SUMENEP, nusainsider.com — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) campak setelah jumlah penderita penyakit tersebut terus meningkat sejak awal tahun.
Data Dinkes mencatat, periode Januari–Agustus 2025 terdapat 1.944 kasus campak, dengan 12 di antaranya meninggal dunia. Lima kecamatan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak.

“Campak memang menjadi perhatian serius karena angka kasus terus bertambah,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, Jumat (22/8).
Menurutnya, sebagian pasien sudah mendapat perawatan medis, sementara beberapa lainnya harus dirujuk ke rumah sakit karena kondisi lebih berat.
“Kami terus melakukan pemantauan agar penyebaran bisa ditekan,” jelas Syamsuri.
Sebagai langkah penanganan cepat, Dinkes akan menggelar imunisasi massal atau outbreak response immunization (ORI) mulai 25 Agustus 2025. Program ini menyasar anak usia 9 bulan hingga 59 bulan dan akan berlangsung selama tiga pekan.
“Tujuan vaksinasi massal ini untuk memperkuat daya tahan tubuh anak sekaligus memutus rantai penularan campak di Sumenep,” terangnya.
Berdasarkan pemetaan laporan suspek yang juga dilaporkan ke Kementerian Kesehatan, Dinkes telah menetapkan 26 puskesmas di wilayah daratan dan kepulauan sebagai lokasi pelaksanaan ORI.
“Persiapan teknis sudah selesai, mulai dari pemetaan, micro planning, hingga penyusunan time line kegiatan. Semua diarahkan agar target imunisasi tercapai,” tambah Syamsuri.
Untuk mendukung program ini, Dinkes P2KB Sumenep menyiapkan 9.825 vial vaksin campak. Anak yang tidak sempat divaksin saat pelaksanaan ORI juga tetap menjadi sasaran.
“Petugas kesehatan akan melakukan penyisiran ulang agar seluruh target mendapatkan vaksin,” tandasnya.
![]()
Penulis : Wafa

















