.

Lia sapaan akrabnya mengakhiri sesinya dengan sebuah pantun yang mengajak peserta merenungkan kembali komitmen kebangsaan dan nilai-nilai demokrasi.

Melalui FGD ini, Badan Pengkajian MPR menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan Pancasila sebagai kompas utama dalam perumusan kebijakan nasional.

BP MPR menilai bahwa tantangan era digital mulai dari disinformasi, polarisasi, eksploitasi data, hingga ancaman terhadap integritas demokrasi harus dihadapi dengan memperkuat nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan bernegara.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU
Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat
KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa
PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah
Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern
Membeli Sama dengan Berbagi, Central 88 Gold and Jewellery Dedikasikan Hasil Usaha untuk Yatim
Ning Lia Dinilai Inspiratif, Raih Penghargaan Leadership dan Community Empowerment
JJS Gayam Pecah! Ribuan Warga Padati Jalan, Doorprize Jadi Magnet

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:42 WIB

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:18 WIB

Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:39 WIB

KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:29 WIB

PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:22 WIB

Ning Lia Dinilai Inspiratif, Raih Penghargaan Leadership dan Community Empowerment

Minggu, 23 Agustus 2026 - 06:52 WIB

JJS Gayam Pecah! Ribuan Warga Padati Jalan, Doorprize Jadi Magnet

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:10 WIB

Wacana Sumenep Kepulauan Menguat, Hosnan: Harus Berdampak pada Kebijakan Pembangunan

Berita Terbaru