SUMENEP, nusainsider.com — Di balik gemerlap panggung hiburan dan meriahnya Madura Night Vaganza (MNV) serta Madura Culture Festival 4 (MCF) 2026 di Kabupaten Sumenep, terselip sebuah peristiwa yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Ketika panggung utama dipenuhi pertunjukan seni dan budaya, seorang anak laki-laki justru harus menunggu dengan wajah cemas setelah terpisah dari saudaranya di tengah kerumunan pengunjung.
Bocah tersebut diketahui bernama Malik. Usianya diperkirakan sekitar 5-8 tahun. Saat ditemukan, Malik mengenakan kaos merah bertuliskan “Godly X Wear”.
Malik terlihat berada di area belakang panggung utama dengan pendampingan aparat penegak hukum (APH). Wajahnya tampak cemas sembari menunggu kabar mengenai keberadaan saudaranya.
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, Malik datang ke arena MNV-MCF 2026 bersama saudara perempuannya, Aisyah dan Nafis.
Kedatangan mereka semula tak berbeda dengan pengunjung lainnya. Mereka ingin menikmati kemeriahan festival, bermain wahana permainan, serta mencicipi beragam makanan dan minuman yang dijajakan para pelaku usaha.
Namun, suasana tersebut berubah menjadi kepanikan ketika Malik terpisah dari saudaranya.
Malik kemudian berada di area belakang panggung dan menunggu hingga saudaranya ditemukan. Selama proses tersebut, ia mendapatkan pendampingan dari aparat kepolisian.
Penantiannya berlangsung lebih dari 40 menit. Dalam kondisi tersebut, harapan Malik hanya satu, yakni segera bertemu kembali dengan saudaranya.
Di tengah situasi itu, muncul persoalan lain. Informasi mengenai anak yang terpisah dari keluarganya disebut belum segera terdengar melalui pengeras suara utama panggung.
Padahal, berdasarkan keterangan panitia yang berjaga di pintu masuk panggung sebelah barat, informasi mengenai keberadaan Malik telah disampaikan kepada Master of Ceremony (MC).
Panitia disebut telah meminta agar informasi tersebut diumumkan melalui sound system utama. Harapannya, saudara maupun keluarga yang sedang mencari dapat segera mengetahui keberadaan Malik.
Namun, menurut keterangan panitia di lokasi, pengumuman tersebut harus menunggu hingga rangkaian penampilan dari kabupaten yang telah dijadwalkan selesai.
Sementara itu, panggung utama tetap berjalan dengan rangkaian pertunjukan seni dan budaya. Penampilan dari sejumlah kabupaten, mulai Bangkalan hingga Pamekasan, disebut tetap berlangsung.
Kondisi tersebut kemudian menjadi catatan tersendiri dalam penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan ribuan masyarakat tersebut.
Sebab, ketika seorang anak terpisah dari keluarganya di tengah kerumunan, kecepatan penanganan menjadi hal penting. Pengumuman melalui pengeras suara dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat proses pencarian.
Beruntung, situasi tersebut akhirnya berujung pada kabar baik.
Setelah menunggu lebih dari 40 menit, Malik akhirnya bertemu kembali dengan saudaranya pada pukul 21.01 WIB.
Pertemuan tersebut berlangsung di belakang panggung utama, tempat Malik sebelumnya berada bersama pendampingan APH.
Kabar tersebut tentu menjadi kelegaan tersendiri. Kecemasan yang sebelumnya terlihat dari wajah Malik akhirnya berganti dengan kepastian bahwa dirinya telah kembali bertemu dengan saudaranya.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sebuah festival publik tidak hanya membutuhkan panggung yang meriah, pertunjukan yang spektakuler, serta rangkaian acara yang berjalan sesuai jadwal.
Aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan perlindungan pengunjung juga menjadi bagian penting yang harus mendapatkan perhatian lebih utama.
Terlebih ketika menyangkut anak-anak yang terpisah dari keluarga. Situasi semacam itu membutuhkan mekanisme penanganan yang cepat, terkoordinasi, dan responsif.
Peristiwa Malik bukan semata-mata soal mencari siapa yang salah atau siapa yang lalai. Lebih jauh, kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan kegiatan serupa ke depan memiliki prosedur khusus untuk menangani anak yang terpisah dari orang tua atau keluarganya.
Festival boleh berlangsung sesuai rundown. Pertunjukan budaya juga penting untuk terus digelar. Namun, ketika menyangkut keselamatan dan keberadaan seorang anak, kepentingan kemanusiaan semestinya menjadi prioritas.
Kisah Malik akhirnya berakhir bahagia. Ia kembali bertemu dengan saudaranya setelah menunggu lebih dari 40 menit.
Tetapi momen tersebut meninggalkan satu pesan penting: di balik gemerlap panggung, ramainya pengunjung, dan meriahnya festival, selalu ada manusia yang membutuhkan perhatian.
Sebab, nilai sebuah acara publik bukan hanya diukur dari seberapa meriah kegiatan digelar, tetapi juga dari seberapa cepat dan manusiawi penyelenggara memberikan perlindungan kepada setiap orang yang hadir.
![]()
Penulis : Wafa
















