YOGYAKARTA, nusainsider.com — Potensi lokal desa tak berhenti sebagai bahan mentah. Melalui kreativitas dan pendampingan berkelanjutan, berbagai tanaman seperti rosela, bunga telang, jahe, kunyit hingga serai diolah menjadi produk bernilai ekonomi oleh Sukga.id.
UMKM binaan Searah Limited tersebut memperkenalkan beragam produk olahan lokal dalam Lokakarya Media 2026 yang digelar SKK Migas Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa) di Hotel Tentrem Yogyakarta, 15-18 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Sukga.id menampilkan sejumlah produk berbasis tanaman, mulai dari teh bunga, olahan rimpang hingga pati.
Produk teh di antaranya menggunakan bahan bunga rosela dan bunga telang. Sementara produk rimpang memanfaatkan bahan lokal seperti jahe, kunyit dan serai.
Brand and Creative Director Sukga.id, Lilik Kusmiatin, mengatakan keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk UMKM binaan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Alhamdulillah kegiatannya luar biasa sekali. Kami berterima kasih kepada teman-teman dan SKK Migas serta Searah karena kami diperkenalkan, sehingga cerita dari desa kami melalui produk-produk ini bisa lebih dikenal,” kata Lilik saat ditemui di lokasi acara, Kamis (17/9/2026).
Tak hanya produk olahan tanaman, Sukga.id juga membawa delapan varian aroma. Pilihannya terdiri atas aroma bunga, seperti sedap malam, rose, lavender dan jasmine.
Ada pula aroma segar seperti lemon mint, eucalyptus, citronella dan lemongrass atau serai.
Produk Sukga.id juga dikemas dalam bentuk hampers dengan menggunakan pelepah pisang. Menariknya, kemasan tersebut dirancang agar bisa dimanfaatkan kembali sebagai kotak tisu setelah produk di dalamnya habis.
Salah satu paket hampers tersebut dibanderol Rp330 ribu. Sementara paket teh telang ditawarkan dengan harga Rp170 ribu.
Menurut Lilik, perkembangan Sukga.id tidak terlepas dari proses pendampingan Searah yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pendampingan tidak hanya menyentuh tahap produksi, tetapi dimulai sejak budidaya bahan baku.
“Mulai dari menanam, mengolah, kemudian menjadikannya produk. Kami juga didampingi untuk legalitas dan mutu,” ujarnya.
Pendampingan tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari hak kekayaan intelektual, sertifikasi halal, perizinan hingga peningkatan standar dan kualitas produk.
Pengembangan juga diarahkan pada inovasi agar UMKM mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.
Bagi Lilik, keberhasilan sebuah program pendampingan tidak cukup hanya diukur dari lahirnya produk baru. Hal yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk mengenali potensi yang ada di lingkungannya dan mengolahnya menjadi sumber ekonomi.
“Kesuksesan dari sebuah pendampingan tidak hanya melahirkan produk, tapi bagaimana masyarakat mengetahui potensi yang dimilikinya, mengolah potensinya, menjaga kualitasnya, dan membuka peluang ekonomi,” katanya.
Dalam proses pengembangannya, Sukga.id juga melibatkan perempuan di desa. Di Desa Suko Mulyo, pengembangan usaha dilakukan bersama ibu-ibu PKK sebagai bagian dari pemberdayaan perempuan sekaligus penguatan ekonomi lokal.
Lilik sapaan akrabnya menegaskan, proses tersebut diharapkan tidak berhenti pada terciptanya sebuah produk. Lebih jauh, pendampingan diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat dalam melihat dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.
“Jadi ini tidak berhenti ketika sudah menciptakan produk. Dampaknya juga pada cara pikir masyarakat dalam mengolah potensi yang dimiliki,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Wafa
















