SUMENEP, nusainsider.com — Aktivis gerakan pemuda Timur daya (Garda raya) kembali menggelar aksi tahap ketiga menuntut kematian Adellia aziz Bella negara di gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.
Aksi ketiga yang dilakukan Aktivis pemuda timur daya meminta Bupati sumenep mencopot jabatan Kepala Puskesmas Batang-batang dan bidan Windu selaku yang menangani bayi baru lahir asal tamidung hingga meninggal dunia, “kata Abd halim dalam orasinya didepan Pemkab sumenep, Jumat 8 Desember 2023.
Sudah berlangsung dua kali kami melakukan aksi demonstrasi namun hanya mendapatkan janji-janji dan narasi pembenaran yang itu justru membuat Hati pemuda dan masyarakat lebih sakit.

Audit yang dilakukan Dinas kesehatan dan keluarga berencana (Dinkes P2KB) 4 (empat) hari yang lalu telah melukai hati Pemuda dan masyarakat yang seolah-olah ingin menggembosi gerakan kemanusiaan Garda raya, “pungkasnya.
Hingga berlangsung sekitar 20menit ber-orasi, suasana massa aksi pemuda dan masyarakat mulai memanas Karena tidak ditemui bupati dan tidak bisa memberikan kepastian atas tuntutan pihak keluarga korban.
Massa aksipun kecewa dan bergeser ke pintu gerbang bagian barat untuk melakukan aksi anarkis hingga merobohkan pagar pintu gerbang yang berada didepan kantor Pemkab Sumenep, dan mencoba masuk kedalam mencari Bupati Sumenep.
Atas aksi anarkis yang dilakukan pendemo untuk meluapkan kekecewaannya dan berhasil merobohkan pagar besar yang terbuat dari besi tersebut, mengakibatkan salah satu anggota Polres Sumenep yang mengamankan aksi demontrasi menjadi korban, kedua tangan anggota Polisi tersebut terluka.

Untung dari pihak petugas Kepolisian yang ikut mengamankan aksi demontrasi tersebut bisa mengontrol emosinya, sehingga tidak terjadi bentrokan antara Petugas Kepolisian dengan para pendemo yang menyimpan rasa kekecewaan dikarenakan sudah melakukan aksi demontrasi sebanyak 3 kali tapi tidak mendapatkan keadilan yang diharapkan oleh pihak keluarga korban.
Aksi anarkis tersebut yang dilakukan para aksi pendemo sebagai wujud kekecewaan pihak keluarga korban dan pemuda yang menuntut keadilan tidak segera direspon oleh Pemkab Sumenep guna memberikan sanksi kepada Kepala Puskesmas dan bidan yang bersangkutan, yang diduga menjadi penyebab meninggalnya bayi yang diambil sempel darahnya oleh pihak Puskesmas Batang-batang.
![]()

















