Guru Besar UIN Madura: Puasa Mengajarkan Empati, Bukan Superioritas Moral

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Achmad Muhlis, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura.

Foto. Achmad Muhlis, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura.

PAMEKASAN, nusainsider.com — Puasa dalam Islam secara normatif merupakan ibadah personal yang bertumpu pada niat dan kesadaran individu. Namun dalam praktik sosial, puasa tidak pernah sepenuhnya bersifat privat.

“Ia hadir di ruang publik, mengatur ritme kota, mengubah perilaku sosial, dan membentuk norma kolektif,” ujar Achmad Muhlis, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, di titik inilah muncul ketegangan filosofis dan sosiologis antara kebebasan individu dan etika sosial.

Pertanyaan mendasarnya adalah sejauh mana puasa sebagai kewajiban agama dapat diekspresikan dan ditegakkan di ruang publik tanpa melanggar hak individu yang berbeda keyakinan maupun kondisi personal.

“Narasi ini mengkaji dimensi publik puasa dengan merujuk pada data empiris yang ada,” tambah Direktur Utama IBS PKMKK tersebut.

Puasa sebagai Institusi Sosial

Muhlis menjelaskan, puasa juga berfungsi sebagai institusi sosial yang membentuk norma bersama.

Ia merujuk pada pemikiran Émile Durkheim yang memandang ritual keagamaan sebagai mekanisme pembentukan solidaritas kolektif melalui simbol dan praktik bersama.

Selama Ramadan, ruang publik mengalami apa yang ia sebut sebagai “Sakralisasi Temporal”: jam kerja menyesuaikan, aktivitas hiburan dibatasi, dan simbol-simbol religius semakin menguat. Fenomena ini menunjukkan bahwa puasa melampaui ranah privat dan membentuk etika sosial yang diharapkan dipatuhi bersama.

Baca Juga :  Momentum G30S/PKI, PKDI Sumenep Ajak Masyarakat Bersatu Jaga Pancasila

Namun, dalam masyarakat majemuk, sakralisasi tersebut berpotensi memunculkan friksi ketika norma mayoritas berbenturan dengan kebebasan kelompok minoritas.

Muhlis juga mengutip perspektif Max Weber tentang rasionalisasi dan etika tanggung jawab. Kebijakan publik terkait Ramadan seperti pengaturan jam operasional atau imbauan kesopanan kerap didasarkan pada rasionalitas nilai, yakni menghormati mereka yang berpuasa.

Akan tetapi, ketika kebijakan berubah menjadi pemaksaan simbolik, maka ia berisiko mengabaikan rasionalitas tujuan, yakni menjaga harmoni sosial. Data sosial menunjukkan pendekatan persuasif dan dialogis jauh lebih efektif dalam merawat kohesi dibanding pendekatan koersif.

“Dimensi publik puasa menuntut keseimbangan antara afirmasi nilai kolektif dan perlindungan kebebasan individu,” tegasnya.

Ujian Empati dan Kedewasaan Sosial
Bagi individu yang berpuasa, lingkungan sosial yang mendukung dapat meningkatkan ketenangan batin dan rasa percaya diri.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Reuni, Iksapansa Jadikan Temu Alumni sebagai Gerakan Pengabdian

Sebaliknya, paparan perilaku yang dianggap tidak menghormati bisa memicu frustrasi. Namun, emosi tersebut harus dikelola agar tidak berubah menjadi agresi simbolik.

Dalam Islam, pengendalian emosi (hilm) merupakan bagian esensial dari puasa menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah.

Sementara itu, bagi individu yang tidak berpuasa, tekanan sosial dapat menimbulkan kecemasan atau rasa terasing. Teori social conformity menjelaskan kecenderungan seseorang menyesuaikan perilaku demi menghindari sanksi sosial, meskipun bertentangan dengan kondisi kesehatan atau keyakinannya.

Di sinilah, menurut Muhlis, etika sosial Islam diuji: apakah puasa menjadi sarana empati atau justru alat eksklusi? Ia mengutip pandangan Al-Ghazali yang menegaskan bahwa puasa sejati melatih kelembutan hati, bukan melahirkan superioritas moral.

