Festival Tong-tong KEN 2026 Diselimuti Polemik, Empat Grup Legendaris Dikabarkan Pilih Boikot

Senin, 7 September 2026 - 04:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Empat Grup Musik Tong-tong legendaris Sumenep

Foto. Empat Grup Musik Tong-tong legendaris Sumenep

SUMENEP, nusainsider.com — Pagelaran Festival Musik Tong-tong dalam rangkaian Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 di Kabupaten Sumenep menyisakan polemik.

Penilaian dewan juri menjadi sorotan setelah muncul dugaan adanya kejanggalan dalam mekanisme penilaian serta perubahan ketentuan yang disebut tidak tersosialisasikan secara terbuka kepada seluruh peserta.

Festival Musik Tong-tong sendiri bukan sekadar pertunjukan hiburan. Kesenian tradisional khas Madura tersebut telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh pemerintah melalui kementerian yang membidangi kebudayaan.

Karena itu, festival yang mempertemukan sejumlah grup musik Tong-tong dari berbagai daerah di Madura tersebut semestinya menjadi ruang untuk menjaga tradisi sekaligus memberikan kesempatan kepada para seniman untuk berkreasi secara sehat dan profesional.

Namun, penyelenggaraan tahun 2026 justru memunculkan catatan serius dari sejumlah pihak.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah mekanisme penilaian dewan juri. Meskipun hasil atau nilai penampilan peserta ditampilkan melalui layar dan dapat disaksikan dalam siaran langsung di kanal YouTube, transparansi tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab pertanyaan yang berkembang di kalangan peserta maupun masyarakat.

Baca Juga :  Topeng dan Filosofi Budaya Madura Warnai MEC 2025 di Sumenep

Pasalnya, muncul dugaan adanya perubahan atau penerapan ketentuan penilaian yang sebelumnya tidak disosialisasikan secara memadai kepada peserta.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana aturan lomba benar-benar diterapkan secara konsisten kepada seluruh peserta.

Bagi para pelaku seni Tong-tong, persoalan penilaian bukan perkara sederhana. Setiap grup telah mempersiapkan penampilan dengan biaya, tenaga, waktu, serta kreativitas yang tidak sedikit.

Mereka tidak hanya membawa nama kelompok, tetapi juga membawa identitas budaya dan reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Apalagi, sejumlah grup yang tampil dalam festival tersebut merupakan kelompok yang telah lama dikenal dalam perjalanan musik Tong-tong Madura.

Di tengah polemik tersebut, beredar informasi bahwa empat grup musik Tong-tong legendaris diduga mengambil sikap untuk memboikot penyelenggaraan Festival Musik Tong-tong di Sumenep pada tahun-tahun berikutnya.

Sikap tersebut disebut berkaitan dengan kekecewaan terhadap mekanisme penyelenggaraan, khususnya persoalan penilaian yang dianggap menimbulkan tanda tanya.

Baca Juga :  Bappeda Sumenep: Dana Cukai Tembakau Difokuskan untuk Lindungi Pekerja dari Risiko Kerja

Jika informasi tersebut benar, tentu menjadi alarm bagi penyelenggara. Sebab, festival budaya seharusnya tidak hanya mengejar kemeriahan panggung dan jumlah penonton. Lebih jauh dari itu, festival harus mampu menjaga kepercayaan para seniman yang menjadi pelaku utama dalam pelestarian budaya tersebut.

Kepercayaan peserta menjadi modal penting dalam keberlangsungan sebuah festival.
Tanpa kepercayaan, sebesar apa pun panggung yang disiapkan dan semeriah apa pun acara yang digelar, festival berpotensi kehilangan ruhnya sebagai ruang apresiasi dan kompetisi seni.

Terlebih Festival Musik Tong-tong Sumenep kini telah menjadi bagian dari agenda KEN 2026. Status tersebut semestinya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan, termasuk dalam hal transparansi aturan, independensi juri, serta mekanisme penilaian.

