Bukan Cuma Bansos, DTSEN Tak Akurat Bisa Berdampak ke KIP Kuliah

Selasa, 22 September 2026 - 10:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Wakil Rektor III Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim AS

Foto. Wakil Rektor III Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim AS

BANGKALAN, nusainsider.com Persoalan akurasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) kembali menjadi sorotan. Data yang menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat dinilai masih menghadapi persoalan validitas dan akurasi di lapangan.

Sorotan tersebut disampaikan Dosen sekaligus Wakil Rektor III Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim AS, Selasa (22/9/2026).

Menurut Surokim, persoalan ketidakakuratan data tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak langsung terhadap pemenuhan hak masyarakat miskin. Kesalahan pemetaan berpotensi membuat warga yang semestinya mendapatkan bantuan justru terlewat dari program pemerintah.

“Jangan main-main dengan data warga miskin. Itu amanat konstitusi yang harus dijalankan sungguh-sungguh dan serius,” tegas Surokim.

Ia mengaku menemukan sejumlah persoalan dalam pemetaan desil DTSEN. Di lapangan, terdapat warga yang menurut kondisi ekonominya seharusnya berada pada kelompok desil bawah, tetapi justru tercatat di desil yang lebih tinggi. Begitu pula sebaliknya.

Baca Juga :  Generasi Emas dan Kebangkitan Budaya: Sumenep Gaungkan Suluk Budaya 2026

Kondisi tersebut, menurut Surokim, menimbulkan pertanyaan mengenai proses pendataan dan validasi yang dilakukan. Terlebih, ia mengaku menemukan sejumlah pejabat yang justru tercatat masuk dalam desil 1, yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

“Kami juga kaget banyak pejabat yang masuk desil 1 di DTSEN. Kami jadi heran, bagaimana pendataan ini dilakukan, serius apa tidak? Kan jadi pertanyaan besar,” ujarnya.

Surokim menilai persoalan DTSEN memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar penyaluran bantuan sosial (bansos).

Baca Juga :  Maulid Nabi di Ar-Rasyid Jadi Sorotan, Shulhan: Cinta Rasul Harus Terlihat dalam Akhlak

Kesalahan klasifikasi kondisi ekonomi masyarakat juga dapat berpengaruh terhadap akses terhadap sejumlah program pemerintah, termasuk bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan program perlindungan sosial lainnya.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak menjadikan DTSEN beserta pembagian desil sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan penerima bantuan, khususnya selama persoalan validitas data masih ditemukan di lapangan.

Sebagai langkah sementara, pemerintah dinilai perlu memberikan ruang bagi proses verifikasi dan validasi tambahan. Data DTSEN, kata Surokim, tetap perlu diperiksa kembali dengan kondisi faktual masyarakat agar kebijakan yang dihasilkan tidak justru merugikan kelompok yang seharusnya mendapat perlindungan.

“Jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru kehilangan haknya hanya karena persoalan data,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan akurasi data sosial bukan masalah baru. Karena itu, dibutuhkan keseriusan bersama untuk melakukan koreksi dan pembaruan data secara menyeluruh.

Baca Juga :  Bupati Fauzi Tinjau Stan Disdukcapil di MCF #4, Soroti Inovasi Cetak Dokumen Adminduk Mandiri

Ia berharap pemerintah dapat membangun basis data sosial ekonomi yang semakin akurat, valid, mutakhir, dan mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara objektif.

Dengan data yang lebih presisi, program bantuan sosial maupun kebijakan lainnya diharapkan dapat diberikan kepada masyarakat yang memang memenuhi kriteria dan membutuhkan.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Soirée Gigs Vol. 2 Hadir di Rooftop Surabaya, Orkes Silampukau Siap Bikin Malam Makin Berkesan
Piala AF Sport U-17 Digelar Oktober, Bupati Fauzi Bidik Lahirnya Bibit Pemain Profesional
Kapolresta Sumenep Peduli Warga Kekeringan, Dua Truk Tangki Air Dikirim ke Batuputih
Resmi Dimulai, PBAK 2026 STIT Aqidah Usymuni Jadi Gerbang Awal Mahasiswa Baru
Buronan Kasus Penganiayaan di Batuputih Diciduk Tim Resmob, Begini Kronologinya
Sumenep dalam Gemerlap Dunia Hiburan yang Tidak Sehat, Perlahan akan Terbongkar!
Tak Mau MoU Berhenti di Seremoni, Sumenep–Blitar Bidik Kerja Sama Konkret
Saring Sebelum Sharing, UNESA Edukasi Warga Telang Tangkal Hoaks di Era Digital

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 13:44 WIB

Soirée Gigs Vol. 2 Hadir di Rooftop Surabaya, Orkes Silampukau Siap Bikin Malam Makin Berkesan

Selasa, 22 September 2026 - 10:48 WIB

Bukan Cuma Bansos, DTSEN Tak Akurat Bisa Berdampak ke KIP Kuliah

Selasa, 22 September 2026 - 05:19 WIB

Piala AF Sport U-17 Digelar Oktober, Bupati Fauzi Bidik Lahirnya Bibit Pemain Profesional

Senin, 21 September 2026 - 23:12 WIB

Kapolresta Sumenep Peduli Warga Kekeringan, Dua Truk Tangki Air Dikirim ke Batuputih

Senin, 21 September 2026 - 19:00 WIB

Resmi Dimulai, PBAK 2026 STIT Aqidah Usymuni Jadi Gerbang Awal Mahasiswa Baru

Senin, 21 September 2026 - 14:47 WIB

Sumenep dalam Gemerlap Dunia Hiburan yang Tidak Sehat, Perlahan akan Terbongkar!

Senin, 21 September 2026 - 14:39 WIB

Tak Mau MoU Berhenti di Seremoni, Sumenep–Blitar Bidik Kerja Sama Konkret

Senin, 21 September 2026 - 13:44 WIB

Saring Sebelum Sharing, UNESA Edukasi Warga Telang Tangkal Hoaks di Era Digital

Berita Terbaru