SUMENEP, nusainsider.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik sejak beroperasi serentak pada 8 Januari 2026. Program ini tidak hanya menekankan pemenuhan standar gizi nasional, tetapi juga mendorong hadirnya menu berciri khas daerah melalui inovasi dan modifikasi pangan lokal.
Salah satu dapur MBG di Kabupaten Sumenep, yang berlokasi di Jalan KH. Abd. Mannan Djasuli No. 001/001, Desa Dasuk Laok, Kecamatan Dasuk, menghadirkan menu unik berupa cake khas Sumenep yang dipadukan dengan potato wedges. Dapur MBG tersebut dinahkodai oleh Ach. Dharul Qudni Firdaus, S.Si.
Pada Senin (12/1/2026), Dharul sapaan akrabnya menjelaskan bahwa menu tersebut sengaja dihadirkan sebagai bentuk penguatan identitas kuliner lokal.
“Di awal pekan ini kami menyajikan makanan yang berciri khas Sumenep, yaitu cake. Namun tentu kami padukan dengan beberapa menu tambahan dan modifikasi agar tetap memenuhi standar gizi nasional,” ujarnya.

Tak hanya soal menu, Dharul juga memaparkan perkembangan jumlah penerima manfaat MBG sejak mulai beroperasi pada 10 November 2025. Saat ini, dapur MBG Dasuk Laok menyasar peserta didik dari sekitar sembilan desa dengan total penerima manfaat mencapai 2.550 orang.
“Untuk tahun 2026, kami berencana menambah sasaran penerima manfaat ke kelompok prioritas B3, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Namun saat ini masih dalam tahap koordinasi,” tambahnya.
Terkait kemungkinan kembali menyasar tenaga pendidik, Dharul menegaskan pihaknya akan melakukan penghitungan secara matang. Pasalnya, setiap dapur MBG dibatasi maksimal memproduksi 3.000 ompreng per hari.
“Kalaupun memungkinkan lebih, kami pastikan tenaga pendidik di setiap satuan lembaga atau yayasan tetap mendapatkan,” jelasnya.
Alumnus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu menekankan bahwa MBG memiliki misi jangka panjang yang lebih luas.
“Harapan besar dari MBG bukan hanya mendukung pertumbuhan gizi dan menekan angka stunting, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguatan ketahanan pangan nasional yang dibangun secara bertahap. Salah satunya dengan menyuplai bahan baku dari petani lokal atau masyarakat setempat,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Wafa
















