SUMENEP, nusainsider.com — Gelaran Festival Musik Tong-tong yang masuk dalam rangkaian Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai menuai sorotan.
Festival yang selama ini dikenal sebagai salah satu representasi kesenian dan kebudayaan khas Madura tersebut dinilai tidak semeriah pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.
Padahal, musik tong-tong selama ini menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Madura yang memiliki karakter khas, mulai dari musik, aransemen, hingga dekorasi kendaraan yang menjadi daya tarik tersendiri.
Pada gelaran tahun 2026, Festival Musik Tong-tong diketahui diikuti sebanyak 27 grup. Jumlah tersebut menjadi perhatian lantaran panitia sebelumnya menyediakan kuota hingga 40 grup.
Kondisi tersebut berbeda dengan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Antusiasme grup musik tong-tong biasanya terlihat dari banyaknya kelompok yang berbondong-bondong mengikuti proses pendaftaran, termasuk untuk mendapatkan nomor urut maupun undian peserta.
Namun, hingga pelaksanaan technical meeting, jumlah grup yang dipastikan mengikuti festival tahun ini hanya mencapai 27 grup dari kuota 40 peserta yang disediakan.
Minimnya jumlah peserta tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kondisi perkembangan musik tong-tong di Sumenep.
Sejumlah pihak menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan kebudayaan, mengingat musik tong-tong bukan sekadar hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya Madura yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Bahkan, muncul dugaan adanya persoalan atau ketidaksehatan dalam ekosistem kesenian musik tong-tong di Kabupaten Sumenep yang perlu diklarifikasi secara terbuka oleh pihak-pihak terkait.
Sorotan semakin mengemuka setelah adanya informasi mengenai dinamika di internal Paguyuban Patot’s, wadah yang dihuni oleh para ketua grup musik tong-tong se-Kabupaten Sumenep.
Teranyar, salah satu pihak yang disebut sebagai pembina Paguyuban Patot’s bersama Ketua FKPPI Sumenep dikabarkan menarik diri atau keluar dari grup tersebut.
Informasi mengenai mundurnya sejumlah pihak dari wadah komunikasi para grup musik tong-tong itu menjadi bagian dari dinamika yang turut dipertanyakan publik.
Meski demikian, alasan dan latar belakang terkait keputusan tersebut masih membutuhkan klarifikasi dari pihak-pihak yang bersangkutan. Karena itu, informasi tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab langsung menurunnya jumlah peserta Festival Musik Tong-tong tahun ini.
Di sisi lain, status Festival Musik Tong-tong sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 juga menjadi pertanyaan publik.
KEN merupakan salah satu agenda pariwisata nasional yang diharapkan mampu mengangkat potensi daerah melalui event berkualitas, termasuk seni dan budaya lokal.
Dengan jumlah peserta yang hanya 27 grup dari kuota 40 grup, publik pun mulai mempertanyakan apakah pelaksanaan festival tahun ini masih mampu menghadirkan semangat dan kemeriahan sebagaimana gelaran sebelumnya.
Pertanyaan lain yang kemudian muncul adalah apakah Festival Musik Tong-tong tahun ini benar-benar mencerminkan kualitas sebuah event yang masuk dalam kalender KEN, atau justru lebih sebatas agenda seremonial dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Sumenep.
Sorotan tersebut tentu perlu dijawab dengan data dan penjelasan dari penyelenggara. Terlebih, musik tong-tong memiliki posisi penting dalam khazanah kebudayaan Madura dan telah menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Kabupaten Sumenep.
Jika memang terdapat persoalan dalam penyelenggaraan maupun dinamika internal komunitas musik tong-tong, penyelesaiannya diharapkan tidak berhenti pada polemik, tetapi dapat menjadi momentum evaluasi bersama.
Pemerintah daerah, penyelenggara festival, paguyuban, serta para pelaku seni perlu duduk bersama untuk memastikan keberlangsungan musik tong-tong tetap sehat, kompetitif, dan mampu berkembang.
Apalagi, keberadaan event budaya semestinya tidak hanya mengejar aspek seremonial, tetapi juga memberikan ruang yang sehat bagi para pelaku seni sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak pewarta masih menunggu hak jawab dan klarifikasi dari berbagai pihak terkait, terutama Ketua Panitia Festival Musik Tong-tong, Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep, serta Ketua Paguyuban Patot’s mengenai jumlah peserta, dinamika internal paguyuban, serta kualitas penyelenggaraan Festival Musik Tong-tong dalam rangkaian KEN 2026.
Klarifikasi dari pihak-pihak tersebut penting untuk memastikan informasi yang berkembang di tengah masyarakat dapat diketahui secara utuh dan berimbang.
![]()
Penulis : Wafa
