Polemik yang muncul juga diharapkan tidak berhenti pada perdebatan antarpeserta atau pendukung grup.

Penyelenggara perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme penilaian, indikator yang digunakan dewan juri, serta apakah terdapat perubahan ketentuan selama proses festival berlangsung.

Jika memang seluruh proses telah berjalan sesuai aturan, penjelasan tersebut justru penting untuk menghapus keraguan publik.

Baca Juga :  FR Klaim Kantongi SIPPM, Legalitas Rawat Inap dan STR Dipertanyakan

Sebaliknya, apabila terdapat kekeliruan administratif atau persoalan dalam sosialisasi aturan, evaluasi secara terbuka juga menjadi langkah yang lebih sehat demi menjaga keberlangsungan Festival Musik Tong-tong di masa mendatang.

Sebab, mempertahankan festival bukan hanya soal mempertahankan sebuah agenda tahunan.

Di dalamnya terdapat sejarah panjang musik tradisional Madura, kreativitas para seniman, kebanggaan masyarakat, sekaligus upaya mempertahankan warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Kini publik menunggu penjelasan penyelenggara. Apakah polemik ini hanya lahir dari perbedaan persepsi terhadap hasil penilaian, atau memang terdapat persoalan dalam mekanisme dan sosialisasi ketentuan yang perlu dievaluasi?

Yang jelas, Festival Musik Tong-tong sebagai bagian dari kekayaan budaya Madura membutuhkan kompetisi yang sehat, aturan yang jelas, penilaian yang transparan, dan terutama kepercayaan para pelakunya.

Hingga Berita ini dinaikkan, 4 (Empat) grup musik Tong-tong legendaris tersebut belum memberikan Tanggapan terkait kebenaran Isu Boikot KEN 2027 di Sumenep.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Bappeda Sumenep Diganjar Penghargaan atas Perencanaan Pembangunan yang Strategis
Melalui Program Polisi Peduli Pengangguran, Polresta Sumenep Salurkan Bansos kepada Warga
Santri Berdaya, Indonesia Berjaya: Pesan Arif Firmanto di Hari Santri Nasional 2026
SIMPEL hingga e-Stunting, Bappeda Sumenep Perkuat Perencanaan Pembangunan Berbasis Data
Dua Pengusaha Lokal Terima Apresiasi PWI Sumenep atas Kiprah di Dunia UMKM
Bappeda Sumenep Dorong Integrasi Data Pembangunan dengan Prioritas Nasional
Kapolres Pamekasan Bersama Personel Atur Lalu Lintas, Warga Beraktivitas Lebih Nyaman
Sambut Hari Jadi ke-757 dan Hari Santri 2026, Pemkab Sumenep Gelar Gerakan Baca Al-Waqi’ah 111.111 Kali

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:45 WIB

Bappeda Sumenep Diganjar Penghargaan atas Perencanaan Pembangunan yang Strategis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Melalui Program Polisi Peduli Pengangguran, Polresta Sumenep Salurkan Bansos kepada Warga

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:53 WIB

Santri Berdaya, Indonesia Berjaya: Pesan Arif Firmanto di Hari Santri Nasional 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:48 WIB

SIMPEL hingga e-Stunting, Bappeda Sumenep Perkuat Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

Rabu, 21 Oktober 2026 - 06:49 WIB

Dua Pengusaha Lokal Terima Apresiasi PWI Sumenep atas Kiprah di Dunia UMKM

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Kapolres Pamekasan Bersama Personel Atur Lalu Lintas, Warga Beraktivitas Lebih Nyaman

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:46 WIB

Sambut Hari Jadi ke-757 dan Hari Santri 2026, Pemkab Sumenep Gelar Gerakan Baca Al-Waqi’ah 111.111 Kali

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Bukan Sekadar Serap Anggaran, Bappeda Sumenep Tekankan Manfaat Nyata Pembangunan

Berita Terbaru