OPINI : Ziarah ke Makam Bung Karno: Menyambung Napas Perjuangan yang Belum Usai

Senin, 23 Juni 2025 - 13:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Alfa Salsabilah – Mahasiswa UNTAG Surabaya

Foto. Alfa Salsabilah – Mahasiswa UNTAG Surabaya

OPINI, nusainsider.com Setiap 21 Juni, bangsa ini seakan dihentakkan kembali oleh memori kolektif tentang sosok yang lebih dari sekadar proklamator. Bung Karno bukan hanya bagian dari lembaran sejarah, ia adalah denyut nadi ideologi yang membentuk wajah Indonesia hari ini.

Dalam peringatan hari wafatnya, saya bersama sahabat-sahabat GMNI UNTAG Surabaya tak hanya menabur bunga di pusara beliau di Blitar, tetapi sekaligus meresapi makna perjuangan yang masih jauh dari kata selesai.

Bagi saya, ziarah ini bukan ritus sunyi yang ditelan formalitas. Ini adalah panggilan nurani. Ketika negeri ini kian dihimpit krisis nilai, menguatnya individualisme, dan apatisme generasi muda, saya percaya bahwa semangat Bung Karno dengan nasionalismenya yang membumi dan keberpihakannya pada kaum tertindas masih amat relevan.

Ia hadir sebagai kompas moral, penuntun arah ke tengah badai zaman yang kerap membingungkan.

Tak bisa kita pungkiri, banyak anak muda hari ini terputus dari sejarahnya sendiri. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali pesan Bung Karno: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Kita butuh lebih dari sekadar mengenang kita harus menjadikannya laku hidup.

Membumikan kembali Marhaenisme sebagai cara berpikir dan bertindak dalam menjawab tantangan sosial kontemporer bukanlah romantisme masa lalu, tapi tanggung jawab ideologis.

Baca Juga :  Warga Menangkap, Polisi Melepas, Kinerja Oknum Kanit Polsek Kangayan Sumenep Permalukan Komitmen Prabowo

Saya yakin, perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari pusara Bung Karno, saya pulang tidak dengan kesedihan, melainkan dengan keyakinan.

Keyakinan bahwa warisan beliau bukan untuk dikagumi, melainkan untuk diperjuangkan. Ia hidup dalam keberanian kita memilih keberpihakan pada keadilan, pada kesetaraan, dan pada rakyat itu sendiri.

Pemikiran Bung Karno layak dikaji sebagai pijakan intelektual dalam memahami fondasi berdirinya Republik Indonesia. Soekarno bukan sekadar tokoh politik, tetapi juga arsitek ideologis bangsa yang berperan besar dalam merumuskan identitas kebangsaan Indonesia modern.

Secara historis, perjuangan Bung Karno dimulai jauh sebelum Proklamasi 1945. Melalui organisasi seperti Algemeene Studie Club di Bandung dan Partai Nasional Indonesia (PNI), ia mengusung gagasan kemerdekaan yang tidak sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga berpijak pada asas keadilan sosial dan kebangsaan yang inklusif.

Ia mengartikulasikan konsep nasionalisme yang tidak bersifat sempit atau chauvinistik, melainkan merangkul keberagaman etnis, agama, dan budaya di nusantara.

Dalam perspektif ilmiah, perjuangan Soekarno dapat dipahami sebagai transisi dari kolonialisme menuju nation-building. Ia tidak hanya menggerakkan massa, tetapi juga membangun wacana politik berbasis narasi keindonesiaan.

Baca Juga :  Pemerintah Kecamatan Raas Gelar Upacara HUT RI Ke 78, Camat Raas Sampaikan Hal Mengejutkan Ini

Pidato-pidatonya, seperti “Indonesia Menggugat” dan “Lahirnya Pancasila“, menjadi teks politik yang dapat dianalisis menggunakan teori-teori diskursus dan nationhood.

Namun, perjuangan Bung Karno juga tidak lepas dari dinamika kekuasaan dan kritik. Di masa Demokrasi Terpimpin, ia menghadapi tudingan otoritarianisme, meskipun tujuannya adalah menjaga stabilitas di tengah ketegangan ideologis Perang Dingin.

Hal ini membuka ruang diskusi ilmiah tentang peran kepemimpinan kharismatik dalam negara pascakolonial.

Sejarah panjang perjuangan Bung Karno adalah contoh nyata bagaimana ide, tindakan, dan struktur kekuasaan saling berkelindan dalam proses pembentukan negara. Ia adalah simbol perjuangan yang tidak hanya melawan kolonialisme, tetapi juga melahirkan gagasan kebangsaan yang hidup hingga kini.

