Ngopeni Songennep: Inklusivitas yang Menjadi Mesin Pertumbuhan Daerah

Senin, 22 September 2025 - 08:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongso judo, SH.,MH

Foto. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongso judo, SH.,MH

OPINI, nusainsider.com — Madura Ethnic Carnival (MEC) menjadi salah satu event paling ditunggu di Kabupaten Sumenep. Namun, banyak yang keliru menganggapnya sebagai produk Organisasi Pimpinan Daerah (OPD) Pemkab Sumenep. Faktanya, MEC adalah hasil kreasi dan konsistensi Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS).

Fenomena ini menarik karena tidak semua kegiatan budaya di Sumenep lahir dari inisiatif pemerintah. Festival Musik Tong Tong, Jeren Serek, hingga tradisi Ojung juga merupakan buah kreativitas warga.

Pemerintah, dalam hal ini Bupati Achmad Fauzi, hanya memberi ruang dengan memasukkannya dalam kalender event tahunan.

Inilah model kepemimpinan Fauzi. Ia kerap menyebutnya sebagai pendekatan Pentahelix: kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, pelaku usaha, akademisi, hingga media. Model ini memungkinkan Sumenep tumbuh bukan hanya dari program birokrasi, tetapi juga dari partisipasi aktif warganya.

Kepemimpinan semacam ini saya sebut inklusif. Keragaman bukan dipandang sebagai masalah, melainkan potensi. Potensi itu lalu dirajut menjadi kolaborasi yang menghasilkan inovasi. Dari sini, Sumenep bertransformasi menjadi kabupaten dengan denyut budaya dan ekonomi kreatif yang terus bergerak.

Jika banyak kepala daerah masih nyaman dengan pola “Top Down”, Achmad Fauzi justru mendorong hubungan yang lebih hidup dengan berbagai stakeholder. Komunitas, UMKM, hingga paguyuban rakyat kecil tidak sekadar penonton. Mereka menjadi bagian dari proses pembangunan yang nyata.

Cermati bagaimana KJS diberi ruang. Bukan komunitas seni budaya, melainkan komunitas jurnalis. Namun dengan kreatifitasnya, mereka mampu menciptakan MEC sebagai panggung budaya yang memukau. Dan Pemkab hadir bukan untuk mengambil alih, melainkan untuk memberi ruang agar event ini bisa berkembang.

Wajar bila Calendar of Event 2025 mengusung tema “Ngopeni Songennep” dengan 110 agenda sepanjang tahun. Banyak pihak menyebutnya pemborosan. Tetapi bagi saya, itu hanya cara pandang yang dangkal dan belum memahami efek domino dari sebuah event budaya.

Di media sosial, bahkan muncul komentar sinis seperti “Tak Nemmo Lako” (red. tidak ada kerjaan). Kritik semacam itu sah-sah saja. Namun jika kita menilik dampak lebih jauh, setiap event justru menjadi ruang strategis bagi Sumenep. Ia menghidupkan ekonomi kreatif sekaligus mempromosikan identitas budaya.

Baca Juga :  Sinergi LPMK, HCML, dan Pemkab Sumenep Hadirkan Festival Ekonomi-Budaya di Pulau Raas

Di sinilah pentingnya perspektif. Event bukan semata pesta hura-hura. Ia adalah instrumen pembangunan. Ketika ribuan orang hadir, uang berputar. UMKM kebagian berkah. Hotel penuh tamu. PKL tersenyum karena dagangan laku. Semua itu adalah denyut ekonomi yang bergerak nyata.

Lebih dari itu, ada fungsi edukasi. Generasi muda Sumenep belajar bahwa identitas mereka bukan sekadar catatan sejarah, melainkan warisan seni budaya yang hidup. Mereka belajar mencintai sekaligus melestarikan. Dan itu jauh lebih penting dibanding sekadar perdebatan politik jangka pendek.

Kepemimpinan Fauzi dalam hal ini cukup cerdas. Ia tidak terjebak dalam ego birokrasi. Ia tahu bahwa potensi Sumenep terlalu besar jika hanya digarap pemerintah. Maka masyarakat dilibatkan, komunitas diberdayakan, pelaku usaha dikolaborasikan. Semuanya menjadi energi bersama untuk pertumbuhan.

Contohnya, setiap event selalu melibatkan UMKM dan PKL. Hal ini bukan basa-basi. Melainkan wujud nyata bahwa pembangunan ekonomi bisa berjalan dari bawah. Bahwa rakyat kecil pun bisa merasakan efek langsung dari sebuah pagelaran budaya.

Di titik inilah saya melihat ada pesan tersirat dari Fauzi: membangun Sumenep bukan hanya tugas pemerintah, tapi kewajiban bersama. Pemerintah hanyalah fasilitator. Masyarakatlah aktor utama yang menjaga, mengembangkan, dan merayakan identitasnya.

Tak berlebihan jika saya menyebut, KJS patut diacungi jempol. Mereka bukan komunitas seni budaya, tapi punya keberanian dan konsistensi menciptakan karya. Empat tahun lebih MEC digelar, selalu spektakuler. Dan setiap tahun, selalu ada cerita baru yang membuat Sumenep semakin dikenal luas.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Achmad Fauzi Dukung Program Keberlangsungan Karang Taruna Desa se-kabupaten Sumenep

Keberhasilan KJS membuktikan satu hal: jurnalis tidak hanya piawai menulis berita. Mereka pun bisa menjadi kreator budaya. Mereka bisa berkreasi, asal diberi ruang. Dan ruang itulah yang sejak 2019 hingga kini dibuka lebar oleh Bupati Fauzi.

