Seminar Nasional SMSI Kupas KEK Madura: Antara Harapan Ekonomi dan Tantangan Ekologi

Kamis, 13 November 2025 - 17:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Kegiatan Seminar Nasional Serikat Media Siber Indonesia (SMS) kabupaten Sumenep di Kampus Universitas Baharudin Mudhary (UNIBA)

Foto. Kegiatan Seminar Nasional Serikat Media Siber Indonesia (SMS) kabupaten Sumenep di Kampus Universitas Baharudin Mudhary (UNIBA)

SUMENEP, nusainsider.com Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep menggelar seminar nasional bertajuk “Green Economy dan Tantangan Ekologis dalam Perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Madura” di Auditorium Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura, Kamis, 13 November 2025.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain pengamat politik sekaligus tim perumus naskah akademik KEK Tembakau Madura, Adi Prayitno, Rektor UNIBA Prof. Rachmat Hidayat, serta anggota DPRD Sumenep, Hairul Anwar.

Dalam pemaparannya, Adi Prayitno menegaskan bahwa gagasan pembentukan KEK Tembakau Madura berangkat dari realitas sosial dan ekonomi masyarakat lokal yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, khususnya tembakau.

Menurutnya, keberadaan KEK diharapkan menjadi jalan baru bagi peningkatan kesejahteraan petani tembakau yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Madura.

“KEK ini inisiatif yang muncul dari kultur dan ekonomi masyarakat Madura. Dengan adanya pabrik rakyat, penghasilan petani bisa meningkat signifikan. Misalnya, harga jual dari Rp2,5 juta bisa naik hingga Rp7 juta,” ujar Adi sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, hasil survei tim perumus menunjukkan mayoritas petani hanya menginginkan dua hal mendasar: hasil panen mereka dibeli dan dihargai dengan nilai yang manusiawi.

“Tembakau bagi masyarakat Madura bukan sekadar komoditas, tapi kebutuhan inti kehidupan. Dari tembakau, orang bisa menyekolahkan anak, membangun rumah, bahkan menikah,” tutur Adi yang juga masih aktif menanam tembakau setiap musim.

Sementara itu, anggota DPRD Sumenep, Hairul Anwar, menyoroti lemahnya regulasi dan penindakan terhadap peredaran rokok ilegal yang dinilainya belum berpihak kepada petani dan pelaku usaha kecil.

Baca Juga :  Perkuat Kepedulian Sosial, 102 Lembaga di Sumenep Terima Dana Hibah

Menurut Hairul, penegakan hukum oleh Bea Cukai seharusnya tidak berhenti pada razia, melainkan juga menghadirkan solusi konkret yang melindungi masyarakat.

“Razia rokok ilegal memang sering dilakukan. Namun negara seharusnya hadir dengan solusi. Misalnya, petugas bisa sekaligus memberikan pita cukai sesuai jumlah rokok yang dibawa,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ketiadaan lembaga penyangga khusus bagi komoditas tembakau yang bisa menjaga stabilitas harga dan serapan hasil panen.

“Kalau beras ada Bulog, cengkeh ada lembaganya. Tapi tembakau siapa yang menanggung? Jangan sampai aturan justru menjerat rakyat sendiri,” kata Hairul.

Legislator tersebut juga menekankan pentingnya peran perusahaan daerah di Madura dalam mendukung pelaku usaha tembakau serta perlunya evaluasi menyeluruh terhadap dasar pembentukan KEK agar benar-benar berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Melalui Peran BUMDES, DPMD Sumenep Dorong Pemdes Maksimalkan Potensi Lokal

Sementara itu, Rektor UNIBA Madura, Prof. Rachmat Hidayat, menilai bahwa isu KEK saat ini menjadi tren di Madura dan Jawa Timur. Menurutnya, hal ini harus disambut positif oleh seluruh masyarakat Madura.

“Isu KEK ini sedang hangat. Karena itu, kita sebagai orang Madura harus mendukung gagasan ini demi kesejahteraan bersama,” terang Prof. Rachmat.

Ia menambahkan, secara teoritis, keberadaan KEK memiliki tujuan yang sangat baik, antara lain mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta mempercepat perkembangan industri dan sektor strategis lainnya.

“Intinya, KEK ini diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura, khususnya para petani tembakau yang selama ini menjadi ujung tombak ekonomi daerah,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, BPS Sumenep Fokus Tingkatkan Kompetensi Petugas Lapangan
RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Gelar Gebyar 3M, Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Pasien
Dari Warisan Budaya Menjadi Produk Kreatif, Reog Ponorogo Bersinar di Edu Kampus School Expo 2026
Konfirmasi Tak Digubris, Sikap Kepala KSOP Kalianget Dinilai Hambat Kerja Jurnalistik
Batik dan Wayang Curi Perhatian Pengunjung Edu Kampus School 2026 di Surabaya
Polwan Sumenep Turun ke Jalan, Pastikan Jamaah Sholat Jumat Aman dan Nyaman
Sidang Terbuka Penerimaan Polri 2026 Digelar, 10 Peserta Sumenep Lanjut ke Rikkes Tahap II
Klaim 75 Persen Tak Cukup, ALARM Minta DPR RI Pastikan Mutu PELRA Kalianget

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 15:20 WIB

Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, BPS Sumenep Fokus Tingkatkan Kompetensi Petugas Lapangan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:54 WIB

RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Gelar Gebyar 3M, Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Pasien

Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:55 WIB

Dari Warisan Budaya Menjadi Produk Kreatif, Reog Ponorogo Bersinar di Edu Kampus School Expo 2026

Jumat, 5 Juni 2026 - 18:09 WIB

Konfirmasi Tak Digubris, Sikap Kepala KSOP Kalianget Dinilai Hambat Kerja Jurnalistik

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:58 WIB

Batik dan Wayang Curi Perhatian Pengunjung Edu Kampus School 2026 di Surabaya

Jumat, 5 Juni 2026 - 01:49 WIB

Sidang Terbuka Penerimaan Polri 2026 Digelar, 10 Peserta Sumenep Lanjut ke Rikkes Tahap II

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:43 WIB

Klaim 75 Persen Tak Cukup, ALARM Minta DPR RI Pastikan Mutu PELRA Kalianget

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:16 WIB

Presiden! KEK Tembakau: Jalan Pulang Ekonomi Madura

Berita Terbaru