SUMENEP, nusainsider.com — Merayakan Maulid Nabi tidak cukup hanya dengan lantunan shalawat, berdiri saat qiyam, lalu pulang membawa suasana haru. Ada pekerjaan yang jauh lebih penting setelahnya: membuktikan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui perilaku sehari-hari.
Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Madrasah Ar-Rasyid, Minggu (30/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman madrasah tersebut menjadi momentum untuk mengajak siswa tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai bagian dari karakter.
Para siswa, guru, pengurus yayasan, pengasuh madrasah, serta undangan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan khidmat.
Acara diawali pembukaan oleh Ustaz Shodik, kemudian dilanjutkan pembacaan shalawat yang dipimpin Ustaz Jauzi. Suasana semakin khidmat ketika para peserta mengikuti lantunan shalawat bersama.
Namun, di balik lantunan tersebut, terdapat pesan penting yang disampaikan Associate Professor K. Dr. (cand.) Shulhan, S.Pd.I., M.Pd.
Dalam tausiahnya, Shulhan mengingatkan agar Maulid Nabi tidak dipandang sebatas tradisi tahunan. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran tentang bagaimana seorang Muslim menghormati, mencintai, sekaligus meneladani Rasulullah SAW.
Jangan Cengengesan Saat Bershalawat
Salah satu sorotan Shulhan adalah tradisi shalawat qiyam, yakni pembacaan shalawat dengan berdiri.
Ia mengajak para siswa memahami bahwa berdiri ketika bershalawat bukan hanya soal gerakan tubuh. Ada nilai penghormatan yang harus menyertainya.
“Kalau kita kedatangan tamu agung, apalagi kiai, kita berdiri dan menunjukkan sikap hormat. Jangan sampai ketika membaca shalawat qiyam kita justru cengengesan atau tidak menunjukkan penghormatan,” pesannya.
Bagi Shulhan, kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan tersebut harus terlihat dari sikap dan akhlak.
“Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita memperingati kelahiran Nabi, tetapi bagaimana setelah peringatan ini kita berusaha menghadirkan akhlak Nabi dalam kehidupan kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi dunia pendidikan. Sebab, karakter tidak lahir hanya dari teori, tetapi dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.
Kerapian Bukan Sekadar Penampilan
Pesan berikutnya menyentuh hal yang terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap pembentukan karakter: kerapian.
Shulhan mengajak para siswa menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjaga kebersihan, kerapian, dan keteraturan.
Menurutnya, kerapian tidak boleh hanya dimaknai sebagai pakaian yang bersih dan penampilan yang tertata.
Lebih jauh, kerapian juga harus hadir dalam hati, pikiran, ucapan, serta perilaku.
Siswa didorong membiasakan diri menjaga meja belajar, ruang kelas, halaman madrasah, hingga lingkungan sekitar.
Kebiasaan tersebut dinilai dapat membentuk sikap disiplin, tertib, dan bertanggung jawab.
“Kalau kita mengaku mencintai Nabi, maka kecintaan itu harus terlihat dalam kehidupan kita. Kita harus belajar mencintai kerapian, kebersihan, dan keteraturan, baik di luar maupun di dalam diri kita,” pesan Shulhan.
Dari Shalawat ke Gerakan Go Green
Tak berhenti pada persoalan akhlak personal, Shulhan juga membawa pesan Maulid Nabi pada isu lingkungan.
Ia mengingatkan konsep rahmatan lil ‘alamin, bahwa Nabi Muhammad SAW membawa rahmat bagi seluruh alam.
Nilai tersebut, menurutnya, harus diterjemahkan melalui tindakan nyata, termasuk bagaimana manusia memperlakukan lingkungan.
Para siswa diajak memulai gerakan peduli lingkungan dari hal-hal kecil.
Tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan halaman madrasah, merawat tanaman, menggunakan air secara bijak, serta mengurangi kebiasaan yang menghasilkan sampah menjadi bagian dari kepedulian tersebut.
Shulhan menekankan, cinta kepada Nabi tidak seharusnya berhenti di masjid atau majelis. Nilai keteladanan itu harus masuk ke ruang kelas, rumah, halaman sekolah, bahkan dalam cara manusia memperlakukan alam.
Tiga Pesan, Satu Tujuan
Jika dirangkum, tausiah Shulhan membawa tiga pesan utama: menghormati Nabi, menjaga kerapian, dan mencintai lingkungan.
Ketiganya bermuara pada satu tujuan besar, yakni membentuk akhlak generasi muda.
Penghormatan melatih kesantunan. Kerapian membangun kedisiplinan. Sementara kepedulian terhadap lingkungan menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Karena itu, Maulid Nabi di Madrasah Ar-Rasyid tidak berhenti sebagai kegiatan keagamaan. Momentum tersebut diarahkan menjadi bagian dari pendidikan karakter.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Ustaz Sumhari. Para peserta mengikuti doa dengan khidmat hingga kegiatan berakhir.
Dari halaman Madrasah Ar-Rasyid, pesan Maulid Nabi pun menjadi jelas: mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar tentang seberapa banyak shalawat dilantunkan.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang berubah setelah shalawat selesai.
Jika menjadi lebih santun, lebih rapi, lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap lingkungan, maka nilai Maulid telah menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata.
Sebab, keteladanan Nabi tidak seharusnya hanya dikenang setiap tahun. Ia harus dihidupkan setiap hari.
![]()
Penulis : Wafa
