Sayangnya, masih ada yang melihat event semacam MEC hanya dari kacamata politik. Padahal, event ini bukan soal “Pembagian Kue” atau siapa yang untung. Ini soal pertumbuhan ekonomi, penguatan identitas budaya, dan pelestarian tradisi. Sesuatu yang tak bisa diukur hanya dengan hitung-hitungan anggaran.

Bayangkan bila event seperti MEC tidak ada. UMKM kehilangan panggung, pelaku seni kehilangan ruang, generasi muda kehilangan inspirasi. Sumenep akan berjalan hambar, tanpa denyut kebudayaan yang khas. Itulah mengapa setiap event harus diapresiasi, bukan dicurigai.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih, Langkah Strategis Desa Tamidung Menuju Kemandirian Ekonomi

Kita perlu menyadari, pembangunan daerah di era sekarang tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur fisik. Jalan, jembatan, dan gedung memang penting. Tapi jauh lebih penting adalah membangun ekosistem budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang mampu menopang masa depan daerah.

Di sinilah saya menilai model kepemimpinan inklusif Fauzi patut dicatat. Ia memberi ruang, mendorong kolaborasi, dan membiarkan masyarakat tumbuh dengan kreatifitasnya. Ia tidak merasa harus menjadi satu-satunya aktor. Ia rela berbagi panggung dengan komunitas dan warga.

Dan hasilnya? Sumenep kini tidak hanya dikenal sebagai kabupaten ujung timur Madura. Tetapi juga sebagai daerah yang hidup dengan beragam event, festival, dan atraksi budaya. Sebuah identitas baru yang terus melekat, sekaligus memberi manfaat ekonomi nyata bagi rakyat.

Maka saya tegaskan, setiap event budaya di Sumenep adalah investasi jangka panjang. Investasi pada manusia, identitas, dan ekonomi. Bukan pemborosan. Justru sebaliknya, inilah cara cerdas untuk menyiapkan masa depan kabupaten yang kaya sejarah ini.

Apresiasi setinggi-tingginya saya berikan kepada KJS, komunitas, UMKM, dan semua pihak yang telah terlibat. Dan tentu kepada Bupati Fauzi yang telah membuka ruang. Semoga model kolaborasi ini terus tumbuh, sehingga Sumenep benar-benar menjadi rumah budaya dan ekonomi kreatif yang tak pernah padam.

Penulis : Hambali Rasidi, Jurnalis Senior Sumenep Media MataMadura.

(Opini ini dikembangkan dan dipoles oleh Redaksi nusainsider.com tanpa mengurangi Ruh Tulisan Penulis ).

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

ALARM Soroti Anggaran Proyek Pelabuhan PELRA Kalianget 45M, Kualitas Konstruksi Jadi Perhatian Utama
Doa Sang Proklamator Serentak di Sumenep, KNPI Ajak Pemuda Rawat Semangat Kebangsaan
Rakor Pengendalian Inflasi: BPS Sebut Sumenep Catat Inflasi Tertinggi di Jawa Timur
DPD KNPI Sumenep Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Dorong Pemuda Jadi Garda Ideologi Bangsa
Kritik Keras Konser Madura Fest, Pengamat Nilai Panitia Harus Berani Putus Kontrak dengan Radhiesta
Call Center 112 Sumenep Ditingkatkan, Diskominfo Fokus Percepat Penanganan Aduan Darurat
Hari Lahir Pancasila 2026, KNPI Sumenep Ajak Pemuda Jadi Penggerak Kemajuan Bangsa
Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, BKPSDM Sumenep Serukan Penguatan Karakter ASN

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:55 WIB

ALARM Soroti Anggaran Proyek Pelabuhan PELRA Kalianget 45M, Kualitas Konstruksi Jadi Perhatian Utama

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:47 WIB

Doa Sang Proklamator Serentak di Sumenep, KNPI Ajak Pemuda Rawat Semangat Kebangsaan

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:06 WIB

Rakor Pengendalian Inflasi: BPS Sebut Sumenep Catat Inflasi Tertinggi di Jawa Timur

Selasa, 2 Juni 2026 - 08:53 WIB

DPD KNPI Sumenep Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Dorong Pemuda Jadi Garda Ideologi Bangsa

Senin, 1 Juni 2026 - 15:06 WIB

Call Center 112 Sumenep Ditingkatkan, Diskominfo Fokus Percepat Penanganan Aduan Darurat

Senin, 1 Juni 2026 - 10:17 WIB

Hari Lahir Pancasila 2026, KNPI Sumenep Ajak Pemuda Jadi Penggerak Kemajuan Bangsa

Senin, 1 Juni 2026 - 09:18 WIB

Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, BKPSDM Sumenep Serukan Penguatan Karakter ASN

Senin, 1 Juni 2026 - 08:16 WIB

Pemkab Sumenep Ucapkan Selamat Hari Lahir Pancasila 2026, Bupati Fauzi Ajak Warga Perkuat Persatuan

Berita Terbaru