Tahun 2026, Surabaya Bebas Tebus Ijazah: Wali Kota Eri Dapat Apresiasi Senator Lia

Kamis, 9 Oktober 2025 - 17:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Anggota DPD/MPR RI, Ning Lia

Foto. Anggota DPD/MPR RI, Ning Lia

SURABAYA, nusainsider.com Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali membuat gebrakan baru di bidang pendidikan. Mulai tahun 2026, tidak akan ada lagi kasus siswa SMA atau SMK di Surabaya yang kesulitan menebus ijazah karena alasan biaya.

Kebijakan tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, usai pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2026.

Ia menegaskan, Pemkot berkomitmen membantu siswa agar tidak ada lagi yang terhambat karena persoalan administrasi sekolah.

“Lek negeri aman, pemerintah yang jamin. Tapi yang swasta juga akan kami bantu,” ujar Eri Cahyadi. Ia menambahkan, meskipun SMA dan SMK merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, Pemkot Surabaya tetap merasa bertanggung jawab terhadap warganya.

Menurutnya, banyak warga Surabaya yang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah swasta dan menghadapi kendala menebus ijazah akibat tunggakan biaya.

Karena itu, Pemkot akan memberikan bantuan sebesar Rp350 ribu per siswa setiap bulan bagi sekolah-sekolah swasta.

Bantuan tersebut ditujukan untuk meringankan beban biaya pendidikan, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Dengan langkah ini, diharapkan tidak ada lagi praktik penahanan ijazah oleh pihak sekolah karena urusan biaya.

“Kami ingin memastikan tidak ada satu pun anak Surabaya yang masa depannya terhenti hanya karena tidak mampu menebus ijazah,” tegas Eri.

Kebijakan Pemkot Surabaya ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Ia menilai, langkah Wali Kota Eri Cahyadi sangat humanis dan berpihak pada rakyat kecil.

Baca Juga :  Wow! Terobosan Baru DPD RI Terpilih, Prinsip Aura Lia Istifhama Akan Mengangkat UMKM

Menurutnya, Pemkot Surabaya berani turun tangan di sektor yang sebenarnya berada di luar kewenangan pemerintah kota. Namun, keputusan itu diambil karena melihat kondisi riil masyarakat Surabaya yang masih menghadapi kesulitan ekonomi.

“Ini kebijakan yang sangat humanis. Meski pendidikan SMA/SMK merupakan ranah Pemprov, Pemkot Surabaya tetap mau turun tangan demi membantu warganya sendiri,” ujar Lia.

Senator yang akrab disapa Ning Lia itu menilai, kebijakan tersebut menjadi contoh nyata bahwa pemerintah daerah bisa mengambil langkah konkret untuk melindungi masa depan generasi muda.

Lia sapaan akrabnya mengakui, praktik penahanan ijazah masih terjadi di sejumlah sekolah, khususnya swasta. Biasanya, hal itu disebabkan karena adanya tunggakan administrasi yang belum terselesaikan oleh orang tua siswa.

Baca Juga :  Maulid Nabi Jadi Momentum Senator Jilbab Ijo Ajak Doa untuk Korban Ponpes Al Khoziny

Masalah tersebut, menurut Lia, tidak bisa dianggap sepele. Sebab, ijazah merupakan dokumen penting yang menentukan arah masa depan seseorang. Tanpa ijazah, anak-anak tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maupun melamar pekerjaan yang layak.

“Ketika ijazah ditahan, secara tidak langsung masa depan anak ikut tertahan. Mereka tidak bisa kuliah, tidak bisa kerja. Efek domino dari penahanan ijazah ini bisa ke mana-mana,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menilai kebijakan Eri Cahyadi sebagai bentuk intervensi positif yang mampu memutus rantai persoalan sosial akibat hambatan biaya pendidikan.

Baginya, langkah Pemkot Surabaya bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang di sektor sumber daya manusia. Ia menilai kebijakan tersebut sangat strategis karena mengutamakan kepentingan rakyat kecil di atas segalanya.

“Kebijakan ini menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap rakyat. Pak Wali Kota menempatkan kepentingan warga kurang mampu di posisi utama,” tutur Lia.