Pidato-pidato Bung Karno tetap relevan di zaman modern karena mengandung nilai-nilai universal yang menjawab tantangan kontemporer mulai dari krisis identitas, polarisasi politik, hingga ketimpangan sosial.

  • Pancasila sebagai Penangkal Polarisasi
    Pidato “Lahirnya Pancasila” menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman. Di tengah maraknya politik identitas dan ekstremisme, Pancasila tetap menjadi fondasi ideologis yang inklusif dan moderat.

Bung Karno menyebutnya sebagai “Philosophische Grondslag” atau dasar filsafat bangsa sebuah konsep yang masih menjadi jangkar etika dan kebijakan publik hari ini.

  • Gotong Royong sebagai Etos Sosial. Konsep Ekasila yakni gotong royong yang ia sampaikan dalam pidato BPUPKI, sangat relevan dalam menghadapi tantangan global seperti pandemi, krisis iklim, dan ketimpangan ekonomi. Di era individualisme digital, semangat kolektif ini menjadi penyeimbang yang penting.
  • Pidato di PBB: Visi Global yang Progresif. Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB tahun 1960, “To Build the World Anew”, menyerukan tatanan dunia yang adil dan damai. Ia menolak dominasi negara adidaya dan menyerukan solidaritas global.
Baca Juga :  HPN 2026, SMSI Sumenep Sukses Gelar JJS Penuh Kebersamaan

Pidato ini kini diakui UNESCO sebagai Memory of the World karena relevansinya terhadap isu-isu seperti kolonialisme baru, ketimpangan global, dan perdamaian dunia.

  • Kritik terhadap Dogmatisme
    Bung Karno juga dikenal sebagai pembaharu pemikiran keislaman. Ia mendorong umat untuk berpikir rasional dan menolak taklid buta. Dalam konteks sekarang, ini menjadi penting untuk membangun keberagamaan yang inklusif dan toleran.

Dengan kata lain, pidato-pidato Bung Karno bukan sekadar arsip sejarah, tapi juga sumber inspirasi strategis dan moral untuk menjawab tantangan zaman.

Penulis : Alfa Salsabilah – Mahasiswa UNTAG Surabaya

Loading

Penulis : Alfa Salsabilah

Berita Terkait

Wujudkan Lingkungan Sehat, Pemdes Pinggirpapas Turun Langsung Bersih-Bersih
Budaya Gotong Royong Terjaga, Aparatur Kecamatan Batang-Batang Bersihkan Area Perbatasan
Tokoh Muda Sumenep Naghfir Sowan ke KHR. Azaim Ibrahimy, Teguhkan Warisan Sanad Keilmuan
Bayi Terluka Ditemukan di Gang Trunojoyo, Polisi Selidiki Kasus Secara Humanis
Pengukuhan DEKOPINDA Sumenep Jadi Tonggak Penguatan UMKM dan Ekonomi Pesisir
Kolaborasi KEI dan Pemkab Sumenep Perkuat Pendidikan Guru Kepulauan
Selamat Ulang Tahun Perempuan Inspiratif Jawa Timur
Prosedur KRS UNIBA Madura Menuai Keluhan, Mahasiswa Minta Reformasi Administrasi

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:47 WIB

Wujudkan Lingkungan Sehat, Pemdes Pinggirpapas Turun Langsung Bersih-Bersih

Jumat, 13 Februari 2026 - 08:39 WIB

Budaya Gotong Royong Terjaga, Aparatur Kecamatan Batang-Batang Bersihkan Area Perbatasan

Kamis, 12 Februari 2026 - 16:47 WIB

Tokoh Muda Sumenep Naghfir Sowan ke KHR. Azaim Ibrahimy, Teguhkan Warisan Sanad Keilmuan

Kamis, 12 Februari 2026 - 14:26 WIB

Bayi Terluka Ditemukan di Gang Trunojoyo, Polisi Selidiki Kasus Secara Humanis

Kamis, 12 Februari 2026 - 10:57 WIB

Pengukuhan DEKOPINDA Sumenep Jadi Tonggak Penguatan UMKM dan Ekonomi Pesisir

Kamis, 12 Februari 2026 - 01:25 WIB

Selamat Ulang Tahun Perempuan Inspiratif Jawa Timur

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:30 WIB

Prosedur KRS UNIBA Madura Menuai Keluhan, Mahasiswa Minta Reformasi Administrasi

Rabu, 11 Februari 2026 - 13:45 WIB

Anggaran Bibit Pertanian Sumenep Capai Rp 2,1 Miliar, Poktan Jadi Prioritas

Berita Terbaru