Hidden Curriculum Ramadan

Muhlis menyebut dimensi publik puasa sebagai hidden curriculum tentang hidup bersama dalam perbedaan. Pendidikan Islam, katanya, tidak hanya mengajarkan fikih puasa, tetapi juga adab bermasyarakat.

Konsep maqāṣid al-sharī‘ah perlindungan agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan menjadi kerangka normatif dalam menyeimbangkan kebebasan individu dan etika sosial. Puasa bertujuan menjaga agama dan akhlak, tetapi tidak boleh mengorbankan perlindungan jiwa dan kehormatan orang lain.

Baca Juga :  Dirgahayu TNI ke-81, CV Ayunda Permata Sejahtera Pamekasan Tegaskan Dukungan untuk TNI yang Kuat Bersama Rakyat

Data empiris di masyarakat plural menunjukkan kohesi sosial selama Ramadan meningkat ketika kebijakan dan praktik sosial menekankan saling menghormati. Konflik cenderung muncul saat norma dipaksakan secara simbolik melalui persekusi atau stigmatisasi.

“Puasa tidak dimaksudkan untuk mengontrol orang lain, melainkan mendidik diri sendiri agar mampu hidup bermartabat di tengah perbedaan. Etika sosial yang lahir dari puasa adalah etika keteladanan mengajak, bukan memaksa,” paparnya.

Ia menegaskan, ketegangan antara kebebasan individu dan etika sosial merupakan ciri masyarakat modern. Dalam konteks itu, puasa menawarkan jalan tengah: kebebasan yang bertanggung jawab dan etika yang berbelas kasih.

“Di tengah masyarakat majemuk, puasa menemukan maknanya bukan ketika ditegakkan secara koersif, melainkan ketika menjadi sumber etika sosial yang menghormati kebebasan, merawat perbedaan, dan menumbuhkan kemanusiaan bersama,” pungkas Ketua Senat UIN Madura tersebut.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

330 Desa di Gresik Berstatus Mandiri, Pemkab Dorong Pembentukan Kawasan Ekonomi Pedesaan
Tekan Aksi Balap Liar, Tim Gabungan Polres Pamekasan Sisir Jalanan Kota
119 Pelajar Adu Kompetensi di Olimpiade Ekonomi MGMP Sumenep, Ini Daftar Juaranya
Media Expo 2026 Digelar 10 Hari, KlikTimes.id dan Nusainsider.com Siapkan Pesta Rakyat dan Pemberdayaan UMKM Madura
Viral di TikTok! Usai di Sebut Bupati Tong-tong, Kini Achmad Fauzi di Sebut Bupati Bola
SKK Migas-KEI Serahkan Handtraktor, Perkuat Pertanian dan Ketahanan Pangan di Kepulauan Sapeken
Krisis Air Meluas, Lumajang Idea Distribusikan Bantuan ke Ranuyoso dan Padang
Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:25 WIB

330 Desa di Gresik Berstatus Mandiri, Pemkab Dorong Pembentukan Kawasan Ekonomi Pedesaan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Tekan Aksi Balap Liar, Tim Gabungan Polres Pamekasan Sisir Jalanan Kota

Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:26 WIB

119 Pelajar Adu Kompetensi di Olimpiade Ekonomi MGMP Sumenep, Ini Daftar Juaranya

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Media Expo 2026 Digelar 10 Hari, KlikTimes.id dan Nusainsider.com Siapkan Pesta Rakyat dan Pemberdayaan UMKM Madura

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:48 WIB

Viral di TikTok! Usai di Sebut Bupati Tong-tong, Kini Achmad Fauzi di Sebut Bupati Bola

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Krisis Air Meluas, Lumajang Idea Distribusikan Bantuan ke Ranuyoso dan Padang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:27 WIB

Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Dari Sumenep Mengguncang Lombok, Tongtong Bawa Identitas Madura ke Parade MotoGP 2026

Berita Terbaru