Ia juga mengingatkan agar pihak sekolah mendukung langkah pemerintah kota dengan bersikap fleksibel dan tidak kaku dalam urusan administrasi bagi siswa tidak mampu.

“Sekolah juga harus ikut berperan aktif membantu warga Surabaya,” imbuhnya.

Selain menjamin hak pendidikan, kebijakan ini diyakini memiliki efek domino positif terhadap perekonomian masyarakat. Dengan semakin banyak siswa yang bisa menamatkan pendidikan dan memperoleh ijazah, peluang mereka memasuki dunia kerja akan semakin besar.

“Pendidikan dan pekerjaan yang layak adalah jalan untuk meningkatkan derajat ekonomi keluarga. Kalau tingkat pendidikan meningkat, ekonomi makro juga akan ikut naik,” kata Lia optimistis.

Ia berharap kebijakan ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah kota dan provinsi sangat penting untuk memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang kehilangan kesempatan hanya karena kendala ekonomi.

Baca Juga :  Solidaritas Warga Magersari: Ratusan Perlengkapan Salat Disalurkan ke Ponpes Al Khoziny

Langkah Pemkot Surabaya di bawah kepemimpinan Eri Cahyadi ini memperlihatkan arah kebijakan pembangunan manusia yang jelas dan berkeadilan.

Program bantuan biaya pendidikan bagi siswa SMA/SMK swasta bukan hanya solusi administratif, tetapi juga simbol komitmen kemanusiaan pemerintah kota terhadap warganya.

Dengan dukungan semua pihak, Surabaya berpeluang menjadi kota pertama yang benar-benar bebas dari praktik penahanan ijazah, sekaligus menjadi inspirasi nasional dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, adil, dan berorientasi masa depan.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Luka Dunia Pers Belum Sembuh, SMSI Sumenep Pilih Boikot Agenda Kapolresta
Ketua DPRD Sumenep Singgung Kedisiplinan Sekda Baru, Agus Dwi Syahputra Beri Tanggapan Tenang
Kontroversi Pelarangan Liputan, Ratusan Massa Siap Kepung Mapolresta Sumenep
Taretan Sumenep, Inovasi Baru Disdik Sumenep Bangun Kolaborasi Kampus dan Sekolah Hadapi Defisit Guru
PBB-P2 Jadi Instrumen Penguatan PAD, Bapenda Sumenep Gelar Sosialisasi di Giligenting
Madrasah Aliyah di Pamekasan Perkuat Tata Kelola dan Pembelajaran Lewat Rakor KKMA 02
Ucapan Hotman Paris kepada Jurnalis Berbuntut Panjang, PWI Pamekasan Minta Proses Hukum Tetap Berjalan
Kolaborasi UNESA dan Disdik Sumenep Perkuat Pembelajaran Berbasis Budaya Keris dan Literasi Ekologi

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:42 WIB

Luka Dunia Pers Belum Sembuh, SMSI Sumenep Pilih Boikot Agenda Kapolresta

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:39 WIB

Ketua DPRD Sumenep Singgung Kedisiplinan Sekda Baru, Agus Dwi Syahputra Beri Tanggapan Tenang

Kamis, 23 Juli 2026 - 06:39 WIB

Kontroversi Pelarangan Liputan, Ratusan Massa Siap Kepung Mapolresta Sumenep

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:59 WIB

Taretan Sumenep, Inovasi Baru Disdik Sumenep Bangun Kolaborasi Kampus dan Sekolah Hadapi Defisit Guru

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:42 WIB

PBB-P2 Jadi Instrumen Penguatan PAD, Bapenda Sumenep Gelar Sosialisasi di Giligenting

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:42 WIB

Ucapan Hotman Paris kepada Jurnalis Berbuntut Panjang, PWI Pamekasan Minta Proses Hukum Tetap Berjalan

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:34 WIB

Kolaborasi UNESA dan Disdik Sumenep Perkuat Pembelajaran Berbasis Budaya Keris dan Literasi Ekologi

Senin, 20 Juli 2026 - 12:57 WIB

Retaknya Komando Birokrasi? Publik Pertanyakan Kepemimpinan Sekda Sumenep

Berita Terbaru