Yang Paling Sakit Bukan Kepergian, Melainkan Kebenaran yang Tak Pernah Terucapkan

Rabu, 8 Juli 2026 - 22:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

KOLOM, nusainsider.com Tidak semua luka lahir dari sebuah perpisahan. Ada luka yang justru tumbuh dari kata-kata yang tak pernah diucapkan, dari kejujuran yang dikubur oleh ego, dan dari perasaan yang memilih diam hingga akhirnya terlambat menemukan waktunya.

Banyak orang mengira bahwa yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang memutuskan pergi. Padahal, seiring berjalannya waktu, manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.

Air mata yang dahulu tak berhenti mengalir perlahan mengering. Rindu yang dahulu terasa menyesakkan berubah menjadi kenangan. Luka yang menganga perlahan menjelma bekas yang tak lagi berdarah.

Pada akhirnya, kita akan terbiasa dengan kepergian.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar selesai: kebenaran yang tak pernah terucapkan.

Ia hidup dalam diam. Tidak bersuara, tetapi terus mengetuk hati di setiap malam yang sunyi. Ia hadir seperti surat yang tak pernah dikirim, pelukan yang terlambat diberikan, atau ucapan sederhana seperti “maaf”, “terima kasih”, dan “aku mencintaimu” yang selamanya tertahan di balik bibir.

Betapa sering manusia memilih diam karena mengira waktu akan menjadi penerjemah terbaik bagi perasaannya. Padahal, waktu tidak pernah pandai menjelaskan isi hati. Waktu hanya pandai membawa orang pergi, sementara pikiran dibiarkan berperang sendirian dengan segala kemungkinan yang tak pernah mendapat jawaban.

Ironisnya, dalam banyak kisah, ego justru dianggap sebagai kemenangan. Seseorang merasa berhasil mempertahankan harga dirinya, sementara di sisi lain ada perjuangan yang berhenti di tengah jalan tanpa pernah mengetahui alasan sebenarnya.

Baca Juga :  Reaktivasi Layanan Poli Klinik Ortopedi, RSUDMA Datangkan Dokter Spesialis Baru

Ada cinta yang gugur bukan karena kehilangan rasa, melainkan karena tak ada satu pun yang bersedia menurunkan ego untuk berkata jujur. Di situlah luka sesungguhnya lahir.

Bukan karena seseorang meninggalkan kita, tetapi karena ada begitu banyak kalimat yang tak pernah sampai ke telinganya. Begitu banyak kejujuran yang mati sebelum sempat hidup. Begitu banyak rasa yang tak pernah ia baca karena keduanya sama-sama memilih diam.

Lalu pertanyaan itu terus berulang dalam kepala. Mengapa rasa bisa berubah begitu cepat?

Baca Juga :  Maulid Nabi Muhammad SAW Jadi Momentum Sinergi Santri dan Pemdes Kalowang

Mengapa perubahan itu datang justru ketika sebuah cinta mulai menemukan tujuan awal dari perjalanannya?

Mengapa perjuangan yang begitu panjang harus berhenti tepat sebelum garis akhirnya terlihat?

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban. Dan mungkin memang tidak akan pernah ada.

Sayangnya, hidup tidak menyediakan tombol untuk kembali. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang datang terlambat. Ego yang dulu terasa begitu penting perlahan kehilangan maknanya ketika seseorang telah benar-benar pergi.

Karena sejatinya, ego tidak pernah memenangkan apa pun. Ia hanya menunda kejujuran hingga waktu tak lagi memberi kesempatan.

Maka, selagi masih ada ruang untuk berbicara, jangan biarkan perasaan menjadi tawanan gengsi. Jangan biarkan kebenaran tenggelam hanya karena takut terlihat lemah. Sebab, lidah yang memilih diam hari ini bisa berubah menjadi penyesalan yang berbicara sepanjang sisa usia.

Baca Juga :  Mahasiswa PGSD Unija Gelar Perpisahan Melalui Pentas Seni, Berikut Kemeriahannya

Pada akhirnya, setiap perpisahan akan menemukan damainya sendiri. Waktu akan mengajarkan cara menerima, bahkan terhadap kehilangan yang paling menyakitkan sekalipun.

Namun, kebenaran yang tak pernah terucapkan akan tetap hidup. Ia menjelma gema dalam hati, menemani malam-malam yang sunyi, mengingatkan bahwa pernah ada cinta yang tak sempat diakui, ada maaf yang tak sempat diberikan, dan ada kejujuran yang baru datang ketika segalanya telah terlambat.

Barangkali, itulah luka yang paling abadi.

Bukan tentang seseorang yang memilih pergi, melainkan tentang kata-kata yang memilih tinggal di dalam hati hingga akhir waktu.

Loading

Penulis : Af

Berita Terkait

PT ESM Siap Luncurkan King Djava Reguler, Bidik Filipina hingga Australia
Komitmen Bangun SDM Kepulauan, Medco Energi Gelar Pelatihan Deep Learning untuk Guru Sumenep
Yuddy Chrisnandi Apresiasi Diplomasi Prabowo: Jakarta Tak Lagi Sekadar Tamu, Kini Jadi Tuan Rumah Dunia
FGD “NgomBe” Bahas Masa Depan MBG di Sumenep, Pemkab Dorong Evaluasi Menyeluruh
Pelestarian Keris Dimulai dari Bangku Sekolah, Disbudporapar Sumenep Siap Dukung
Ribuan Warga Semarakkan Festival Tete Masa 2026, Tradisi Menabur Benih Tembakau Jadi Magnet Wisata
Ketika Cinta Kalah oleh Prinsip: Patah Hati yang Menyelamatkan Diri
Reses Ketua Komisi III DPRD Sumenep Dibanjiri Keluhan, Jalan Rusak dan Sampah Jadi Sorotan

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:32 WIB

PT ESM Siap Luncurkan King Djava Reguler, Bidik Filipina hingga Australia

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:32 WIB

Komitmen Bangun SDM Kepulauan, Medco Energi Gelar Pelatihan Deep Learning untuk Guru Sumenep

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:59 WIB

FGD “NgomBe” Bahas Masa Depan MBG di Sumenep, Pemkab Dorong Evaluasi Menyeluruh

Rabu, 8 Juli 2026 - 22:55 WIB

Yang Paling Sakit Bukan Kepergian, Melainkan Kebenaran yang Tak Pernah Terucapkan

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:55 WIB

Pelestarian Keris Dimulai dari Bangku Sekolah, Disbudporapar Sumenep Siap Dukung

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:43 WIB

Ribuan Warga Semarakkan Festival Tete Masa 2026, Tradisi Menabur Benih Tembakau Jadi Magnet Wisata

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:15 WIB

Ketika Cinta Kalah oleh Prinsip: Patah Hati yang Menyelamatkan Diri

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:49 WIB

Reses Ketua Komisi III DPRD Sumenep Dibanjiri Keluhan, Jalan Rusak dan Sampah Jadi Sorotan

Berita Terbaru