KARAWANG, nusainsider.com — Upaya memulihkan ekosistem pesisir sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat nelayan terus dilakukan melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) JAM PASIR (Jaga Alam melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir).
Program tersebut dijalankan SKK Migas bersama PHE Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Desa Pasir Putih, Kabupaten Karawang.
Program ini hadir sebagai respon terhadap abrasi yang terus menggerus wilayah pesisir dan berdampak terhadap permukiman serta mata pencaharian nelayan.
Selain persoalan lingkungan, keterbatasan peluang ekonomi masyarakat pesisir juga menjadi perhatian. Karena itu, program JAM PASIR tidak hanya berfokus pada pemulihan kawasan pesisir, tetapi juga mendorong keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat, “Kata Manager Communication, Relations & CID (Community Involvement and Development) Regional Jawa PHE ONWJ, Pinto Budi Bowo Laksono.
Menurutnya, Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat bersama berbagai pihak sejak 2018 adalah penanganan abrasi melalui APPOSTRAPS, dengan memanfaatkan sekitar 19.100 ban bekas untuk membantu memperlambat gelombang sekaligus menangkap sedimentasi. Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui penanaman 52.000 bibit mangrove.
Kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam proses pemulihan ekosistem pesisir.
Dari proses tersebut, sekitar 3,72 hektare daratan baru disebut berhasil terbentuk dan menjadi habitat bagi 28 spesies flora serta 52 spesies fauna, “Imbuhnya.
Budi mengaku bahwa Kawasan yang kembali terbentuk selanjutnya dikembangkan menjadi ekosistem mangrove. Pengembangan tersebut turut menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung. Pada 2024, kawasan itu tercatat dikunjungi sekitar 21.824 pengunjung, dengan pendapatan pengelola mencapai sekitar Rp142 juta per tahun.
Dampak program juga dirasakan langsung masyarakat. Sebanyak 861 orang disebut terlindungi dari risiko abrasi, sementara 36 orang keluar dari pengangguran dan lima alternatif pekerjaan baru terbuka bagi nelayan saat paceklik.
Pemberdayaan masyarakat turut menyasar kelompok perempuan pesisir. Program tersebut membuka peluang ekonomi dengan pendapatan yang disebut mencapai sekitar Rp400 ribu hingga Rp5 juta per bulan.
Program JAM PASIR menunjukkan bahwa pemulihan pesisir tidak berhenti pada pembangunan fisik atau penanaman mangrove. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar kawasan yang dipulihkan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi SKK Migas, PHE ONWJ dan masyarakat, pemulihan kawasan pesisir di Desa Pasir Putih diarahkan untuk menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada wilayah pesisir, “Tutupnya.
![]()
Penulis : Wafa
















